CAPRES KEPALA DAERAH ‘UNJUK GIGI’
Jakarta, MS
Bursa calon presiden (capres) 2024 menggoyang konstelasi politik tanah air. Teranyar, sejumlah lembaga survei mencatat elektabilitas figur dari klaster kepala daerah melesat. Sosok seperti Ganjar Pranowo, Anies Baswedan hingga Ridwan Kamil disebut-sebut jadi ancaman serius.
Peta pertarungan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 memang kian ramai diterawang. Sebelumnya ada tiga klaster yang diprediksi kuat muncul yakni klaster kepala daerah yang sukses memimpin, kader partai politik yang mempunyai kekuatan politik dan pengaruh politik yang tinggi, serta dari kalangan profesional yang mempunyai modal sosial dan finansial kuat.
Hasil survei Spektrum Politika Institute sendiri menunjukkan bahwa kepala daerah merupakan latar belakang yang dinilai lebih cocok untuk menjadi presiden pada 2024 mendatang. Bahkan dianggap lebih baik dibandingkan capres dengan latar belakang militer atau ketua umum partai politik.
Berdasarkan survei Spektrum Politika Institute, sebanyak 27 persen responden menilai bahwa kepala daerah cocok menjadi presiden. Sementara responden yang menilai militer lebih cocok menjadi presiden hanya 26 persen. "Kepala daerah 27 persen. Militer, TNI, atau Polri 26 persen," demikian hasil survei Spektrum Politika Institute dilansir dalam dokumen yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (19/8).
Selanjutnya, di peringkat ketiga, latar belakang yang cocok jadi presiden 2024 ditempati akademisi atau intelektual dengan 10,2 persen. Kemudian di bawahnya ada tokoh agama 8,1 persen, pengusaha 6,4 persen, ketum parpol 4,8 persen, menteri 4,7 peren, tokoh ormas 4,2 persen, dan anggota legislatif 1 persen.
Spektrum Politika Institute menyatakan bahwa hasil ini sejalan dengan hasil survei elektabilitas calon yang menempatkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, serta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di posisi tiga besar capres dengan elektabilitas tertinggi. "Hasil ini kongruen dengan elektabilitas calon presiden yang mendudukkan Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto dan Anies Baswedan di top three," demikian menurut Spektrum Politika Institute.
Untuk diketahui, survei Spektrum Politika Institute melibatkan 1.240 sampel yang tersebar di 34 provinsi. Metode yang digunakan dalam survei ini ialah wawancara secara langsung dengan margin of error sebesar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Hasil survei Spektrum Politika Institute ini hampir sama dengan hasil survei Arus Survei Indonesia pada Juli 2021 silam. Mayoritas pakar atau pembentuk opini publik ingin agar presiden 2024 mendatang berasal dari klaster kepala daerah. Hasil tersebut didapat dari lembaga Arus Survei Indonesia terhadap 130 pakar atau pembentuk opini publik 23 figur dari delapan klaster.
Dalam survei ini, Arus Survei Indonesia menggunakan metode uji kelayakan figur melalui tiga tingkatan yaitu meta-analisis, focus group discussion, dan penilaian terhadap figur terseleksi. Pengambilan sampel para pakar dan pembentuk opini publik dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling.
"Kepala daerah 49,6 persen, akademisi teknokrat 16,2
persen, partai politik 15 persen, TNI 6,3 persen, pengusaha 5,5 persen, menteri
3,9 persen, tokoh agama 2,4 persen, dan polisi 1,1 persen," kata Direktur
Eksekutif Arus Survei Indonesia Ali Rif’an.
GANJAR DAN ANIES DI ‘ATAS ANGIN’
Sejumlah kepala daerah memang banyak disorot dalam survei akhir-akhir ini. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan masuk dalam tiga besar elektabilitas. Lalu ada Gubernur Jabar Ridwan Kamil.
Dalam survei nasional evaluasi kebijakan dan peta politik masa pandemi Charta Politika merilis survei terbaru, menempatkan Ganjar Pranowo di posisi teratas dengan elektabilitas 20,6 persen dan diikuti Anies di posisi kedua dengan 17,8 persen, Prabowo Subianto berada di posisi ketiga, sedikit di bawah Anies, dengan 17,5 persen.
Sementara, posisi Puan Maharani calon lain yang kemungkinan diusung PDI Perjuangan berada di bawah Ganjar yang berada di posisi ke-9 dengan 1,4 persen. "Salah satu kluster yang menjadi sorotan untuk tokoh capres saat ini bukan lagi dari Ketua Umum Partai melainkan dari sosok kepala daerah. Yang paling banyak mendapat simpati saat ini adalah Ganjar dan Anies," kata Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia Jakarta Ujang Komarudin.
Ia menyebutkan keduanya memiliki background yang kurang lebih sama dan dianggap bisa mewakili masyarakat saat ini yang tengah menghadapi masalah ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, kesehatan, serta pola birokrasi."Keduanya dianggap bisa mewakili suara masyarakat saat ini dan memperoleh hasil survei yang baik. Dua-duanya sama-sama aktivis, sama-sama dari UGM, dan punya program serta output yang kongkrit dibandingkan nama-nama kandidat lainnya dalam hasil survei elektabilitas," jelas Ujang Komarudin.
Ujang Komarudin yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) menyebutkan keduanya belum resmi dipilih oleh partai politik. Kendaraan Ganjar memang dari PDI Perjuangan, namun partai kepala banteng moncong putih ini belum resmi menunjuk. Sementara Anies tidak memiliki kendaraan politik.
Ia menyebutkan peta perjalanan menuju Pilpres 2024 sebenarnya sudah akan dimulai pada tahun depan 2022 . Dimana sejak 20 bulan sebelum dilaksanakan Pilpres partai politik sudah mulai bergerak untuk mencari kandidat terbaik yang diusung partainya. "Politik menuju Pilpres 2024 itu tidak lama, semua akan cepat dan dinamis, apalagi incumbent tidak bisa berpartisipasi kembali dalam Pemilu 2024. Apalagi beberapa waktu terakhir partai politik sudah mulai bergerak memperkenalkan sosok pimpinan partai mereka masing-masing," ungkap Ujang Komarudin.
JEJAK JOKOWI
Capres berlatar belakang kepala daerah memang tak bisa dianggap remeh di panggung Pilpres. Itu menyusul sukses Joko Widodo (Jokowi) menjadi presiden dua periode.
"Kita tahu bahwa selama ini tren kita, berangkat dari Pak Jokowi. Menurut saya tren ke depan itu pemimpin atau capres cawapres itu merupakan tokoh yang lahir atau dibesarkan melalui kontestasi pemilihan kepala daerah," kata Direktur Eksekutif Surveylink Indonesia (Sulindo) Wempy Hadir dalam diskusi virtual belum lama ini.
Wempy menilai para tokoh capres cawapres itu bisa berasal dari wali kota, bupati maupun gubernur atau wakil gubernur. Ia berkaca pada sepak terjang Presiden Jokowi yang juga memulai karier politiknya dari menjadi Wali Kota Solo.
"Kemudian dia menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan bukan tidak mungkin saya kira, hal yang sama juga akan terjadi pada Pilpres yang akan datang (2024, red)," jelasnya.
Klaster kedua yang menurutnya bakal menjadi capres dan cawapres berasal dari kader partai politik. Namun, kader partai itu juga mereka yang memiliki kekuatan politik dan pengaruh politik yang tinggi. Ia tak memungkiri bahwa kontestasi politik dalam Pilpres ke depan juga tetap melibatkan para kader partai politik.
"Oleh karena itu menurut saya, kader-kader partai politik yang saat ini tidak dalam pemerintahan sebagai kepala daerah, punya peluang yang sama untuk menjadi calon presiden atau calon wakil presiden akan datang," ungkap dia.
Selanjutnya, pada klaster ketiga bakal capres dan cawapres berasal dari kalangan profesional yang mempunyai modal sosial serta finansial yang kuat. Wempy memberikan contoh yaitu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang justru tidak berasal dari kader partai politik, tetapi mampu memenangkan kontestasi Pilkada.
Menurut dia, hal itu terjadi karena Anies memiliki modal
sosial yang kemudian dilirik oleh partai politik pengusungnya saat Pilkada DKI
Jakarta. "Juga hal yang sama dialami oleh Pak Ridwan Kamil di Jawa Barat.
Dia bukan kader parpol, dia kepala daerah. Karena punya modal sosial yang kuat,
kemudian direkomendasikan oleh partai pengusungnya untuk menjadi Gubernur Jawa
Barat," kata Wempy.
SURVEI BUKAN PENENTU
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menyebutkan sifat survei elektabilitas masih amat dinamis. Alasannya, Pemilu Presiden masih cukup lama yakni pada 2024.
"Survei sifatnya dinamis, bisa saja berubah, bila dulu nama Prabowo Subianto paling unggul sekarang justru Ganjar dan Anies berada di posisi terdepan dari segi keterpilihan (elektabilitas)," jelas Adi Prayitno.
Pengamat Politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini menilai nama Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan memang merupakan dua kutub yang saling bersaingan satu dengan lainnya. "Apalagi mereka memiliki dua kutub berseberangan. Anies kemungkinan besar didukung partai oposisi sedangkan Ganjar didukung partai pendukung pemerintah saat ini," ungkapnya.
Hal inilah, kata Adi Prayitno yang membuat persepsi publik terhadap kandidat terkuat Capres di 2024 terkunci pada kedua sosok Gubernur tersebut. "Ini membuat survei menempatkan keduanya tertinggi. Pemberitaan di media menempatkan Ganjar dan Anies selalu di spotlight paling sering. Untuk kandidat lainnya ada, tapi yang mendominasi tetap Ganjar dan Anies," jelas Adi Prayitno.
"Kemungkinan bisa ada empat paslon (Capres-Cawapres). PDI Perjuangan bisa mengusung sendiri. Namun jumlah poros Parpol bisa hanya dua Paslon apabila tidak ada jagoan figur dan logistik yang dominan," ungkap Adi Prayitno.
Sedangkan Pengamat Komunikasi Politik, Emrus Sihombing menyebutkan kedua kandidat memiliki peluang cukup besar apabila dilihat dari statistik kuantitatif. "Ada ketakutan partai politik apabila tidak mengusung calon dengan elektabilitas tertinggi maka perolehan suara partai akan rendah," kata Emrus Sihombing.
Saat ini, publik sedang menilai prestasi dan kinerja keduanya (Ganjar dan Anies) dalam menjalankan tugasnya sebagai kepala daerah di wilayahnya masing-masing. "Jadi meskipun Ganjar Pranowo paling tinggi elektabilitasnya dalam sejumlah survei, kemudian Anies juga perolehan suaranya tinggi, namun keduanya harus menjalankan tugasnya dengan baik dalam menghadapi pandemi Covid-19," kata Emrus.
Ia menyebutkan, sosok pemimpin daerah khusus gubernur
memiliki kans baik di Pilpres. Hal ini seperti terlihat pada Presiden Jokowi di
2014. "Sebaiknya setiap partai politik memiliki kader terbaiknya sejak
dini sehingga masyarakat dapat menilai rekam jejaknya dalam menjalankan tugas
secara leluasa dan tidak mengumumkan di menit-menit terakhir," jelas Emrus
Sihombing.(cnn/mdk)












































Komentar