ISIS Serukan Serang Arab Saudi


ISLAMIC State in Iraq and Syria atau Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), kembali tebar teror. Tak tanggung-tanggung, kelompok militan ekstremis menyerukan untuk menyerang Arab Saudi.

Itu menyusul sinyalemen Kerajaan Arab Saudi untuk membuka hubungan dengan Israel. Alhasil, ISIS pun meminta  pendukung kelompok militan untuk menargetkan orang Barat, dan fasilitas infrastruktur dan ekonomi yang menjadi sumber pendapatan pemerintah Arab Saudi.

"Targetnya banyak. Mulailah dengan menghancurkan pipa minyak, pabrik dan fasilitas yang menjadi sumber (pendapatan) pemerintah tiran," kata Juru Bicara ISIS Abu Hamza al-Muhajir dalam rekaman pidatonya melalui saluran telegram resmi kelompok militan yang dikutip di Reuters, Senin (19/10). 

Al-Muhajir mengatakan, kerajaan Arab Saudi telah mendukung normalisasi dengan Israel dengan membuka wilayah udaranya untuk penerbangan Israel ke negara-negara Teluk tetangga. 

Kesepakatan Arab Saudi dengan negara Yahudi yang ditandatangani pada bulan lalu itu disebut sebagai pengkhianatan terhadap Islam.

Ia pun mendesak pejuang ISIS untuk melakukan serangan anti-Barat di negara dengan berbagai situs tersuci bagi umat Islam tersebut.

Diketahui, hingga saat ini Arab Saudi diketahui belum menormalisasi hubungan dengan Israel tetapi dilaporkan bekerja di belakang layar dan memberikan desakan kepada UEA dan Bahrain untuk mencapai kesepakatan masing-masing dengan negara Yahudi tersebut.

Sebelumnya, dalam rekaman terakhir ISIS yang dipublikasikan pada Januari lalu, juru bicara ISIS menyerukan serangan terhadap target Yahudi untuk melawan proposal perdamaian Presiden AS Donald Trump untuk Timur Tengah, yang dipresentasikan beberapa hari kemudian.  

Ancaman ISIS mulai muncul saat Bahrain memutuskan mengikuti Uni Emirat Arab untuk menyetujui kerjasama normalisasi hubungan dengan Israel. Arab Saudi, yang diketahui sebagai negara pengekspor minyak terbesar di dunia, telah menekankan perlunya meningkatkan upaya untuk mencapai kesepakatan perdamaian yang langgeng dan berkelanjutan antara Palestina dan Israel.

Diketahui, ISIS telah menyerbu sebagian besar Suriah dan negara tetangga Irak pada 2014. Mereka memproklamasikan "kekhalifahan" di tanah yang dikuasainya. Sejak itu, beberapa serangan militer, termasuk yang didukung oleh koalisi internasional pimpinan AS, telah menyebabkan ISIS kehilangan sebagian besar wilayah yang pernah dikuasainya.

Hal itu juga menyebabkan hilangnya ibu kota de facto mereka, Raqqa, di Suriah. Meski kehilangan kekhalifahan fisik, ribuan pejuang ISIS tetap berada di Irak dan Suriah. Kelompok tersebut masih terus melancarkan serangannya.(rpk)


Komentar