Nainggolan Serukan Pasar Tomohon Ramah Lingkungan


TOMOHON, MS

 

Sulawesi merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia, namun ada beberapa praktek yang mengancam seperti perdagangan satwa liar, perburuan dan juga fakta bahwa satwa kehilangan habitat aslinya. Perburuan yang diperuntukkan untuk konsumsi menjadi salah satu faktor dari menurunnya populasi satwa liar di Sulawesi Utara.

Ini mengakibatkan ancaman kepunahan spesies yang dilindungi secara lokal seperti pada Anoa dan Babirusa di area jelajah aslinya dan juga merupakan salah satu ancaman terbesar dari Macaca nigra atau Yaki yang merupakan satwa yang dilindungi dan kini berstatus Critically Endangered oleh IUCN dalam daftar spesies terancam punah.

Selain itu, penurunan populasi satwa berpengaruh pada pertumbuhan hutan yang penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Menurut United Nation pada tahun 2016 perdagangan satwa liar diperkirakan mencapai 7–23 juta dolar Amerika setiap tahunnya.

Hal ini menimbulkan kekuatiran pemerhati lingkungan bahwa tingginya perdagangan terhadap satwa akan memicu tindakan yang berbahaya termasuk perdagangan satwa yang ilegal. Koordinator Edukasi Selamatkan Yaki Program, Purnama Nainggolan mengatakan, tantangan utama dalam menghentikan perdagangan satwa liar termasuk di dalamnya adalah kurangnya pengetahuan dan informasi masyarakat tentang keberadaan dan peran penting satwa di hutan, dan mengakibatkan kurangnya rasa bangga dan memiliki.

Hal ini berdampak pada sikap yang tidak perduli dan tidak mau melindungi satwa,

selain juga faktor kurang efektifnya penegakan hukum untuk menindak perdagangan satwa liar di pasar tradisional. Beragam tantangan ini mengharuskan upaya pencegahan eksploitasi satwa yang terancam dengan sebuah kolaborasi antar pihak di Sulawesi Utara. Untuk itu saat ini pihaknya berusaha melakukan

kampanye yang menarik minat warga dengan ide “Bekeng Sulut Bangga”. Bagaimana menciptakan rasa bangga untuk kemudian peduli tanpa menggerus kepentingan ekonomi warga.

Selamatkan Yaki bersama Koran SINDO Manado berusaha mengurai fakta dengan melihat pola konsumsi di pasar, seperti apa kepentingan penjual dan pembeli, kebutuhan supply demand, menganalisa conflict of interest antara kebutuhan ekonomi, pariwisata dan lingkungan. Salah satu yang menarik adalah melihat

keberadaan Pasar Tomohon yang menjual satwa liar dan dikenal sebagai Pasar Ekstrim sebagai salah satu atraksinya dalam menarik wisatawan. Walau masih melahirkan sebuah menjadi pertanyaan besar apakah semua wisatawan akan setuju dengan atraksi tersebut?

Sebelumnya, pada Januari 2020, Selamatkan Yaki telah melaksanakan meeting para pihak yang memunculkan sebuah strategi mitigasi satwa liar yang salah satunya adalah mengikut sertakan penjual dan pemburu sebagai kelompok target dalam menghentikan penjualan satwa liar untuk dikonsumsi.

Pertanyaan besar, bagaimana membangun sinergi semua pihak untuk mendukung pedagang dan manajemen pasar tradisional yang pro lingkungan, tanpa merusak aspek ekonomi para pedagang di pasar Tomohon.(yaziin solichin)


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors

Mail Hosting