JOKOWI OPTIMIS WABAH CORONA BERAKHIR
2021 Pariwisata Indonesia Bangkit
Jakarta, MS
Pariwisata Indonesia porak-poranda. Sengat Corona Virus Disease 2019 atau COVID-19, jadi pemicu. Kini, asa membangkitkan kembali leading sector itu, membuncah. Presiden Joko Widodo (Jokowi) beri sinyal positif.
Hasrat mengalahkan COVID-19 hingga akhir tahun ini diyakini Presiden Jokowi. Itu karena berbagai upaya taktis yang telah diluncurkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam melakukan percepatan penanganan COVID-19. Sinergitas pusat dan daerah dinilai menjadi senjata ampuh dalam penanganan virus Corona.
Buktinya, dengan angka 5.516 kasus positif COVID-19 hingga Kamis (16/4) kemarin, angka kesembuhan secara total telah berjumlah 548 orang. Sementara angka kematian secara total berjumlah 496 orang. Itu untuk pertama kalinya angka kesembuhan melampaui angka kematian.
Sinyal positif itu seakan meruntuhkan tabir gelap sektor pariwisata yang selama ini digerogoti virus Corona. Bahkan, Presiden Jokowi optimistis pada tahun 2021 terjadi booming di sektor pariwisata tanah air. "Saya meyakini ini hanya sampai akhir tahun. Tahun depan booming di pariwisata. Semua orang pengin keluar semua orang ingin menikmati kembali keindahan pariwisata sehingga optimisme itu yang harus terus diangkat," kata Jokowi dalam pengantar rapat terbatas mitigasi dampak COVID-19 terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, Kamis (16/4).
Jokowi tidak ingin adanya pesimisme terkait COVID-19 sehingga lonjakan pariwisata tahun 2021 tidak bisa dimanfaatkan dengan baik. Apalagi, pemerintah sudah menyiapkan destinasi wisata unggulan, seperti Danau Toba dan Labuan Bajo. "Jangan sampai nanti kita terjebak pada pesimisme karena masalah COVID-19 ini sehingga booming yang akan muncul setelah COVID-19 ini selesai tak bisa kita manfaatkan secara baik," ujar Jokowi.
Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama mengakui, devisa dari sektor wisata tahun 2020 diperkirakan hilang sampai separuhnya. "Potensi dari devisa saja kurang lebih, tahun lalu kita dapat devisa 20 miliar dolar dari pariwisata, mungkin tahun ini bisa sekitar separuhnya ya bahkan lebih kalau kehilangan devisa dari pariwisata," terang Wishnutama.
Untuk wisatawan yang datang pun sangat jauh perbandingannya dengan tahun lalu. Hal ini wajar terjadi karena COVID-19, pun tak bisa diprediksi kapan akan pulih. "Diperkirakan tahun ini, dari tahun lalu kita 16 juta wisatawan, tahun ini mungkin diperkirakan mencapai sekitar 5 juta," lugas Wishnutama.
Menurut dia, industri pariwisata baru akan bangkit (rebound) tahun depan. Ini karena sektor pariwisata butuh waktu cukup panjang untuk mengembalikan operasional seperti sebelumnya. "Ini karena harus dikembalikan lagi konektivitasnya, ini contoh ya misal selama ada kasus virus corona jumlah pesawat Garuda Indonesia berkurang, nah ini perlu dikembalikan lagi," kunci Wishnutama.
MITIGASI PERLINDUNGAN SOSIAL PEKERJA PARIWISATA
Pariwisata menjadi sektor yang paling terdampak oleh wabah Corona. Mencegah PHK secara besar-besaran, Jokowi menyarankan para pelaku usaha ekonomi di pariwisata agar penyiapan stimulus ekonomi dilakukan secara benar.
Presiden juga meminta adanya program mitigasi perlindungan sosial bagi pekerja di sektor pariwisata serta realokasi anggaran di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk padat karya bagi pekerja di bidang pariwisata. Selain itu, adanya program-program perlindungan kerja di bidang pariwisata dipastikan sampai sasaran.
"Langkah langkah mitigasi secepat-cepatnya diajukan. Yang pertama, program perlindungan sosial pekerja yang bekerja di sektor pariwisata betul betul dipastikan ada dan sampai pada sasaran," kata Jokowi.
Mantan Walikota Solo ini juga menyarankan realokasi anggaran dari kementerian pariwisata harus diarahkan. "Kemudian kedua juga realokasi anggaran yang ada dari kementerian pariwisata harus diarahkan semacam program padat karya tunai bagi pekerja-pekerja bergerak di bidang pariwisata," kunci Jokowi.
PEKERJA SEKTOR PARIWISATA BISA DAPAT KARTU PRAKERJA
Industri pariwisata rontok. Penyebaran virus Corona jadi dalang. Pekerja di sektor pariwisata, ikut kena imbas.
Terkait hal itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menyatakan, sebanyak 1,1 juta pekerja di sektor pariwisata bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah melalui program kartu prakerja. Dia mengaku telah berkoordinasi dengan Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah terkait fasilitas program kartu prakerja untuk pekerja di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Selain itu, ia juga berkoordinasi dengan kementerian/lembaga lain dalam memberikan bantuan kepada pekerja di sektor tersebut. "Ada 1,1 juta terkait tenaga kerja yang dapat kira-kira bisa mendapatkan kartu prakerja," ucap Wishnutama dalam video conference, Kamis (16/4).
Diketahui, pemerintah sudah membuka pendaftaran gelombang pertama untuk program kartu prakerja sejak Sabtu (11/4) kemarin hingga hari ini pukul 16.00 WIB. Jumlah peserta yang akan diterima pada gelombang pertama sebanyak 164 ribu orang.
Kemudian, peserta yang tak terpilih pada seleksi awal bisa mengikuti gelombang kedua. Secara total, terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) serta pekerja informal yang pendapatannya tertekan akibat penyebaran virus corona.
Lebih lanjut Wishnutama menjelaskan terdapat 2,1 juta Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang bergerak di sektor pariwisata yang akan dibantu oleh pemerintah. Ia bilang pihaknya akan bekerja sama dengan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah untuk memberikan bantuan tersebut.
Lalu, pemerintah juga sedang mengkaji bantuan untuk pekerja kreatif yang berkaitan dengan seni. Wishnutama akan menggandeng Kementerian Sosial dalam menyiapkan bantuan kepada mereka. "Kami bekerja sama juga dengan Kementerian Sosial untuk berikan bantuan sosial (bansos) secara langsung. Ini juga sedang dalam perencanaan agar lebih tepat sasaran," terang Wishnutama.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo memerintahkan jajarannya untuk menyiapkan sejumlah stimulus ekonomi bagi pelaku usaha di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang tertekan virus corona.
Selain itu, Jokowi juga meminta kepada ‘pembantunya’ agar pekerja di sektor pariwisata mendapatkan bantuan dari program perlindungan sosial yang digelontorkan pemerintah. "Perlu stimulus ekonomi untuk pelaku usaha di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, ini dibuat agar mereka bisa bertahan dan tidak terjadi PHK besar-besaran," tandas Jokowi.
PECEPATAN PENANGANAN CORONA
Asa Presiden Jokowi mengalahkan COVID-19, bukan isapan jempol belaka. Berbagai langkah strategis digedor sehingga bencana nasional ini ‘hengkang’ dari tanah air. Paling penting, misi melindungi masyarakat Indonesia.
Kali ini, untuk menyelamatkan lebih banyak orang dari bahaya COVID-19, tes untuk mendeteksi keberadaan virus Corona perlu lebih banyak dilakukan. Target mengetes 10 ribu spesimen per hari dicanangkan oleh pemerintah.
Tes yang ditargetkan menjadi 10 ribu spesimen per hari adalah tes PCR (Polymerase Reaction Chain), bukan sekadar tes cepat (rapid test). Tes PCR cenderung punya akurasi lebih tinggi ketimbang rapid test. Secara akumulatif, dari 1 April hingga 15 April 2020, jumlah spesimen yang diperiksa ada 36.431 spesimen dan jumlah kasus yang diperiksa spesimen ada 33.001 orang. Dari total jumlah kasus yang diperiksa itu, 5.136 orang dinyatakan positif COVID-19. Satu kasus dapat diambil lebih dari satu jenis spesimen, meliputi tes swab dari lendir nasofaring (rongga hidung), orofaring (rongga mulut), dan sputum (dahak).
Selama ini, jumlah tes PCR per hari di Indonesia berkisar ratusan tes baru per hari. Bila menengok ke luar negeri, negara-negara lain yang terjangkit Corona tak hanya menggeler tes per hari dalam jumlah ratusan, tapi puluhan ribu tes per hari. Korea Selatan misalnya, menggelar 20 ribu tes per hari, Jerman 7 ribu tes per hari, Inggris 8 ribu tes per hari. Indonesia akan menggencot jumlah tes PCR per hari.
"Seluruh kapasitas yang dimiliki untuk tanggap terhadap pandemi COVID-19 ini, di antaranya bahwa kita harus menuju target untuk melakukan 10.000 tes PCR realtime per hari," kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto dalam tayangan langsung di akun YouTube BNPB, Rabu (15/4).
Strategi pemerintah demi mencapai target tes Corona 10 ribu per hari adalah mengaktifkan 78 laboratorium untuk bisa iktu mengetes spesimen COVID-19. Selama ini, hanya 32 laboratorium yang melaksanakan tes PCR.
Strategi selanjutnya adalah penyiapan reagen, atau bahan yang dipakai dalam reaksi kimia untuk pengetesan. "Sudah barang tentu ini harus meningkatkan bukan hanya jumlah mesin tapi juga reagen, juga SDM-nya, juga sistem terkait dengan zonasi, agar memperpendek waktu kirim spesimen menuju ke laboratorium uji dan selanjutnya diinterpretasikan hasilnya," kata Yuri.
Strategi selanjutnya yakni penyiapan sumber daya manusia untuk menggenjot jumlah tes PCR. Negara sudah mendatangkan 150 ribu reagen PCR untuk segera digunakan. "Dan ini akan segera untuk kita distribusikan ke laboratorium-laboratorium yang sudah menjadi jejaring dalam pemeriksaan COVID-19," kunci Yuri.(detik/cnn)












































Komentar