SULUT TETAP WASPADA


Sulut, MS

Gerak siklon tropis Surigae mulai menjauhi Indonesia. Keberadaannya dipastikan masih memicu cuaca ekstrem di sejumlah wilayah ‘Tanah Air’. Sulawesi Utara (Sulut) tetap siaga.

Siklon tropis Surigae adalah hasil perkembangan bibit siklon tropis di utara Papua, yang bernama bibit siklon tropis 94W. Pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), siklon tropis Surigae atau 94W bergerak ke arah barat laut mendekati wilayah Filipina. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam keterangan tertulisnya mengatakan, penamaan siklon atau badai tropis Surigae ini dilakukan oleh Japan Meteorogical Agency (JMA), termasuk analisis dan pergerakannya.

Dalam keterangan resmi BMKG, Kamis (15/4) pukul 7.00 WIB, posisi siklon tropis Surigae berada di Samudera Pasifik utara Papua. Di koordinat 8,6 Lintang Utara (LU) dan 136,5 Bujur Timur (BT), tepatnya sekitar 1.090 kilometer sebelah utara Biak, Papua. Siklon tropis Surigae bergerak ke arah Barat - Barat Daya menjauhi wilayah Indonesia, dengan kecepatan 2 kilometer per jam.

Kecepatan angin maksimum pada pusat sirkulasi siklon tropis Surigae mencapai 50 knot atau sekitar 95 kilometer per jam. Sementara, tekanan udara di pusat sirkulasinya adalah 992 hPa. Prediksi dalam 24 jam ke depan, BMKG memperkirakan, Jumat (16/4) hari ini pukul 7.00 WIB, siklon tropis Surigae masih berada di Samudera Pasifik Utara, tapi bergerak semakin menjauhi Indonesia.

Diperkirakan siklon tropis Surigae akan ada di titik koordinat 9,4 LU dan 134,6 BT atau tepatnya sekitar 1.190 kilometer sebelah utara Biak. Ini artinya sudah melaju 100 kilometer dibanding hari kemarin. Siklon tropis Surigae masih akan bergerak ke arah Barat - Barat Laut menjauhi wilayah Indonesia dengan kecepatan 15 kilometer per jam.

Sementara kecepatan angin maksimum pada pusat sirkulasi siklon tropis Surigae pada Jumat hari ini mencapai 60 knot atau sekitar 115 kilometer per jam. Untuk tekanan udara di pusat sirkulasinya adalah 980 hPa. "Intensitas siklon tropis Surigae dalam 24 jam ke depan diperkirakan akan meningkat dan bergerak ke Barat-Barat Laut menjauhi wilayah Indonesia," tulis BMKG.

Kendati sudah bergerak menjauhi wilayah Indonesia, siklon tropis Surigae tetap memberikan dampak terhadap cuaca di Indonesia dalam 24 jam ke depan. Dampak terhadap cuaca di Indoensia antara lain, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Kemudian hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat/petir serta angin kencang di wilayah Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua.

Gelombang tinggi 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di Laut Sulawesi, Perairan Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud, Perairan Kepulauan Sitaro, Perairan Bitung-Likupang, Laut Maluku, Perairan Selatan Sulawesi Utara, Perairan Kepulauan Halmahera, Laut Halmahera, Perairan Raja Ampat bagian utara, Perairan Selatan Biak, Teluk Cendrawasih, Perairan Jayapura-Sarmi. Kemudian Gelombang tinggi 2,5 sampai 4 meter berpotensi terjadi di Perairan Manokwari, Perairan utara Biak, Samudra Pasifik Utara Halmahera hingga Papua Barat, Samudra Pasifik Utara Jayapura. Gelombang tinggi 4,0 hingga 6,0 meter berpeluang terjadi di Samudra Pasifik utara Biak.



WILAYAH KEPULAUAN SULUT SIAGA

Keberadaan siklon tropis Surigae enggan dianggap remeh penghuni wilayah kepulauan Provinsi Sulut. Meski posisinya mulai meninggalkan Indonesia, pemerintah daerah di bagian Nusa Utara, memperpanjang status siaga bencananya.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro memperpanjang status siaga darurat bencana di daerah kepulauan. Hal ini menyikapi fenomena bibit siklon tropis 94W yang diumumkan BMKG beberapa hari sebelumnya. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sitaro, Bob Ch Wuaten mengatakan, status siaga darurat ini diperpanjang hingga bulan Mei 2021 mendatang.

Dikatakan Wuaten, perpanjangan status siaga ini sudah disetujui oleh Bupati Kabupaten Sitaro Evangelian Sasingen. Hal itu karena sebelumnya pihak BPBD juga menyampaikan langsung kondisi laporan dari BMKG berkaitan dengan bibit siklon tropis 94W tersebut.

"Setelah mendapatkan penjelasan tentang prediksi dari BMKG, bupati langsung menyetujui perpanjangan status kondisi siaga darurat bencana," ujar Wuaten.

Dikatakan Wuaten, saat ini edaran terkait dengan perpanjangan tersebut sudah diserahkan kepada aparat pemerintah kecamatan, kampung dan kelurahan untuk diimbau ke masyarakat.

Wuaten menjelaskan, untuk Kabupaten Sitaro, dampak yang bisa terjadi karena keberadaan fenomena siklon tropis 94W ini di antaranya, bencana tanah longsor, banjir bandang dan angin puting beliung.

"Potensi bencana tinggi, karena siklon tropis ini berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem seperti puting beliung, hujan lebat disertai kilat atau petir," ujar Wuaten.

Maka dari itu, Wuaten mengatakan, kondisi ini telah menjadi perhatian penting pemerintah daerah. "Apalagi dalam rentang beberapa waktu terakhir, Kabupaten Sitaro sering diterjang tanah longsor, banjir bandang dan puting beliung," ujarnya kembali.

Sementara itu, Bupati Kabupaten Kepulauan Sitaro Evangelian Sasingen SE meminta masyarakat untuk lebih waspada menghadapi cuaca ekstrim seperti puting beliung, hujan lebat disertai kilat atau petir dan gelombang tinggi di perairan yang disebabkan adanya bibit siklon tropis yang melanda sebagian wilayah Indonesia termasuk Sitaro.

"Saya mengimbau kepada warga khususnya yang bermukim di tempat-tempat rawan bencana untuk lebih waspada mengingat cuaca ekstrim ini bisa berdampak terjadinya banjir, tanah longsor, banjir bandang dan angin kencang," ujar Bupati.

Kepada masyarakat pengguna transportasi laut dan nelayan, Bupati mengingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan dalam mencari ikan ataupun melakukan aktivitas pelayaran karena adanya ancaman gelombang tinggi di perairan Sulut.

"Jangan menganggap sepele adanya bibit siklon ini. Mari sama-sama kita waspada dan berhati-hati agar tidak terjadi hal buruk yang tidak kita inginkan," ujar Sasingen.

Sementara, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Naha Kepulauan Sangihe Sujatno mengimbau kepada masyarakat Kepulauan Sangihe untuk mewaspadai dampak tidak langsung dari badai tropis surigae. Menurut dia, berdasarkan perkembangan cuaca 14 April 2021, sirkulasi sistem tekanan rendah di Utara Papua telah berkembang menjadi Depressi Tropis dan saat ini telah menjadi Badai Tropis Surigae, yang bergerak ke arah Barat Laut mendekati wilayah Filipina.

"Terjadi peningkatan kecepatan angin rata-rata di wilayah Utara Sulawesi dan sekitarnya, yaitu berkisar 8-20 knot. Awan-awan konfektif yang mengandung hujan masih terbentuk di daerah pertemuan massa udara yaitu di Utara Sulawesi, Maluku Utara dan Utara Papua. Serta tinggi gelombang kategori sedang di laut Sulawesi, perairan Kepulauan Sitaro, Sangihe dan Talaud, Laut Maluku dan pesisir Selatan Sulawesi Utara," kata Sujatno.

Berdasarkan prakiraan cuaca 14 April 2021 lanjut dijelaskannya, Badai Tropis Surigae diprakirakan akan berkembang menjadi Badai Tropis Kuat (STS) dan bahkan Typhoon (TY) pada tanggal 16 April 2021.

"Kecepatan angin di utara Sulawesi dan sekitarnya cenderung meningkat secara bertahap hingga puncaknya pada 18 April 2021. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang dan berpotensi hujan lebat untuk sepekan ke depan. Serta tinggi gelombang laut mengalami peningkatan hingga puncaknya pada 18 April 2021," ungkap Sujatno.

Menyusul adanya informasi prakiraan cuaca dari Prakirawan Stasiun Meteorologi Maritim Bitung, dia meminta masyarakat Sangihe dan sekitarnya untuk mewaspadai hujan lebat disertai petir yang bisa terjadi beberapa hari ke depan.

"Waspada juga terhadap angin Kencang dan Gelombang Tinggi bahkan dapat mencapai kategori sangat tinggi 4,0 - 6,0 m di wilayah Perairan Kepulauan Sitaro, Sangihe dan Talaud, serta Laut Maluku bagian Utara. Dan tetap waspada terhadap ancaman Banjir Pesisir yang dapat terjadi pada saat bersamaan dengan fase pasang air laut, yaitu pada pagi hingga siang hari serta menjelang malam hari," imbuhnya.

Terpisah, Kepala BPBD Kabupaten Sangihe Revolius Pudihang ketika dikonfirmasi media Ini. Dirinya mengimbau masyarakat khususnya Kabupaten Kepulauan Sangihe agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem.

"Masyarakat nelayan diharapkan untuk melihat keadaan laut jika hendak melaut. Juga masyarakat yang bermukim di pesisir pantai juga diharapkan untuk tetap mewaspadai gelombang pasang. Karena saat ini cuaca laut sangat buruk. Memang kita tidak menghendaki adanya bencana tetapi diharapkan untuk tetap waspada," tandas dia.



SURIGAE PUNYA POTENSI JADI TOPAN

Kondisi siklon tropis surigae berpotensi menjadi angin topan. Apalagi bibitnya yang tumbuh di Samudera Pasfik utara Papua diprediksi terus menguat. Dampaknya di Indonesia salah satunya peningkatan kecepatan angin rata-rata di wilayah utara Sulawesi dan sekitarnya sebesar 8-20 knot.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, mengungkap itu dalam keterangannya di Malang, Jawa Timur, Rabu (14/4). Dia menerangkan saat itu bahwa siklon tropis atau badai tropis Surigae diperkirakan akan berkembang menjadi Badai Tropis Kuat dan bahkan Taifun, Jumat (16/4).

Kecepatan angin di utara Sulawesi dan sekitarnya, sebagai dampak tidak langsungnya, juga diprediksi terus meningkat hingga Minggu 18 April. "Begitu juga dengan hujan yang akan mengguyur dengan intensitas ringan hingga sedang dan berpotensi hujan lebat untuk sepekan ke depan," kata Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto.

Sebagai akibat dampak tidak langsung wilayah yang berdekatan dengan posisi siklon tropis itu pula, tinggi gelombang laut akan mengalami peningkatan hingga puncaknya pada 18 April. "Gelombang ini bahkan dapat mencapai kategori sangat tinggi (4,0 - 6,0 meter) di wilayah Perairan Kepulauan Sitaro, Sangihe dan Talaud, serta Laut Maluku bagian utara," kata Guswanto lagi.

BMKG terus memantau perkembangan Siklon Tropis Surigae tersebut. Masyarakat, terutama di wilayah yang telah disebutkan terdampak tidak langsung, diimbau untuk waspada dan tetap berhati-hati dengan potensi angin kencang, hujan lebat dan dampak lanjutannya seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. (kompas/tempo/tim ms)


Komentar