WASPADA GELOMBANG KEDUA COVID-19


Klaster TKI Hingga Industri ‘Dipelototi’ ,

Jokowi Instruksikan Pengawasan Ekstra Ketat

 

Jakarta, MS

Badai corona virus disease 2019 (covid-19) yang melanda Indonesia belum reda. Infografik corona terpantau terus naik. Sebanyak 11.587 kasus dilaporkan terjadi hingga Senin (4/5) kemarin. Bahkan di tengah gencarnya upaya pemerintah menyetop penyebaran wabah penyakit, ancaman serangan covid-19 gelombang kedua terdeteksi. Potensi itu menyeruak seiring kepulangan puluhan ribuan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari luar negeri. Tak ingin kecolongan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) langsung menginstruksikan pengawasan ekstra ketat bagi para pekerja migran yang baru kembali ke tanah air.

Ultimatum itu diungkap Jokowi saat membuka rapat terbatas terkait laporan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang disiarkan YouTube Setpres, Senin (4/5) kemarin. Presiden meminta kepulangan pekerja migran Indonesia atau TKI dari luar negeri benar-benar dipantau ketat. Jokowi tak ingin nantinya ada gelombang kedua penularan virus corona baru bila pengawasan longgar.

"Ini betul-betul harus ditangani dan dikawal secara baik di lapangan sehingga jangan sampai muncul gelombang kedua," ujar Jokowi.

Kekhawatiran kepala negara itu bukan tanpa alasan. Potensi paparan covid-19 bagi TKI dari luar negeri memang cukup tinggi, khususnya yang datang dari negara terdampak corona. Apalagi laporan yang masuk ke Presiden menyebut ada lebih dari 80 ribu pekerja migran sudah pulang ke tanah air. Angka itu akan terus bertambah, sebab ada belasan ribu TKI lainnya yang juga berniat kembali ke kampung halaman.

"Kita lihat bahwa pekerja migran Indonesia laporan yang saya terima sudah 89.000 yang sudah kembali. Akan bertambah lagi kemungkinan 16.000," ujarnya.

"Ini betul-betul harus ditangani dan dikawal secara baik di lapangan, sehingga jangan sampai muncul gelombang kedua," tandas Jokowi.

 

KLASTER INDUSTRI CS IKUT DIPELOTOTI

Ancaman covid-19 gelombang kedua di Indonesia tak hanya datang dari para pekerja migran. Sederet klaster lainnya ikut dipelototi pemerintah. Klaster yang dimaksud yakni kluster Gowa, pemudik, jemaah tabligh hingga klaster industri.

 

"Kita harus melakukan monitor secara ketat potensi penyebaran di beberapa klaster. Ada klaster pekerja migran, klaster jamaah tabligh, ada klaster Gowa, ada klaster rembesan pemudik, ada klaster industri. Ini perlu betul-betul harus dimonitor secara baik," lugas Jokowi.

Kepala Negara juga meminta jajarannya untuk mengecek industri-industri mana yang diizinkan untuk beroperasi termasuk menerapkan protokol kesehatan selama penerapan Pembatasan Besar Berskala Besar (PSBB). "Yang lain juga klaster industri. Kita harus memastikan industri-industri yang diizinkan beroperasi itu yang mana. Harus dicek di lapangan mereka melakukan protokol kesehatan secara ketat atau tidak," katanya.

"Ini betul-betul harus ditangani, dikawal secara baik di lapangan. Sehingga jangan sampai muncul gelombang kedua," katanya.

Peningkatan kewaspadaan di sejumlah klaster ini ditengarai akibat meledaknya jumlah kasus covid-19 di Indonesia dari hari ke hari. Klaster industri yang paling menghebohkan yaitu penyebaran covid-19 di pabrik Sampoerna Surabaya. Dua karyawan di perusahaan rokok ternama itu meninggal dengan status covid-19. Sementara ratusan karyawan lainnya terindikasi ikut terpapar dan telah diisolasi. Demikian pula dengan acara keagamaan seperti tabligh akbar di Malaysia dan ijtima ulama di Kabupaten Gowa. Puluhan warga yang sempat ikut serta dalam acara tersebut telah terkonfirmasi positif covid-19. Sedangkan ratusan lainnya berstatus PDP dan sementara menjalani isolasi.

 

SULUT WASPADA

Peringatan Presiden Jokowi soal ancaman gelombang kedua covid-19 langsung direspon pemerintah Sulawesi Utara (Sulut). Seruan bagi masyarakat untuk mematuhi protokol pencegahan penyakit kembali dikumandangkan. Itu menyusul masih banyak masyarakat yang dinilai mengabaikan anjuran baik social distancing dan physical distancing.

"Kami mendapat laporan bahwa masyarakat sekarang mulai beraktifitas sedikit banyak seperti sediakala. Padahal pandemi ini belum dinyatakan berakhir. Ini juga menjadi keprihatinan bagi kami dari Gugus Tugas Covid-19 Pemprov Sulut," terang Jubir Gugus TUgas Pemprov Sulut dr Steaven Dandel.

Dia menekankan kembali bahwa pandemi covid-19 belum berakhir di seluruh dunia.  Begitu juga di Sulut. "Kami terus meng-update perkembangan situasi di dunia dan ada beberapa negara yang ketika mulai melonggarkan pelaksanaan social distancing dan physical distancing ini, kemudian mengalami gelombang kedua dari peningkatan Covid-19. Oleh karenanya, terus kami himbau untuk tetap kita patuhi anjuran baik oleh pemerintah pusat maupun pemprov," pesannya.

Terkait Pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), Dandel juga mengaku bahwa Pemprov masih melakukan kajian untuk diberlakukan. "Ada beberapa kandidat kabupaten dan kota yang akan kita usul untuk pemberlakuan PSBB ini. Jadi pembatasan ini belum satu provinsi, karena di Sulut yang baru terdampak ada 8 kabupaten dan kota, dan yang punya potensi untuk bergerak menjadi transmisi lokal ada 3 kabupaten dan kota. Tapi kita akan terus dalami,” paparnya.

”Kita juga mengadvokasi pemerintah kabupaten dan kota untuk sama-sama melihat tren kedepan sehingga kemudian pemberlakukan PSBB ini nanti terus dianalisa apakah bisa diusulkan," jelasnya, sembari belum mau menyebut 3 kabupaten dan kota yang sementara dikaji.

Diketahui, kasus positif covid-19 di Indonesia hingga 4 Mei 2020 berjumlah 11.587 kasus atau bertambah 395 orang dibanding data sehari sebelumnya. Selain itu, ada penambahan pasien sembuh sebanyak 211 orang. Dengan demikian, total ada 1.876 pasien yang dinyatakan sembuh. Kemudian, terdapat penambahan kasus meninggal dunia sebanyak 14 orang. Total ada 845 orang yang meninggal akibat virus ini.

Sementara untuk Sulut, jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) 134 orang dan jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) mengalami peningkatan dari hari kemarin 87 menjadi 92 orang. (dtc/sonny dinar)


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors

Mail Hosting