PACU PENANGANAN CORONA, OLLY SASAR 2 RIBU TES SPESIMEN PER HARI


Manado, MS

Agresi percepatan penanganan Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 di bumi Nyiur Melambai masih dibelenggu persoalan. Salah satunya, keterlambatan hasil pemeriksaan spesimen pasien terkait Corona yang membutuhkan waktu 10 sampai 11 hari.

Keterlambatan hasil pemeriksaan ini menyulut masalah baru. Upaya mendeteksi penyebaran virus Corona menjadi terhambat. Hal itu juga berdampak pada proses penanganan pasien terkonfirmasi positif secara cepat.

Problematika itu diakui Gugus Tugas Covid-19 (GTC) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Itu disebabkan kapasitas pemeriksaan laboratorium di Sulut saat ini belum mampu mengakomodasi banyaknya spesimen swab test terkait Covid-19 yang masuk setiap harinya. Jadi, sebagian sampel ada yang dikirim ke laboratorium di luar Sulut, sehingga mengakibatkan perpanjangan waktu tunggu hasil pemeriksaan swab. Dengan begitu, kondisi ini dianggap tidak mencerminkan perkembangan epidemiologi per hari, melainkan mencerminkan situasi 2 atau 3 minggu ke belakang.

“Kalo sekarang masih ada tatunda 10 hari atau 11 hari. Makanya tiba-tiba jaga nae torang pe Covid-19. Itu so lama punya bukan baru so tatunda di laboratorium, karena sampe hari ini sampel yang diambil di lab ada 2117 yang belum kaluar dari lab,” aku Gubernur selaku pimpinan GTC Provinsi Sulut, Olly Dondokambey SE.

Meski begitu, Olly memastikan akan menggedor kerja dua laboratorium Polymerase Chain Reaction (PCR) yang ada di Universitas Sam Ratulangi dan Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP) Prof Kandou. Itu dalam rangka target uji spesimen 2 ribu setiap hari. “Jadi akan kita tingkatkan kapasitas pemeriksaan dari 500 spesimen swab test menjadi 2 ribu spesimen per hari,” tandasnya.

“Untuk laboratorium PCR yang ada di Provinsi Sulut tinggal 2 minggu lagi 1 hari so boleh periksa dua ribu orang. Kalo so dua ribu, so nda ada yang mo tatunda,” sambung Olly, memastikan.

Selain pengoptimalan dua laboratorium, Gubernur Olly mengakui, GTC-19 Sulut akan mendapat bantuan mobil tes PCR dari pemerintah pusat sekira dua pekan mendatang. Mobil tersebut bisa memproses 120 spesimen yang bisa diketahui hasil tesnya dalam jangka waktu 8 jam. “Artinya, jika kapasitas pemeriksaan berhasil ditingkatkan maka tidak ada lagi keterlambatan pemeriksaan spesimen swab test di Sulut,” koarnya.

Menyangkut bantuan mobil PCR, Olly memastikan kesiapan GTC-19 Sulut mengoperasikan fasilitas canggih tersebut untuk melakukan pemeriksaan secara massal. “Jadi kalo ada tes massal bagini terus banyak orang telepon Pemprov, kita datang,” serunya.

Pun begitu, Olly mengajak masyarakat bersama pemerintah melawan Covid-19 dengan tetap mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan air sabun pada air yang mengalir. “Torang harus lawan ini Covid-19, karena kalo torang nyanda lawan ini Covid-19 torang tidak bisa bergerak apapun. Jadi Pemprov akan menyiapkan sarana prasarana untuk melawan Covid-19 ini,” tukas Olly.

Pengamat politik dan kemasyarakat Rolly WD Toreh SH beranggapan, masalah keterlambatan hasil pemeriksaan bisa berdampak pada penambahan kasus baru. “Iya, ada contoh pasien yang sebenarnya sudah positif namun masih bisa bebas berkeliaran. Itu karena tidak ada gejala yang muncul. Meski sudah diperiksa, tapi masih menunggu hasil. Selain itu, ada juga yang sudah meninggal baru mendapat hasil. Ini kadang jadi polemik di masyarakat,” semburnya.

Dia pun berharap GTC Provinsi Sulut segera menambah kapasitas laboratorium sehingga pemeriksaan jumlah spesimen bertambah. “Jadi langsung ada hasil. Minimal beberapa jam. Kita tidak perlu khawatir dengan penambahan, justru dengan begitu upaya penanganan akan semakin cepat dan kasus bisa semakin ditekan. Itu pun jika kita semua disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan,” kuncinya.

OLLY HINGGA RIDWAN KAMIL MASUK KADA TERBAIK TANGANI CORONA

Penanganan Covid-19 di jazirah utara Pulau Selebes mendapat pengakuan. Di tengah agresi ‘penumpasan’ virus Corona, Sulut menjadi salah satu daerah yang dinilai terbaik dalam penanganan pandemi Covid-19. Keseriusan Gubernur Olly Dondokambey memberangus wabah Corona, tuai atensi masyarakat tanah air.

Merujuk hasil survei Charta Politika Indonesia, persepsi publik soal kinerja Kepala Daerah (Kada) yang dianggap paling baik dalam penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia menempatkan Olly pada urutan 9 dari ratusan Kada yang meliputi gubernur, bupati dan walikota se-Indonesia. Survei dilakukan melalui wawancara telepon dengan metode simple random sampling kepada 2.000 responden yang tersebar di seluruh Indonesia pada 6-12 Juli 2020. Margin of error (toleransi kesalahan) survei 2,19 persen pada tingkat kepercayaan (level of confidence) sebesar 95 persen.

Hasil survei dirilis Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya dalam diskusi daring bertema “Trend 3 Bulan Kondisi Politik, Ekonomi, dan Hukum pada Masa Pandemi Covid-19” pada Rabu (22/7). Responden diberi pertanyaan terbuka soal kepala daerah yang memiliki kinerja terbaik dalam penanganan pandemi Corona.

KASUS POSITIF TEMBUS 2118 ORANG

Kasus konfirmasi positif Covid-19 kembali bertambah. Merujuk data epidemiologi yang disampaikan Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Sulut pada Kamis (23/7), kasus positif baru bertambah 44 kasus. Dengan demikian, akumulasi kasus positif Corona di Sulut mencapai 2118.

"Jumlah akumulasi pasien terkonfirmasi positif sebanyak 2118 orang. Ada bertambah 44 kasus baru," ujar Juru Bicara (Jubir) GTC-19, dr Steaven Dandel, kemarin.

Dandel sempat mengkoreksi pengumuman dari Posko Kejadian Luar Biasa (KLB) Kementerian Kesehatan (Kemenkes). "Kasus konfirmasi baru positif  di Sulut sebanyak 44 kasus dan bukan 46 Kasus," sanggah dia.

Menurutnya, terdapat 2 kasus yang sudah pernah diumumkan sebelumnya atau double register. "Koreksi verifikasi alamat, kasus 2039 yang dirilis tanggal 22 Juli  2020 berasal dari Minahasa, setelah diverikasi berasal dari Bitung. Kasus 2063 dan kasus 2064 yang dirilis tanggal 22 Juli 2020 berasal dari Tomohon, hasil verifikasi berasal dari Minahasa," sambungnya.

Masih soal terkonfirmasi positif, Dandel merinci asal kasus berdasarkan kabupaten/kota se-Sulut. Kota Manado mengalami penambahan 21 kasus, Kota Tomohon 13 kasus, Kabupaten Minahasa 7 kasus, Kabupaten Minahasa Utara 1 kasus, Kabupaten Bolaang Mongondow 1 kasus dan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan 1 kasus.

Selanjutnya, untuk kasus sembuh bertambah 55 orang. Itu berdasarkan sembuh laboratoris Swab FU 2 kali negatif dan sembuh sesuai Pedoman Revisi-5. Antara lain, Manado pada kasus 267, 312, 313, 314, 319, 320, 323, 324, 326, 327, 331, 334, 335, 341, 354, 375, 382, 386, 395, 406, 408, 410, 411, 413, 414 , 468, 482, 483, 491, 493, 504, 506, 516, 517, 521, 526, 554, 567, 644, 675, 692, 902, 911, 951, 1227, 1688, 1689, 1778 dan 1870. Kota Tomohon pada kasus 1812 dan 1813. Selanjutnya, Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) 1887, 1888 dan 1889. Kemudian Minahasa yakni kasus 1046.

"Kabar gembira juga datang dari kasus meninggal. Hari ini (kemarin, red), tidak ada pertambahan kasus meninggal atau 0 Kasus," papar Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulut ini.

Dengen demikian, akumulasi data epidomologis Covid-19 di Sulut yakni kasus terkonfirmasi positif 2118 orang, kasus sembuh 977 orang, kasus Meninggal 119 orang dan kasus aktif 1022 orang.(sonny dinar)

 

KEPALA DAERAH TERBAIK DALAM PENANGANAN COVID-19

1. Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat): 15,6 persen.

2. Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah): 13,4 persen.

3. Anies Baswedan (Gubernur DKI): 11,8 persen.

4. Khofifah Indar Parawansa (Gubernur Jawa Timur): 5,1 persen

5. Tri Rismaharini (Wali Kota Surabaya): 2,2 persen

6. Bima Arya Sugiarto (Wali Kota Bogor): 1,3 persen.

7. Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi): 1,1 persen.

8Airin Rachmi Diany (Wali Kota Tangerang Selatan): 1,0 persen.

9. Olly Dondokambey (Gubernur Sulawesi Utara): 1,0 persen

10. Edy Rahmayadi (Gubernur Sumatera Utara): 1,0 persen.

11. Nurdin Abdullah (Gubernur Sulawesi Selatan): 0,9 persen

12. Wahidin Halim (Gubernur Banten): 0,7 persen

13. Ade Yasin (Bupati Bogor): 0,5 persen.

14. Rusli Habibie (Gubernur Gorontalo): 0,5 persen.

15. Lainnya: 7,8 persen.

16. Tidak Jawab/Tidak Jawab: 36,4 persen.


Komentar