Foto: BUTUH PERHATIAN. Harga kopra anjlok membuat petani di seluruh wilayah Sulut termasuk di Bolsel menjerit.(Foto.Ist)
Harga Kopra Anjlok, Petani Ancam Tebang Pohon Kelapa
Bolaang Uki, MS
Sulawesi Utara (Sulut) disandera persoalan. Komoditi unggulan Nyiur Melambai yakni kelapa, alami ‘koma’. Menukiknya harga kopra disepanjang tahun 2018, jadi pemicu. Selain memantik kendornya pertumbuhan ekonomi Sulut di kuartal ketiga, efek merosotnya harga kopra mulai membebani petani. Seperti dirasakan petani kelapa di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel).
Reaksi keluh dilontarkan petani kelapa di ujung selatan Bumi Totabuan. Merosotnya harga kopra yang terjadi setiap hari, dinilai mengancam perekonomian masyarakat khususnya keluarga. “Yang pasti dengan harga yang terus mengalami penurunan, akan membuat kami rugi. Karena ongkos panen kelapa justru lebih besar ketimbang harga jual,” terang Hasan Bunsal, warga Desa Popodu, Kecamatan Bolaang Uki, Rabu (14/11).
Dia mengaku, kondisi harga anjlok ini sudah hampir setahun terjadi. Hal itu membuat petani tidak semangat untuk mengolah kelapa, karena yang akan dialami adalah kerugian. Untuk biaya pemanjat per satu pohon kelapa saja sebesar Rp5 ribu. Belum lagi proses lain-lain sampai pemanggangan menjadi kopra. “Banyak kelapa yang sudah bisa dipanen, bahkan karena sudah jatuh tapi terkendala dengan harga yang mencekik leher,” jelasnya.
Ia pun menyarankan kepada petani kelapa lainnya, jika memang tidak terjadi peningkatan harga, lebih baik batang kelapa dipangkas dan dijual. “Karena pohon kelapa banyak dicari untuk diolah menjadi kayu. Lalu kita ganti dengan jenis tanaman yang produktif,” tandasnya.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop), Amstrong Apollo Anes mengaku, akan melakukan komunikasi dengan Dinas Pertanian. Dia berharap, para petani kelapa jangan berlarut-larut dalam kesedihan dengan harga kopra yang tak kunjung naik, melainkan mengembangkan prodak ikutan yang punya nilai jual. “Memang harga dipengaruhi fluktuasi di pasar. Kadang permintaannya banyak harganya juga tinggi, namun jika permintaannya sedikit harganya juga akan turun. Semua tergantung permintaan pabrik,” jelas Amstrong.
Dikatakannya, melihat fenomena saat ini, maka sangat diperlukan untuk membuat prodak ikutan seperti, Virgin Coconut Oil (VCO), briket dan sebagainya. Karena pihaknya juga akan siap untuk ikut memasarkan produk-produk ikutan ini. “Memang sudah seharusnya kita berinovasi agar tidak terjebak dengan harga yang dipengaruhi fluktuasi. Termasuk pasaran untuk tempurung kelapa, serabut kelapa dan sebagainya kita terus perjuangkan,” pungkas dia.
Sebelumnya, ikhtiar mencari jalan keluar persoalan kopra terus didorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut. Salah satu langkah yang dilakukan dengan pengembangan industri kelapa sebagai komoditas unggulan daerah serta penggerak ekonomi dan kesejahteraan rakyat .
Di bawah kepemimpinan Gubernur Olly Dondokambey, pemerintah provinsi terus mengupayakan pengembangan tersebut. Lewat Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Sulut, Pemprov mengumpulkan segenap stake holder dalam pertemuan Sistem Simpul Jaringan Daerah Berbasis Produk Unggulan Daerah. Temanya, ‘Pengembangan klaster kelapa di Sulut dalam rangka palm teaching industrial dan ekowisata sains tekno palma’, di Hotel Ibis Manado, Senin (12/11).
"Sistem simpul jaringan dihadirkan dengan maksud menghasilkan inovasi terlebih mengembangkan klaster inovasi kelapa melalui kolaborasi antar berbagai pihak yakni pemerintah, akademisi, media, perbankan, organisasi pemerintah dan organisasi sosial serta kelompok masyarakat," papar Kepala Balitbangda Sulut, dr Jemmy Lampus MKes.(tim ms)



.jpeg)













































Komentar