Terorisme di Rakhine Ancam Asia Tenggara


Singapura, MS

Dalam kuliah umum di Singapura hari ini pemimpin Myanmar sekaligus Penasihat Negara Aung San Suu Kyi mengatakan terorisme masih menjadi ancaman di Negara Bagian Rakhine dan bisa berdampak serius bagi kawasan, khususnya bagi asia tenggara.

 

"Kegiatan terorisme yang berbahaya menjadi penyebab dari krisis kemanusiaan di Rakhine dan masih menjadi ancaman nyata hingga hari ini," kata Suu Kyi, seperti dilansir laman Channel News Asia, Selasa (21/8).

 

Menurut peraih Nobel Perdamaian itu tanpa adanya keamanan maka kekerasan antarkomunitas akan terus ada. "Ini ancaman yang bisa berdampak buruk, tidak hanya bagi Myanmar tapi juga bagi negara lain di kawasan dan sekitarnya."

 

Suu Kyi selama ini kerap menuai kritik lantaran dianggap gagal mengatasi kasus kekerasan militer terhadap etnis minoritas muslim Rohingnya di Rakhine. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut apa yang dialami muslim Rohingya adalah ‘pembersihan etnis’.

 

Sejak Agustus tahun lalu sebanyak lebih dari 700 ribu muslim Rohingya mengungsi ke Bangladesh untuk menghindari kekerasan militer di Rakhine. Myanmar kerap menyangkal telah melakukan pembersihan etnis dan kekejaman yang terjadi dan menyebut Rohingya adalah ‘teroris’.

 

Sementara, pemerintah Myanmar meminta Bangladesh mengakhiri pengiriman bantuan kepada pengungsi Rohingya. Permintaan itu dikeluarkan di tengah rencana pemulangan kembali (repatriasi) pengungsi yang sudah menetap hampir satu tahun di kamp Bangladesh.

 

Surat kabar Matichon, dikutip dari Sputnik, Senin (13/8), otoritas Negara Bagian Rakhine mengungkapkan bahwa pemerintah akan segera mulai memulangkan para pengungsi dalam kelompok-kelompok besar.

 

Myanmar dan Bangladesh mendatangani kesepakatan warga Muslim repatriasi pada November tahun lalu. Kesepakatan itu tidak mengungkapkan tanggal berakhirnya proses pemulangan, namun media berspekulasi bahwa Bangladesh baru bisa menyelesaikan repatriasi Rohingya dalam satu tahun.

 

Pada 8 Agustus lalu, Badan Pengungsi PBB (UNHCR) dan Program Pembangunan PBB (UNDP) mendesak agar Myanmar melakukan repatriasi dalam bentuk nyata dan terus memfasilitasi para pengungsi Rohingya yang pulang secara sukarela dana aman.

 

Sebagaimana diketahui, Rohingya merupakan warga etnis Muslim minoritas di Myanmar yang melarikan diri dari desa mereka di Negara Bagian Rakhine. Mereka kabur dari rumah-rumah untuk menghindari gelombang kekerasan dikerahkan oleh pasukan polisi dan militer Myanmar.

 

Sejak 25 Agustus 2017, para pengungsi Rohingya terus berdatangan ke Bangladesh, jumlahnya mencapai 705.000 . Namun sekitar 6.000 pengungsi lebih memilih tinggal di zona penyangga antara kedua negara. (mdc)

 

 

 

 


Komentar