PARPOL DAPAT JATAH, VAKSINASI RAWAN DIPOLITISIR
Jakarta, MS
Gerak penanganan wabah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) tuai sorotan. Alokasi vaksin untuk partai politik (parpol) jadi salah satu topik yang marak dipergunjingkan akhir-akhir ini. Menyeruak kekhawatiran soal potensi politisasi di balik program vaksinasi.
Informasi yang dirangkum, gudang vaksin di
sejumlah daerah mencatat ada jatah untuk parpol, ormas, TNI, Polri, dan
kelompok masyarakat lain di luar jatah untuk pemda. Khusus untuk aksi parpol
dalam pelaksanaan vaksinasi massal Covid-19 memang marak diberitakan beberapa
waktu terakhir ini. Secara umum kegiatan itu dinilai positif karena membantu
pemerintah dalam upaya membentuk herd immunnity atau kekebalan secara
berkelompok.
Namun, jatah vaksinasi untuk parpol di sisi lain
dipandang dapat juga disalahgunakan untuk kepentingan politik kelompok
tertentu. Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin mencium
ada motif lain dari parpok, selain aksi peduli kepada publik.
“Jika ada partai yang peduli tentu kita mesti
apresiasi walaupun memang ujung semua itu adalah persoalan elektoral karena
partai politik butuh suara rakyat, maka tentunya harus peduli dan membantu
rakyat," kata Ujang.
Vaksinasi massal disebutnya adalah sebagai upaya
parpol untuk menarik simpati publik. Dan kebetulan aksi parpol ini sejalan
dengan kebutuhan riil masyarakat saat ini.
"Memang ada timbal balik dalam vaksinasi
ini, parpol butuh simpati publik untuk pemilu 2024 dan warga memang membutuhkan
vaksin COVID-19 secara gratis," katanya lagi.
MOTIF ELEKTORAL UNTUK 2024
Aksi vaksinasi oleh parpol dinilai sudah
sepantasnya dilakukan. Parpol punya tanggung jawab untuk berperan aktif dalam
penanganan pandemi, termasuk dalam program vaksinasi.
“Dasarnya upaya mempercepat sebaran vaksinasi itu
baik, bagian dari upaya pencegahan sebaran virus. Persoalan parpol atau
siapapun yang menyelenggarakan, tidak menjadi masalah selama peserta vaksinasi
adalah masyarakat yang memang diprioritaskan," kata Ahli Komunikasi
Politik Universitas Telkom Dedi Kurnia Syah.
Namun Dedi tidak memungkiri akan ada nilai plus
jika parpol menggelar vaksinasi massal. Di sisi lain, parpol bisa saja mencari
untung dengan menarik perhatian Jokowi selaku presiden dengan mendukung program
vaksinasi. Hal ini sebenarnya sudah dilakukan Partai Golkar yang sudah menjadi
bagian koalisi.
Namun, dia mengingatkan vaksinasi bisa saja tidak
meningkatkan elektabilitas parpol secara signifikan. Dia beralasan,
elektabilitas parpol bisa naik karena faktor kolektivitas, mulai dari ketokohan
kader, hingga rekam jejak dalam rentang waktu panjang.
Oleh karena itu, kata Dedi, aksi vaksinasi massal
yang dilakukan parpol bisa saja mengarah kepada pemilu 2024, tetapi tetap saja
penanganan pemilu 2024 memerlukan program jangka panjang di luar vaksinasi.
“Motif elektoral untuk 2024 pasti ada, meskipun
menjaga simpati publik hari ini sampai 2024 juga pekerjaan sulit, untuk itu
vaksinasi saja tidak akan cukup kuat meningkatkan elektabilitas, harus ada
agenda lain yang berkesinambungan. Di luar soal menjaga nama baik parpol, tidak
ada kader tersangkut skandal korupsi, dan kegagalan kinerja kader di
pemerintah," kata Dedi.
PEMERINTAH BUTUH PARPOL
Upaya penanganan Covid-19 di tanah air memang
cukup membuat pemerintah kewalahan. Gerak menggandeng semua elemen dalam aksi
menyetop penyebaran corona pun jadi salah satu strategi.
Dari sisi ini, Ujang melihat pemerintah sangat
membutuhkan peran banyak pihak, termasuk parpol. "Pemerintah akan sulit
berhasil jika bergerak sendiri. Oleh karena itu parpol perlu dirangkul,"
ujarnya.
Ia melihat pemerintah dan parpol sama-sama mengambil keuntungan meski ada potensi citra buruk bagi pemerintah. "Saat ini partai-partai akan menjaga keseimbangan antara dekat dengan pemerintah dan kebutuhan dukungan rakyat. Bahkan yang lebih ekstrem partai-partai saat ini sudah mulai jalan masing-masing untuk persiapan pemilu 2024," kata Ujang.
DALIH PEMENUHAN TARGET VAKSINASI NASIONAL
Sepak terjang parpol dalam program vaksinasi
memang ada yang menuai sorotan. Pemerintah pun kerap jadi sasaran. Menanggapi
hal itu, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 angkat suara. Mereka
mengklaim alokasi vaksin Covid-19 dari pemerintah pusat kepada parpol dan
sejumlah organisasi masyarakat dilakukan guna memenuhi capaian program
vaksinasi nasional.
Organisasi-organisasi ini pun diklaim hanya
menjadi panitia penyelenggara vaksinasi massal, bukan memanfaatkan vaksin untuk
kalangan tertentu.
Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas
Covid-19 Alexander Kaliaga Ginting berdalih pelaksanaan vaksinasi oleh dinas
kesehatan kabupaten/kota tidak cukup seiring dengan peningkatan target
vaksinasi nasional. Sehingga, katanya, dibutuhkan sejumlah pihak untuk ikut
serta membantu vaksinasi.
"Dinkes, TNI/Polri sebagai operator di
lapangan berkolaborasi dengan masyarakat, baik ormas, LSM, pegiat budaya,
agama, dan parpol agar bisa menjangkau seluruh masyarakat baik di gunung,
lembah, pulau, dan pesisir, dan kabupaten/kota terpencil dan tertinggal,"
kata Alex sebagaimana dilansir CNN, Selasa (31/8).
Alex memastikan alokasi vaksin yang diberikan
selain untuk dinkes kabupaten/kota juga digunakan untuk kepentingan masyarakat
umum, melalui gerakan dan sentra vaksinasi massal di titik-titik daerah.
Ia juga menampik anggapan bahwa alokasi vaksin
non-dinkes itu disalahgunakan untuk kepentingan sejumlah pihak tertentu.
Di samping itu, pemerintah tetap memprioritaskan
untuk memasok stok vaksin bagi dinkes kabupaten/kota. Selain itu, katanya,
teknis alokasi vaksin dikendalikan oleh masing-masing Gubernur. "Mereka
(parpol/ormas, red) adalah sebagai penyelenggara atau panitia untuk menciptakan
akses dan akselerasi vaksinasi yang berkeadilan bagi masyarakat," kata
dia.(cnn/mdk)












































Komentar