Aktifitas Kantor DPRD Sulut Lumpuh

Sejumlah ASN dan THL Terkonfirmasi Positif Corona


Manado, MS

Aktivitas di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut) dipastikan lumpuh seminggu ke depan. Kondisi itu imbas adanya sejumlah pegawai yang terkonfirmasi kasus positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Rumah para wakil rakyat Sulut itu pun harus ditutup untuk sementara waktu sambil dilakukan sterilisasi.

Pelaksana tugas (plt) Sekretaris DPRD Sulut, Asiano Gammy Kawatu, ketika dihubungi Selasa (13/10) kemarin, mengatakan bahwa dengan adanya penutupan kantor selama satu minggu ini maka otomatis segala pekerjaan di kantor DPRD Sulut untuk sementara dipindahkan ke rumah masing-masing pegawai.

"Jadi mereka secara otomatis kembali bekerja dari rumah," jelas Asiano dalam percakapan via Whatsapp.

Tindakan penutupan kantor harus dilakukan karena kasus positif ternyata bukan hanya Sekretaris DPRD Sulut, Glady Kawatu saja. Menurut dia, setelah keluar hasil swab test, ternyata terdapat Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Tenaga Harian Lepas (THL) yang juga terkonfirmasi positif Covid-19.

"Nanti akan disampaikan petugas satgas (satuan tugas covid) seperti apa rekomendasinya nanti karena baiknya dari mereka yang harus menyampaikan," ungkap Kawatu.

Persoalan adanya kasus Covid di kantor DPRD Sulut ini juga turut dijelaskan Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Sulut dr Steaven Dandel. Dalam menyikapi adanya penerapan Sistem bekerja dari rumah atau ‘Work From Home’ secara total pada kantor DPRD Sulut sejak Selasa (13/10), Dandel membeber 71 Kontak Erat Resiko Tinggi (KERT) dari Sekretaris DPRD Sulut yang diketahui sebelumnya terpapar positif Covid-19.

"Hasil pemeriksaan swab kepada 71 KERT pada tanggal 12 Oktober 2020 telah keluar pada malam hari jam 22.30. Dari hasil swab tersebut terdapat 5 kasus terkonfirmasi positif," ungkap Dandel.

"Kelima kasus terkonfirmasi positif tersebut terdiri dari 4 orang ASN dan THL di Sekretariat DPRD Sulut dan 1 adalah keluarga dari KERT ini," ujar Dandel menambahkan.

Sementara untuk 17 anggota keluarga dari Kasus Index (awal) Sekwan DPRD Sulut, tidak ditemukan adanya kasus positif. "Dari hasil ini kemudian dapat disimpulkan bahwa keterhubungan epidemiologis dari Index cases dan tambahan kasus 5 orang ini terjadi di lingkungan kerja (Kantor DPRD Provinsi Sulut)," ungkap Dandel.

Lanjutnya, sesuai dengan Peraturan Gubernur Nomor 8 Tahun 2020 terkait Optimalisasi Pencegahan Penyebaran covid-19 di wilayah Provinsi Sulut Pasal 9, maka dilakukan sistem bekerja dari rumah atau Work From Home 100 persen di Kantor DPRD selama 7 hari sejak tanggal 13 Oktober 2020 sampai dengan 19 Oktober 2020.

"Waktu 7  hari secara teknis dapat memutus mata rantai penularan dari Covid 19 ini, sesuai dengan pertimbangan masa inkubasi dan waktu penularan. Selama pelaksanaan Sistem Bekerja dari Rumah ini maka dilakukan tindakan desinfektan di lokasi," tutur Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulut ini.

"Adapun KERT dari tambahan 5 kasus baru ini akan dilakukan tracing dan pemeriksaan Swab lanjutan," jelasnya lagi.

Diketahui, sebelumnya pimpinan dewan telah menyatakan, di tubuh jajaran kantor DPRD Sulut telah dilakukan swab test, pasca adanya yang terpapar Covid-19. "Ada 86 orang (KERT, red) yang di swab. Kalau yang ada di lingkaran rumah orangnya (Sekwan, red) ada 16 orang yang diswab. Kegiatan (di DPRD Sulut, red) agak terganggu tapi kita mengutamakan protokol covid," tutur Wakil Ketua DPRD Sulut, Victor Mailangkay yang juga sebagai pelaksana tugas Ketua DPRD Sulut.

Ditegaskan Mailangkay, pihaknya tetap menerapkan protokol Covid-19 yang ketat dalam setiap kegiatan. Tujuannya demi pencegahan penyebaran virus corona. "Kita tetap mengutamakan atau memberlakukan protokol Covid-19 sebagai pencegahan dan penanggulangan covid-19. Makanya semua yang sering berdekatan (dengan Sekwan, red) selama 7 hari sebelumnya dia harus pulang untuk isolasi mandiri," ujar Mailangkay.

Sambil mereka menunggu hasil test swab maka masing-masing melakukan isolasi mandiri. Dijelaskannya, untuk hasil swab tidak bisa dipublish di depan umum. Kecuali dilakukan oleh orang yang positif tersebut. "Bagaimana hasil swab nanti, itu menjadi rahasia kesehatan masing-masing orang yang terkena, tak bisa dipublish. Kecuali bersangkutan yang publish tapi yang lain tidak bisa publish," pungkasnya.

Sebelumnya, Sekretaris DPRD (Sekwan) Sulut, Glady Kawatu telah secara terbuka ke publik menyampaikan bahwa dirinya positif Covid-19. (arfin tompodung/sonny dinar)

 


Komentar