Foto: John Palandung
Status Karangetang Belum Diturunkan, Pengungsi Mulai Khawatir
POTENSI erupsi Gunung Karangetang masih berpeluang terjadi. Tingginya aktifitas vulkanik ‘Api Siau’, masih terdeteksi. Itu membuat status level III atau siaga, masih bertahan.
Di sisi lain, aura kekhawatiran mulai terpancar dari 132 jiwa warga Kampung Batubulan, Kecamatan Siau Barat Utara (Sibarut). Sekira 34 Kepala Keluarga (KK) yang bermukim di Shelter Perum Kelurahan Paseng Kecamatan Siau Barat itu, mulai mengeluhkan kondisi perekonomian mereka.
Meski mendapatkan perhatian dari banyak pihak, namun masyarakat Kampung Batubulan yang ada di pengungsian rindu bekerja sehingga memiliki penghasilan sendiri. "Selama di pengungsian kita tidak memiliki penghasilan. Kami berharap kondisi dapat secepatnya membaik," terang Petrus Luas, salah satu pengungsi yang berprofesi sebagai nelayan.
Hal senada disampaikan Lili Pangulimang. Ia mengaku khawatir dengan hasil kebun dan ternaknya yang ditinggalkan. "Belum lagi rumah kami dibiarkan kosong. Ini menjadi beban pikiran," katanya.
Sementara itu, Didi Wahyudi, petugas pengamanan Gunung Api Karangetang mengatakan, hingga saat ini Karangetang masih berstatus level III (Siaga). "Aktivitas gunung juga masih tinggi. Sebab dari pengamatan, guguran lava dan hembusan asap terus terjadi. Sehingga kita tetap merekomendasikan warga yang tinggal di sekitaran Kali Malebuhe dan Batuare, belum bisa kembali ke rumah," jelasnya.
Warga juga dilarang beraktivitas pada radius 2,4 Kilometer (Km) dari kawah Utara dan kawah Selatan. “Serta area perluasan sektoran dari kawah dua ke arah Barat, Barat Laut, sejauh 3 Km dan ke arah Barat Laut Utara sejauh 4 Km," kuncinya.
Informasi terkini, kurang lebih 3 Km jalan Nameng-Batubulan mulai dirintis pasca erupsi Gunung Karangetang, beberapa waktu lalu. Dijelaskan Plt Kepala BPBD Sitaro, Bob Wuaten ST, perintisan jalan ini untuk membuka akses ke Kampung Batubulan di Kecamatan Sibarut akibat terisolasi karena erupsi Gunung Karangetang. "Sekarang kita tengah dalam mobilisasi. Baik pekerja maupun peralatan. Tahapan perintisan sudah berjalan," tuturnya.
Wuaten mengatakan, perintisan jalan tersebut ditargetkan selesai dalam waktu 90 hari. "Intinya diupayakan kendaraan roda dua dapat melintas. Untuk anggaran, dari perhitungan akan memakan 8 miliar rupiah. Saat ini kita hanya memiliki 4 miliar rupiah, sisanya diupayakan pemkab melalui bantuan, sebab ini merupakan prioritas untuk membuka akses," tambahnya.
Sementara itu, Komandan Komando Tanggap Darurat, Drs John Palandung MSi mengatakan, pihaknya telah membawa mesin pembangkit listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) bertenaga 25 KVA, untuk memberikan pelayanan pada masyarakat di Kampung Batubulan. "Mesin pembangkit listrik dari PLN bertenaga 25 KVA sudah sampai ke Batubulan dan sekarang ini dalam tahap penyetelan. Jadi, untuk awal ini kita memenuhi ketersediaan listrik terlebih dahulu untuk warga Batubulan," beber Palandung.
Pengungsi yang di Shelter Perum Paseng, lanjutnya, belum ada pemulangan karena ini mengacu pada pos pengamat gunung berapi. “Statusnya masih sama. Sekarang erupsi berlangsung fluktuatif sehingga masih berpotensi membahayakan, terutama mereka yang bermukim di Dusun Beba. Untuk status tanggap darurat berlaku hingga 26 Februari. Nantinya setelah ini kita akan mengkaji ulang sesuai dengan kondisi yang ada," kunci Palandung.(haman)














































Komentar