SENGIT
Jakarta, MS
Fokus dunia mengarah ke Amerika Serikat (AS). Mulai Selasa (3/11) kemarin, Pemilihan Presiden (Pilpres) di Negeri Adikuasa, berlangsung. Dua calon presiden (capres) bersaing ketat. Adalah Donald Trump dari Partai Republik dan Joe Biden dari Partai Demokrat.
Ketegangan di arena Pilpres AS telah berlangsung sejak awal tahapan pemilihan dimulai. Saling klaim kemenangan ikut memicu tensi kontestasi terakbar di Negeri Paman Sam itu ‘memerah’. Suasana kian tegang dipicu kehadiran hasil polling serta jajak pendapat pilpres.
Seperti dilansir CNN, Senin (2/11), setidaknya ada enam jajak pendapat yang melacak pandangan pemilih secara nasional tentang Pilpres 2020 antara Trump dan Biden. Berdasarkan jajak pendapat NBC/WSJ Biden meraih 52% suara, sedangkan Trump 42%. Lalu dalam Fox News, Biden mendapat 52% suara dan Trump 44%. Kemudian dalam jajak pendapat CNN/SSRS, Biden juga masih unggul dengan 54% dan Trump meraih 42%.
Selanjutnya menurut jajak pendapat IPSOS/Reuters, Biden masih unggul 52% suara dan Trump meraih 42%. Quinnipiac University juga menyajikan hasil jajak pendapat, yakni Biden meraih 51% dan Trump 41%. Sedangkan dalam jajak pendapat New York Times/Siena College, Biden meraih 50% dan Trump 41% suara. Proses survei atau jajak pendapat ini dilakukan selama bulan Oktober lalu.
Penting untuk diingat bahwa di AS presiden dipilih oleh electoral college, bukan oleh suara populer dan jajak pendapat nasional hanya dapat mendekati suara populer.
Terkait jajak pendapat tersebut, Donald Trump menyebut itu ‘survei palsu’. Dalam kampanyenya, Trump mengomentari sejumlah polling yang menunjukkan dirinya kalah unggul dari Biden. "Saya mengamati polling-polling palsu ini," sebut Trump di hadapan pendukungnya.
"Lagipula kita akan menang," ucap Trump meyakinkan para pendukungnya.
Di hadapan pendukungnya, Trump berupaya membangkitkan semangat kemenangan mengejutkan yang didapatkannya saat berhadapan dengan capres Partai Demokrat, Hillary Clinton, dalam Pilpres 2016. Saat itu, kebanyakan polling mengunggulkan Hillary namun ternyata Trump yang memenangkan pilpres. "Anda memilih orang luar sebagai Presiden yang akhirnya menempatkan Amerika sebagai yang terutama," cetusnya. "Keluar dan memilihlah, itu saja yang saya minta," ucap Trump mengimbau para pendukungnya untuk memberikan suara.
Untuk diiketahui, selain memilih presiden baru, warga juga akan memilih sejumlah jabatan untuk level federal, negara bagian, dan lokal. Seperti dilansir Associated Press, Selasa (3/11), orang-orang tampak mulai mengantre sejak Selasa (3/11) pagi waktu AS, atau Selasa (3/11) petang waktu Indonesia Bagian Barat (WIB).
Laporan AFP menyebut bahwa tempat pemungutan suara baru akan dibuka pukul 06.00 waktu AS untuk sejumlah wilayah di pantai timur AS, seperti New York, New Jersey, Virginia, Connecticut dan Maine. Antrean pemilih sudah terlihat di beberapa tempat pemungutan suara di Fairfax, Virginia dan di New York. Dua kota kecil di wilayah New Hampshire telah memulai pemungutan suara untuk pilpres sesaat usai tengah malam. Pemungutan suara di kota Dixville Notch dan Millsfield telah selesai. Hasilnya Joe Biden, meraup seluruh lima suara yang ada di kota Dixville Notch, yang terletak dekat perbatasan Kanada tersebut. Sedangkan di kota Millsfield, capres petahana Donald Trump unggul dengan 16 suara sementara Biden meraih lima suara. Diyakini Trump dan Biden akan bertarung sengit untuk memperebutkan kursi Gedung Putih.
TRUMP OPTIMIS
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menegaskan bahwa dirinya akan menyatakan menang pemilihan presiden (pilpres) ‘hanya saat ada kemenangan’. Seperti dilansir CNN, Selasa (3/11), penegasan itu disampaikan Trump dalam wawancara terbaru dengan program acara Fox News ‘Fox & Friends’ pada Selasa (3/11) pagi waktu AS.
Dalam wawancara itu, Trump juga menyatakan dirinya tidak ingin bermain-main saat menyatakan kemenangan dalam pilpres. Dia meyakini dirinya punya peluang solid untuk menang dalam pilpres tahun ini.
"Tidak ada alasan untuk bermain-main. Saya melihatnya sebagai peluang yang sangat, sangat solid untuk menang di sini. Saya tidak tahu bagaimana mereka menilai peluangnya," ucap Trump dalam wawancara via telepon itu.
"Saya pikir banyak dari itu ada kaitannya dengan jumlah penonton yang luar biasa," sambung dia.
Lebih lanjut, Trump menuturkan dirinya akan menghubungi orang-orang yang ‘sangat setia’ padanya pada hari pemungutan suara nasional dan akan mengunjungi markas tim kampanyenya. "Sungguh perjalanan yang bagus, tiga minggu yang luar biasa," sebut Trump soal tur kampanyenya yang terakhir sebelum pilpres. Dia menyebut tur kampanye itu ‘emosional’ karena mengetahui itu menjadi saat terakhirnya sebagai seorang capres AS.
BIDEN JANJIKAN ‘HARI BARU’
Capres AS Joe Biden tak mau ketinggalan dengan rivalnya Donald Trump. Berbagai upaya dilakukan Biden untuk menggaet simpati pendukungnya.
Saat mengakhiri kampanyenya di Pennsylvania pada Senin (2/11) malam waktu setempat, Biden yang unggul dalam sejumlah polling pilpres ini menjanjikan ‘awal hari yang baru’ kepada para pendukungnya.
Selasa (3/11), Biden kembali berkampanye di negara bagian swing states yang krusial, termasuk Pennsylvania, menjelang pemungutan suara secara nasional pada 3 November waktu AS. Di hadapan pendukungnya, Biden berjanji akan menyatukan AS yang dilanda krisis jika memenangi pilpres tahun ini. "Besok adalah awal dari hari yang baru," ucap Biden kepada ratusan pendukungnya, dalam kampanye bergaya drive-in yang mematuhi aturan social distancing di tengah pandemi virus Corona (COVID-19). Kampanye dengan gaya semacam ini menjadi ciri khas Biden selama sepekan menjelang pilpres.
"Kekuatan untuk mengubah negara ini ada di tangan Anda," tegasnya.
Rangkaian kampanye terakhir Biden menampilkan penyajian yang inovatif, dengan tayangan secara virtual menampilkan Biden di Pittsburgh dan calon wakil presiden (cawapres) Kamala Harris di Philadelphia, keduanya berkampanye secara terpisah namun disatukan secara digital dalam satu acara.
Istri Biden yang turut tampil bersama suaminya di Pittsburgh, juga sempat menyampaikan pidatonya. "Apakah kalian siap memberitahu Donald Trump, ‘Anda dipecat’?" ucap Jill dalam pidatonya.
Harris yang berkampanye di Philadelphia menyerukan warga AS untuk menggunakan hak pilihnya dalam pilpres tahun ini. "Kita semua tahu, dari waktu pemungutan suara dibuka besok pagi hingga ditutup, setiap menitnya berharga. Jadi kita tidak bisa menyerah, karena ini belum berakhir sampai benar-benar selesai," ucapnya.
Dalam kampanye terakhir sebelum pilpres, Biden kembali membahas kegagalan Trump dalam menangani pandemi Corona. Sebelum berkampanye di Pittsburgh, Pennsylvania, Biden sempat berkampanye ke Cleveland, Ohio. Di sana, Biden menyerukan kepada para pendukungnya bahwa inilah saatnya mengakhiri ‘kekacauan’ yang dipicu Trump selama menjabat. "Inilah saatnya bagi Donald Trump untuk mengemasi tasnya dan pulang," cetus Biden di hadapan pendukungnya di Cleveland, seperti dilansir AFP. "Kita sudah muak dengan kekacauan! Kita muak dengan cuitan, kemarahan, kebencian, kegagalan dan sikap tidak bertanggung jawab," tegasnya.
Biden diketahui unggul dalam sejumlah polling terbaru, dengan laporan CNN sebelumnya menyebut Biden rata-rata meraih 50 persen suara lebih dalam enam polling atau jajak pendapat terbaru. Biden juga dilaporkan memiliki keuntungan kecil di seluruh swing states dan bahkan mengancam posisi Trump di negara bagian yang menjadi markas kuat Partai Republik, seperti Georgia dan Texas.
Ada dua alasan yang mendasari Biden mengakhiri kampanye di Pennsylvania. Pertama, karena 20 suara elektoral (electoral vote) yang dimiliki Pennsylvania menjadi dukungan penting yang -- jika pilpres berlangsung ketat saat suara dihitung -- dapat menjadi penentu kemenangan. Alasan kedua adalah kebanyakan warga Pennsylvania akan memberikan suara secara langsung pada Selasa (3/11) waktu setempat, tidak seperti swing states lainnya yang kebanyakan warganya telah menggunakan hak pilih lebih awal.
MIKE PENCE SETIA DAMPINGI TRUMP, BIDEN PILIH KAMALA HARRIS
Kesetiaan Mike Pence patut diapresiasi. Dalam Pilpres AS tahun 2020 ini, Pence kembali mendampingi Capres Donald Trump. Mereka akan bertarung melawan penantang Joe Biden dan Kamala Harris.
Mike Pence lahir Columbus, Indiana 7 Juni 1959. Dia memiliki nama lengkap Michael Richard Pence. Pence merupakan anak dari pasangan Edward dan Nancy Pence. Melansir situs resmi Gedung Putih, Pence memperoleh gelar sarjana dari Hanover College dalam bidang Sejarah pada 1981. Karier politiknya mulai bersinar pada tahun 2000. Saat itu Pence mendapatkan kursi Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat, mewakili Indiana. Untuk memenuhi prinsip-prinsip konservatifnya, Pence bersedia menentang partainya sendiri. Salah satunya adalah penentangan terhadap Undang-Undang No Child Left Behind dari pemerintahan Bush. Sikap konservatif garis keras ini membantunya memenangkan pemilihan kembali di Indiana sebanyak lima kali dari 2001 hingga 2013.
Pada 2013, Pence terpilih sebagai Gubernur Indiana ke-50. Selama menjabat, Pence memberlakukan pemotongan pajak pendapatan terbesar dalam sejarah Indiana dengan menurunkan tarif pajak pendapatan individu, pajak properti pribadi bisnis, dan pajak pendapatan perusahaan. Kesuksesan Pence di legislatif dan eksekutif menarik perhatian Trump. Pence diajak menemani Trump pada pemilihan presiden periode 2016-2020. Keduanya terpilih sebagai pemimpin AS pada 8 November 2016 dan mulai menjabat pada 20 Januari 2017.
Seperti halnya Trump, Pence menentang amnesti bagi penduduk yang tidak berdokumen, mendukung peningkatan keamanan perbatasan, dan menginginkan penegakan hukum yang ketat untuk mencegah imigran tidak berdokumen bekerja di AS. Mike Pence adalah sosok ketenangan bagi ‘badai’ yang dibawa oleh Presiden Donald Trump.
Sementara itu, Kamala Harris merupakan Cawapres mendampingi Joe Biden. Ambisi politiknya hampir pupus ketika dia memutuskan mundur dari konvensi Partai Demokrat akibat kemampuan finansial tidak mendukung. Mereka berhadapan dengan pasangan dari Partai Republik, Donald Trump dan Mike Pence untuk menduduki kursi kepemimpinan di Gedung Putih. Sebelumnya, Harris mundur pencalonannya sebagai bakal calon presiden AS pada 3 Desember 2019 karena tidak memiliki sumber keuangan untuk melanjutkan pencalonannya. Kamala Devi Harris lahir dari ayah keturunan Jamaika dan ibu keturunan India.
Setelah memperoleh gelar sarjana di bidang Ilmu Politik dan Ekonomi dari Howard University pada 1981 dan gelar hukum dari Sekolah Tinggi Hukum Hastings, University of California pada 1989. Harris memulai karier di Kantor Kejaksaan Distrik Alameda County. Perempuan kelahiran 20 Oktober 1964 itu tercatat sebagai perempuan keturunan India-Amerika pertama yang maju sebagai calon wakil presiden AS. Tapi Harris yang ditunjuk oleh Biden sebagai pasangannya pada 11 Agustus bukanlah perempuan pertama yang maju sebagai calon wakil presiden AS, melainkan terdapat tiga perempuan lainnya yakni Tonie Nathan, Geraldine Ferraro, dan Sarah Palin.
Harris dikenal sebagai salah satu penentang vokal kebijakan pemerintahan Donald Trump, salah satunya mengenai cara Trump dalam menangani pandemi virus corona.
ANCAMAN COVID-19, WARGA AS DIINGATKAN WASPADA
Pilpres AS berlangsung di tengah pandemi Covid-19. Untuk itu, warga negeri Paman Sam diminta untuk berhati-hati.
Demikian Komisioner Komisi Pemilihan Federal Amerika Serikat Ellen Weintraub. Ia mendesak para pemilih untuk tetap menjaga diri saat memberikan suara selama pandemi virus Corona. Dia juga mengimbau pemilih agar mendapatkan informasi pemilihan hanya dari sumber terpercaya.
"Berhati-hatilah. Kenakan masker Anda. Tapi dengan segala cara, jika Anda belum memilih, silakan lakukan voting," katanya, Selasa (3/11).
"Kita ingin memiliki demokrasi yang benar-benar kuat dan bersemangat di mana suara setiap warga negara penting. Jadi, tolong, jika Anda belum memberikan suara, tetaplah menjaga diri tapi tolong berikan suara."
Saat pemilih menemukan informasi di internet, Weintraub mengingatkan pemilih untuk mempertimbangkan sumbernya. "Hanya karena seorang pria di internet mengatakan sesuatu tidak membuatnya benar. Pastikan itu sumber yang terpercaya sebelum Anda percaya dan membagikannya," katanya.
Sumber terpercaya yang dia rekomendasikan, termasuk: dewan pemilihan, kantor-kantor pejabat negara bagian, dan Vote.org, yang akan memberi pemilih tautan ke situs web pejabat pemilu lokal mereka.
Dia juga mendesak para pemilih untuk memeriksa TPS mereka dan jam berapa dimulai sebelum keluar rumah untuk memberikan suara mereka.
"Banyak TPS pindah tahun ini. Saya tahu saya telah memberikan suara di tempat yang sama selama 30 tahun, tetapi tahun ini TPS saya pindah. Jadi berhati-hatilah," tambahnya.(dtc/cnn)













































Komentar