SOLIDARITAS LAWAN COVID-19


Manado, MS

 

Spirit untuk menghadapi penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dengan tenang digaungkan. Masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) diminta jangan panik. Ketakutan terhadap keberadaan mereka yang berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP) hingga meninggal karena positif terpapar, diharapkan tidak terjadi. Perilaku saling mendukung dan membantu pun didorong.

 

Meski kian bertambahnya pasien positif Covid-19 di bumi Nyiur Melambai, publik diharapkan tidak terjerumus pada sikap saling menghakimi. Dalam menangani penyebaran wabah ini maka upaya saling menyemangati dan solidaritas dinilai sangat penting. Masyarakat diharapkan tidak menyudutkan mereka yang telah terpapar Covid-19 atau menolak jenazah yang meninggal akibat virus ini.

 

Bukan hanya mereka yang telah terkena Covid-19, warga yang masih dalam status ODP juga dinilai kerap mengalami pengucilan. Maka dari itu, warga Sulut diharapkan bisa saling membantu. Jangan justru sampai mengecilkan semangat hidup mereka yang terpapar. “Mari kita bangun solidaritas bagi mereka yang berstatus ODP, Pasien Dengan Pengawasan (PDP), mereka yang telah positif hingga yang meninggal akibat virus ini. Mereka bersama keluarga mereka membutuhkan dukungan, semangat serta pertolongan kita. Mari kita saling mendukung dalam melawan Covid-19,” ungkap aktivis Sulut, Helena Sulu, Senin (13/4).

 

Salah satu yang menjadi perisitiwa miris terkini menurutnya, adalah kejadian di Kabupaten Minahasa Utara (Minut). Saat itu pemakaman jenazah yang terpapar Covid-19 dinilai sempat menimbulkan kesan terabaikan. “Keluarga yang terkena dampak tentunya juga butuh dukungan dari semua pihak. Pemerintah juga diharapkan ke depannya lebih siap untuk masalah ini,” ujar pegiat Aliansi Masyarakat Adat Nusantara ini.

Ajakan serupa datang dari tokoh pemuda Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Wakil Ketua Pemuda GMIM, Penatua Devis Kepel berharap kepada seluruh masyarakat Sulut yang di dalamnya juga ada warga gereja termasuk pemuda gereja untuk mengedepankan rasa kemanusiaan. “Mari kita perangi virusnya bukan orangnya. Permasalahan yang kita hadapi saat ini sudah cukup dengan wabah penyakit Covid-19, jangan ditambah lagi dengan kemerosotan rasa kemanusiaan,” ungkap Ketua Pemuda GMIM Wilayah Tondano 5 ini, kemarin.

Penatua Pemuda Jemaat GMIM Pniel Watulambot tersebut menyampaikan, di saat-saat seperti sekarang inilah justru semua elemen harus menyatu dan saling mendukung. Bukannya justru mengucilkan terhadap mereka yang terpapar virus ini. “Mereka yang ODP sampai yang positif Covid-19 adalah saudara-saudara kita, doakan mereka, dukung mereka, bantu dan tolong mereka,” harapnya.

 

Pakar bidang kesehatan pula ikut buka suara. Peristiwa penolakan dari sejumlah warga terhadap penguburan jenazah yang terpapar Covid-19 memantik sesal Guru Besar (GB) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Epidemiologi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Prof Grace Kandou. Fenomena ini menurutnya tidak perlu terjadi. Hal ini karena pihak Pemulasaran rumah sakit (RS) pastinya sudah melakukan prosedur tetap (protap) terhadap jenazah korban Covid-19. Begitu pula jenazah bagi yang masih PDP. “Jasadnya sudah ditutup beberapa kali sehingga dianggap aman untuk keluarganya dan masyarakat. Asalkan tidak dibuka lagi plastiknya ketika dibawa untuk dikuburkan,” tegasnya, Minggu (12/4), di Manado.

 

Masyarakat dihimbau tidak perlu panik dengan menolak jenazah yang dimakamkan. Mereka yang sudah meninggal telah dilakukan steril oleh pihak yang menanganinya. Dengan demikian, segala kemungkinan tertular ketika mayat korban Covid-19 dimakamkan tidaklah mungkin. “Tolong masyarakat harus tahu, bahwa mayat Covid yang sudah meninggal dan sudah ditutup wrapping dan sudah di dalam peti, ketika dikuburkan ke dalam tanah tidak akan menularkan lagi kepada masyarakat atau warga sekitar kuburnya. Petugas yang akan memakamkan jenazah Covid juga sudah dilengkapi dengan Alat Pelindung Diri (APD) untuk keamanan mereka juga,” jelasnya.

 

WARGA BOLMONG DIMINTA JANGAN TOLAK JENAZAH

 

Gaung serupa mengiang di Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong). Pemerintah Kabupaten (Pemkab) mengajak seluruh masyarakat untuk tidak panik dalam menghadapi wabah virus corona yang saat ini tengah melanda Indonesia. Apalagi harus melakukan penolakan jika nantinya ada jenazah pasien positif terjangkit Covid-19 akan dimakamkan.

Menurut Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Bolmong, Parman Ginano, pihaknya sangat prihatin jika ada penolakan terhadap jenazah pasien Covid-19. Padahal masalah ini dinilai, bukan kejahatan melainkan sebuah cobaan. “Perlu disadari, hal ini bisa sangat menyakitkan bagi anggota keluarga jenazah. Di masa-masa sulit seperti ini, alangkah baiknya bila kita saling membantu dan memberi dukungan, bukannya malah menambah kesedihan keluarga yang ditinggalkan,” ujar Parman yang juga merangkap sebagai Juru Bicara Pemkab Bolmong ini, Senin (13/4) kemarin.

Parman juga menjelaskan, secara agama, penolakan pemakaman jenazah juga tidak dibenarkan dengan alasan apapun. Misalnya dalam agama Islam, jenazah harus diperlakukan dengan baik dan dikubur dengan penghormatan serta penghargaan. “Dalam syariat Islam, pemakaman jenazah termasuk fardu kifayah. Apabila tidak dijalankan atau tidak ada yang mau melakukan maka semua akan berdosa,” jelas Parman.

Ia menghimbau kepada masyarakat agar tidak panik dan jangan melakukan aksi penolakan terhadap pemakaman jenazah berstatus PDP maupun penderita Covid-19. “Apalagi penolakan itu sampai membuat kerumunan orang di jalan. Kerumunan inilah yang justru berpotensi menjadi tempat penyebaran virus korona. Petugas kesehatan telah memperlakukan jenazah berstatus pasien dalam pengawasan dan pasien Covid-19 sesuai protokol, sebagaimana guideline dari Kemenkes, Kemenag (Kementerian Agama), dan MUI (Majelis Ulama Indonesia). Hingga kini, tidak ada laporan dari negara manapun di seluruh dunia mengenai kasus penularan virus Corona melalui jenazah,” imbau Parman.

 

Khusus kepada para camat, lurah dan kepala desa, Parman mengajak agar memberikan edukasi kepada masyarakat. Utamanya jika ada korban meninggal dunia karena berstatus PDP maupun positif Covid-19 agar tidak ditolak. “Masyarakat perlu diedukasi bahwa pemakaman telah sesuai SOP,” pungkas Parman.

 

Sebelumnya, beberapa waktu lalu, pemakaman terhadap salah satu jenazah PDP asal Desa Mopuya sempat mengalami penolakan dari warga. Namun setelah dilakukan pembinaan dan edukasi kepada masyarakat, jenazah pria berumur 60 tahun tersebut akhirnya tetap dimakamkan di Desa Mopuya.

 

DEPROV DESAK PEMERINTAH TEGAS 

 

Fenomena jenazah Covid-19 yang sempat terabaikan di Kabupaten Minut memantik tanggap Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut). Wakil rakyat mendesak agar pemerintah bisa tegas menangani wabah ini sampai pada pemakaman.

 

Respon tesebut datang dari Anggota Komisi IV DPRD Sulut, Yusra Alhabsy. Ia mengungkapkan, kejadian di Minut menjadi pembelajaran untuk semua. Terutama bagi pemerintah agar lebih antisipatif lagi dalam menghadapi berbagai tantangan dalam menghadapi Covid-19 ini. “Karena ketidaksiapan pemerintah akan menambah kepanikan masyarakat. Jika ada kejadian yang sama bukan tidak mungkin akan terjadi penolakan juga,” ungkap politisi Partai Kebangkitan Bangsa ini, kemarin.

 

Maka dari itu wakil rakyat daerah pemilihan Bolaang Mongondow Raya ini mendorong pemerintah. Termasuk gugus tugas Covid-19 Provinsi Sulut terkait persoalan tesebut. Nantinya ke depan lebih tegas lagi dalam penerapan alur penanganan Covid-19. “Mulai dari pencegahan, pemeriksaan, pengobatan, sampai pada pemakaman jika ada yang meninggal,” ujar anggota dewan provinsi (Deprov) yang dikenal vokal ini.

 

Harapannya kepada pemerintah kabupaten kota untuk menyiapkan skenario tempat pemakaman khusus di daerah masing-masing. Ini sebagai langkah antisipasi jika terjadi resiko meninggal bagi pasien yang terkena virus corona. “Meski demikian kita mendoakan agar Sulut dapat dijauhkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dari segala bahaya virus ini,” kuncinya.

 

Diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga meminta masyarakat kembali bergotong royong dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang disebabkan virus corona. Jokowi menghimbau warga untuk saling bantu jika di kampungnya ada pasien Covid-19 yang tengah mengisolasi diri. "Kalau ada isolasi mandiri, kalau ada pasien positif yang ada di sebuah kampung, betul-betul bukan malah dikucilkan, tapi kanan kirinya bisa tolong menolong," kata Jokowi dalam rapat terbatas dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, kemarin.

 

Jokowi mendorong Gugus Tugas terus menggaungkan semangat gotong royong ini kepada masyarakat. Menurut Jokowi, hal ini sangat penting guna melawan pandemi Covid-19. Kepala Negara pun senang melihat semangat saling membantu ini sudah mulai tumbuh di kalangan masyarakat. Salah satunya ia saksikan pada masyarakat di Cimahi, Jawa Barat. "Saya sangat senang sekali kemarin melihat misalnya di Cimahi, kerukunan antar-tetangga sangat baik. Jadi yang positif diisolasi tetapi tetangganya membantu. Kegotongroyongan seperti ini yang harus kita terus kita gaungkan," ucap dia.

 

17 WARGA TERKONFIRMASI POSITIF DI SULUT

 

Update terakhir Data Pemantauan Covid-19, kembali diendus. Hingga Senin (13/4) kemarin pukul 19:26 Wita, warga yang terpapar positif Corona di Sulut berjumlah 17 orang. Walau demikian ODP berkurang jadi 277 orang. Untuk PDP ada penambahan 1 orang dan menjadi 32 orang.

 

17 pasien positif Covid-19 ini dengan catatan, 13 dirawat, 2 Sembuh (Hasil Pemeriksaan Laboratorium 2 kali Negatif) dan 2 meninggal. Sebelumnya, Minggu (12/4), Data Pemantauan Covid-19, Pasien Positif Covid-19 ada 17 orang, ODP 296 orang dan PDP 31 orang.

 

Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas (Satgas) Sulut dr Steaven Dandel mengatakan, kedua pasien baru terkonfirmasi positif adalah warga asal Kota Manado dengan jenis kelamin laki-laki. Berusia 72 tahun dan 45 tahun.

 

Lanjutnya, Pasien terkonfirmasi Positif yang ke 16 (72 tahun), punya kontak erat ada 25 orang dan akan berkembang terus. Kemudian pasien ke 17 (45 tahun), dari Manado dengan kontak erat 43 orang. "Keduanya punya riwayat perjalanan dari Jakarta ke Manado," katanya.

 

Selain mempublikasi jumlah pasien terkonfirmasi positif, PDP dan ODP, Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Sulut ini menyampaikan, saat ini sudah ada 98 orang disiapkan menjadi relawan Covid-19. "Nantinya para relawan ini akan bertugas diantaranya di rumah-rumah singgah," tambahnya. (sonny dinar/arfin tompodung/yadi mokoagow/kmp)


Komentar