SULUT MASUK PROVINSI PENYUMBANG KESEMBUHAN TERTINGGI COVID-19


Jakarta, MS

 

Penyebaran virus Corona atau Covid-19 di Indonesia tak kunjung mereda. Angka kasus wabah yang berasal dari Wuhan Cina itu terus bertambah. Bahkan jumlah kasus baru positif Corona kembali mencatatkan rekor. Tercatat, Kamis (24/9) kemarin, penambahannya tembus 4.634 kasus.

Alhasil, total kasus positif Corona di nusantara telah mencapai 262.022. Sementara kasus yang meninggal juga mengalami penambahan 128 sehingga menjadi 10.105. Angin segarnya, pasien yang sembuh juga bertambah cukup signifikan yakni 3.895. Jadi total pasien sembuh hingga Kamis kemarin, menjadi 191.853.

Melonjaknya angka kesembuhan pasien Corona tersebut, tak lepas dari peran aktif pemerintah daerah serta stake holder terkait yang saling bahu-membahu dalam menanggulangi  pendemi Covid-19.

Setidaknya ada 5 Provinsi yang tercatat sebagai penyumbang kesembuhan Covid-19 tertinggi di Indonesia. Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) termasuk diantaranya dengan prosentase kesembuhan mencapai 83,51%.

Untuk urutan pertama diduduki Maluku Utara dengan prosentase kesembuhan 89,71%, kemudian  Gorontalo 87,19%, Kalimantan Utara 86,09%, Kepulauan Bangka Belitung 84,89% dan kelima Provinsi Sulut.

Fakta menyejukkan itu diungkap juru bicara Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito melalui siaran YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (24/9) kemarin. Pemerintah pun meminta provinsi lain untuk belajar dari penanganan Covid-19 dari kelima provinsi tersebut.

"Secara nasional pada pekan ini, jumlah kesembuhan mengalami kenaikan. Dan angkanya cukup besar, yaitu 35,8 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Persentase kesembuhan nasional terus mengalami peningkatan dibandingkan pada saat pandemi di Indonesia dan di bulan Agustus kita telah berhasil mencapai kesembuhan 72,87 persen, di mana angka ini merupakan pencapaian yang positif karena melebihi angka di dunia," ungkap Wiku.

Namun Wiku meminta kelima pemerintah daerah itu untuk tidak berpuas diri dengan capaian angka kesembuhan tersebut. Dia meminta agar tetap waspada dengan peningkatan kasus yang terus naik.

"Walau demikian, janganlah kita berpuas diri karena pencapaian positif harus kita tingkatkan terus-menerus dan dipertahankan agar provinsi-provinsi tersebut dapat terbebas dari pandemi Covid-19. Kita tetap waspada dengan angka kasus yang terus meningkat. Ini adalah hal yang perlu menjadi perhatian, yang terbaik bagi kita harus bisa meningkatkan angka kesembuhan dan menekan angka kasus," katanya.

Selain itu, Wiku mengungkapkan data kabupaten/kota yang memiliki angka kesembuhan hampir 70 persen serta 25 kabupaten/kota yang berhasil mencapai angka 100 persen kesembuhan.

"Di tingkat kabupaten/kota, dari total 514 kabupaten/kota di Indonesia, hampir 70 persen memiliki persentase kesembuhan di atas 50 persen. Selain itu, terdapat 25 kabupaten/kota dengan persentase kesembuhan 100 persen," katanya.

"Kami mengapresiasi capaian ini dan hal ini menunjukkan bahwa sinergi antara pemerintah dan masyarakat dapat berkontribusi terhadap peningkatan angka kesembuhan ini. Jangan berpuas diri dan tetap jalankan protokol kesehatan," sambungnya.

Ia pun  mengajak provinsi yang lain untuk mengikuti upaya-upaya penanganan yang dilakukan oleh provinsi-provinsi yang prosentase angka kesembuhan Corona tinggi. "Ikutilah provinsi dengan persen kesembuhan tertinggi di Indonesia,  yaitu dari Maluku Utara, Gorontalo, dan Kalimantan Utara, Bangka Belitung dan Sulut," katanya

Ia pun mencontohkan strategi yang dilakukan di oleh Malut Cs dalam meningkatkan angka kesembuhan. Diantaranya pemerintah daerah memisahkan perawatan pasien Covid-19, yang gejala ringan dengan yang berat. Kemudian  mendorong pasiennya menjaga kebugaran fisik dan konsumsi protein yang baik.

Lalu melakukan pendekatan kearifan lokal serta memberdayakan masyarakat hingga tingkat desa untuk penanggulanan Corona. “Dan upaya-upaya yang dilakukan itu buktinya telah berhasil meningkatkan angka kesembuhan di daerah masing-masing,” pungkasnya.

PENYEBAB KASUS CORONA MENINGKAT

Angka kasus baru positif Corona terus mencatatkan rekor. Per Kamis (24/9) kemarin, kasus baru positif Covid-19 di Indonesia 4.634 kasus, sehingga totalnya mencapai 262.022. Pemerintah pun mengungkap penyebab meningkatnya kasus Covid-19 di Indonesia.

Setidaknya ada 4 pemicu utamanya. Yakni, masyarakat belum berdisiplin mematuhi protokol kesehatan Corona, kemudian lengah, lalu takut memeriksakan diri hingga percaya pada konspirasi.

Hal itu diungkap juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku. “Pertama, masyarakat memang belum disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan dan hal ini diperburuk oleh perilaku masyarakat yang berkerumun sehingga meningkatkan resiko penularan," kata Wiku dalam konferensi pers yang disiarkan di YouTube Sekretariat Presiden, Kamis kemarin.

Penyebab kedua adalah masyarakat semakin lengah dan mengabaikan protokol Kesehatan Corona. Bahkan  masyarakat seperti tak memiliki empati.  “Padahal telah ada banyak korban kasus Covid-19,” keluhnya.

Ketiga, masyarakat disebut masih takut melakukan tes Corona ketika sudah memiliki gejala terjangkit Covid-19. “Padahal, jika masyarakat dites dan positif, akan dilakukan isolasi dan mencegah penularan kepada orang lain,” terangnya lagi.

Wiku pun meminta masyarakat yang terjangkit Covid-19 tak khawatir dengan biaya perawatan pasien Corona karena ditanggung pemerintah.

"Di sini kami imbau agar masyarakat tidak memandang negatif kepada mereka yang positif Covid-19 karena penyakit ini bukan penyakit yang memalukan. Siapa pun yang terkena Covid-19 harus kita bantu dan kita sembuhkan dan tidak usah khawatir terhadap biaya perawatan karena seluruhnya ditanggung oleh pemerintah baik dengan BPJS ataupun tidak dengan BPJS," ujarnya.

Keempat, Wiku mengatakan beredar berita yang menyatakan Covid-19 adalah konspirasi. Ia menyayangkan ada masyarakat yang mempercayai hal tersebut. "Terakhir kami juga melihat tren berita bahwa ada berita yang mengatakan terjadinya konspirasi anti-Covid-19 yang belum tervalidasi dan tidak berbasis pada data ilmiah, yang sayangnya masih dipercaya oleh masyarakat," kata Wiku.

"Jadi kami imbau agar masyarakat betul-betul bisa bekerja sama dengan pemerintah karena pemerintah tidak bisa bekerja sendiri karena kita membutuhkan kolaborasi bersama dengan masyarakat untuk dapat menekan angka penularan," imbuhnya.

SATGAS BEBER TANTANGAN SINKRONISASI DATA REAL

Data real time kasus Corona kerap dipersoalkan. Itu menyusul data kasus di daerah acap kali berbeda dengan yang diumumkan oleh pemerintah pusat.

Dinamika itu pun tak ditepis oleh pemerintah. Untuk itu pemerintah mengaku masih mengupayakan adanya data real time kasus Corona se-Indonesia.  Mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan. Sehingga tidak mudah menyinkronkan data kasus Corona di Indonesia.

"Kami tidak lelah untuk selalu memperbaiki kualitas data dan integrasi data di Indonesia. Sinkronisasi data ini memang suatu pekerjaan yang berat dan Indonesia tidak pernah siap, begitu juga negara di dunia tidak siap," kata juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito, Kamis  kemarin.

 

Kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan dan terdiri atas 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota dinilai memerlukan ribuan titik yang dicatat. Kemudian ribuan titik yang dicatat tersebut perlu dilaporkan ke tingkat pusat dan dicek lagi oleh Kementerian Kesehatan.

"Titik pencatatan ini perlu di sinkronisasi untuk masuk ke data nasional di Kemenkes sehingga akhirnya bisa divalidasi dan diumumkan pada publik," paparnya.

"Untuk mendapatkan data yang real time sangat banyak hambatan dan tantangannya yang harus dilalui baik melalui proses pelaporan pencatatan, pelaporan, sampai dengan terkumpul suatu sistem data yang terintegrasi dari seluruh daerah tersebut dan juga dari karakteristik geografis kita," sambung Wiku.

Meski demikian, pemerintah akan berusaha menampilkan data secara real time. Hal tersebut untuk membantu stakeholder dalam menentukan kebijakannya.

"Walaupun demikian, Satgas COVID-19 terus berusaha mendekati menampilkan data secara real time, kami tidak mau menyerah dengan keadaan dan terus berupaya untuk dapat memberikan yang terbaik untuk bangsa," kata Wiku.

"Mohon bersabar, mohon kami didukung agar betul-betul pencatatannya semakin baik, tidak terjadi perbedaan pendataan antara pemerintah pusat dan daerah sehingga dalam pengambilan keputusan bisa akurat karena datanya yang berkualitas," imbuhnya.

DATA SEMBUH SATGAS PUSAT DAN SULUT BERBEDA

Persoalan data real time kondisi epidemiologis antara Satgas Covid-19 Pusat dan Satgas Covid-19 Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) kembali berbeda.

Dari data yang dipaparkan Satgas Covid-19 Pusat, Kamis (24/9) kemarian, angka kasus sembuh di Sulut yakni 36 dengan kumulatif menjadi 3.451 dengan prosentase kesembuhan 83,51%.

Sementara data yang dirilis Satgas Covid-19 Sulut, Kamis kemarin, kasus sembuh hanya bertambah 12 sehingga menjadi 3.463 orang dari total kasus  positif 4.357 orang.

“Hari ini Kasus Sembuh bertambah 12 orang," ungkap Juru Bicara Covid-19 Sulut dr Steaven Dandel, Kamis kemarin.

Rinciannya, kasus asal Kotamobagu nomor 3850, 4063, 4071, lalu dari Talaud nomor 3035, 4101, kemudian asal Tomohon nomor 4081, selanjutnya asal Minahasa nomor 4035, 4036, 4092, lalu asal Minahasa Tenggara nomor 3973,  dan asal Bolaang Mongondow nomor 4055, 4056. "Jadi angka Kesembuhan Covid-19 di Sulawesi Utara per 24 September 2020 adalah 79,48 persen,” ujarnya.

Sementara tambahan kasus positif yang baru berjumlah 22 kasus atau sama dengan yang diumumkan oleh Satgas Covid-19 pusat. Sehingga total angka kejadian terkonfirmasi positif, berjumlah 4.357 orang. “Untuk kasus baru ada 22,” bebernya.

Rincian profil kasus terbaru, 4336 Laki laki 27 Kabupaten Minahasa, 4337 Perempuan 31 Kota Manado, 4338 Laki laki 33 KTP Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan Domisili Kota Kotamobagu, 4339 Perempuan 20 Kabupaten Minahasa Tenggara, 4340 Laki laki 58 Kabupaten Minahasa Utara, 4341 Perempuan 50 Kabupaten Minahasa, 4342 Perempuan 40 Kota Manado, 4343 Laki laki 44 Kota Manado, 4344 Perempuan 33 Kabupaten Minahasa Selatan, 4345 Perempuan 57 Kota Manado, 4346 Laki laki 29 Kota Manado.

Selanjutnya, 4347 Perempuan 25 Kota Manado, 4348 Perempuan 24 Kabupaten Kepulauan Sangihe, 4349 Perempuan 22 Kabupaten Minahasa Utara, 4350 Laki laki 49 Kabupaten Minahasa Selatan, 4351 Perempuan 24 Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, 4352 Perempuan 38 Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, 4353 Perempuan 49 Kabupaten Minahasa Tenggara, 4354 Perempuan 22 Kota Tomohon, 4355 Laki laki 37 Kota Manado, 4356 Perempuan 26 Kota Tomohon, 4357 Laki laki 58 Kota Manado.

Sementara untuk perincian asal kasus, Kota Manado 8 Kasus, Kota Tomohon 2 Kasus, Kabupaten Minahasa 2 Kasus, Kabupaten Minahasa Utara 2 Kasus, Kabupaten Minahasa Selatan 2 Kasus, Kabupaten Minahasa Tenggara 2 Kasus, Kabupaten Kepulauan Sangihe 1 Kasus, Kota Kotamobagu 1 Kasus, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara 2 Kasus.

 

Sementara untuk Kasus Meninggal. Tercatat sampai rilis dari Satgas Covid-19 Provinsi Sulut, tidak ada penambahan kasus terbaru, alias nol kasus. Adapun Akumulasi, Kasus terkonfirmasi positif (bertambah 22): 4.357 Orang. Kasus sembuh (bertambah 12): 3.463 Orang. Kasus Meninggal: 172 Orang (tidak ada penambahan Kasus terbaru). Kasus Aktif (bertambah 10): 722 Orang. "Untuk angka Kematian atau Case Fatality Rate sebesar 3,94 persen. Kasus aktif sebesar 16,57 persen," ulasnya.

Ia  pun kembali mengingatkan masyarakat Sulut untuk tetap waspada dan mengikuti protokol kesehatan serta anjuran pemerintah. Seperti tetap selalu menjaga jarak, menghindari pusat keramaian, selalu pakai masker, rajin cuci tangan dengan menggunakan deterjen, serta mengikuti protokol kesehatan Covid-19 lainnya.

“Itu semua bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Karena masyarakat itu sendiri menjadi garda terdepan dalam menghentikan penularan virus ini,” imbuhnya. (dtc/sonny dinar)


Komentar