Didominasi OTG, Positif Corona di Sulut Tambah 89


NYIUR Melambai catat rekor baru. Penambahan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 pada Rabu (8/7) tembus 89 kasus baru. Data epidemiologis itu dibeber Gugus Tugas Covid 19 Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut).

Dengan penambahan 89 kasus terkonfirmasi positif, membuat jumlah akumulasi pasien terkonfirmasi positif berjumlah 1341 orang. “Kota Manado masih merupakan penyumbang terbesar untuk positif  Corona, dengan jumlah sebanyak 64 Kasus. Kemudian disusul, Kabupaten Minahasa sebanyak 12 kasus. Selanjutnya, masih dalam verifikasi alamat sebanyak 10 kasus. Terakhir, Kabupaten Minahasa Utara (Minut) 3 kasus,” terang Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Covid 19 Pemprov Sulut Bidang Epidemiologis dr Steaven Dandel, kemarin.

Lanjut dia, untuk kasus sembuh kembali bertambah 27 orang. Dengan perincian, Manado: 157, 158, 159, 160, 163, 184, 281, 336, 518, 637, 881, 969, 943, 1021, 1078, Minahasa 127, 352, 498, 666, 667, 1044. Kotamobagu 741, 827, 913, 914, Minahasa Utara 968 dan untuk luar wilayah kasus 939. Untuk kasus meninggal bertambah 1 kasus yaitu kasus 1337.

“Akumulasi kasus terkonfirmasi positif 1341 orang, kasus sembuh 356 orang, kasus meninggal 95 orang. Untuk kasus aktif atau sementara dirawat 890 Orang," rincinya.

Lanjut Dandel, jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang diawasi di rumah sakit sebanyak 282 kasus dan Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 235 orang.

"Hari ini (kemarin, red), Sulut mencatat pertambahan kasus terbanyak dalam sehari yakni 89 kasus baru. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa sepanjang 7 hari terakhir telah keluar hasil swab dari laboratorium PCR di luar daerah. Kebijakan pengiriman sampel swab ke laboratorium PCR di luar daerah diambil untuk mengatasi masifnya jumlah sampel yang dikumpulkan oleh jejaring surveilans, yang angkanya rata rata 400 sampai dengan 600 sampel per hari. Sementara, kemampuan 2 laboratorium PCR di Sulut yang masih terbatas memeriksa antara 200 sampai dengan 300 sampel per hari,” tuturnya. 

“Dalam waktu dekat, kapasitas pemeriksaan sampel swab ini akan ditingkatkan menjadi 1000 sampel per hari," sambung dia.

Masih Dandel, sejak pertengahan bulan Juni sampai 7 Juli 2020, sebanyak 3755 sampel telah dikirim ke laboratorium di luar daerah, yakni Laboratorium BTKL-PP Makasar, Laboratorium BBLK Jakarta, Laboratorium LBM Eijkman Jakarta dan Laboratorium Bapelitbangkes Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI di Jakarta. Adapun jumlah sampel swab yang ke luar adalah sebanyak 2322 sampel.

"Perinciannya, 1923 hasilnya negatif dan 393 hasilnya positif. Terdapat 2 sampel yang inkonclusive dan 4 sampel invalid. Masih ada sejumlah 1433 sampel yang masih ditunggu hasilnya. Pada hari ini sebanyak 90 nama dari 393 hasil positif diumumkan setelah terlebih dahulu diverifikasi di laboratorium pemeriksa, tapi 1 kasus ternyata sudah double register. Jadi pertambahan kasus baru di Sulut hari ini adalah 89," terang dia.

Terkait adanya Surat Edaran Kemenkes RI Nomor: HK.02.02/I/2875 2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi Pemeriksaan Rapid Test Antibodi, kata Dandel, beberapa hal yang dapat diklarifikasikan adalah soal penerapan tarif rapid test hanyalah untuk kepentingan prasyarat pelaku perjalanan. Sementara untuk pemeriksaan tracing dan tracking bagi Kontak Erat Resiko Tinggi (KERT) tidak dikenakan pembiayaan atau ‘free of charge’.

"Dinkes (Dinas Kesehatan) Sulut tengah melaksanakan koordinasi dan konsultasi dengan Kemenkes RI terkait besaran tarif ini. Hal ini diperlukan untuk menyesuaikan dengan konteks lokal, termasuk kondisi geografis, biaya distribusi, ketersediaan tenaga dan lain-lain. Sebagian besar dari layanan kesehatan di provinsi telah mengadakan proses pengadaan rapid test jauh hari sebelum adanya surat edaran ini, dengan harga yang bervariasi. Oleh karenanya, Dinkes Sulut nantinya akan mengatur lebih lanjut penerapan surat edaran ini setelah hasil konsultasinya ada," tutur dia.

Dandel menambahkan kapasitas rumah sakit (RS) untuk menampung pasien terpapar Corona di Sulut, masih pada level normal. Dimana, semua masih bisa tertampung dan ditangani. Apalagi angka pasien sembuh, setiap hari terus bertambah. "Pada dasarnya masih mampu, menampung. Karena ketambahan 90 ini kebanyakan adalah OTG (Orang Tanpa Gejala) yang tidak perlu dirawat di RS," kuncinya.(sonny dinar)


Komentar