Foto: Sosialisasi Wawasan Kebangsaan Anggota DPRD Sulut Ayub Ali Albugis
Sosialisasi Wasbang, Ayub Ajak Cintai Bangsa Indonesia
Manado, MS
Kecintaan terhadap bangsa Indonesia didorong Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut), Ayub Ali Albugis. Wakil rakyat Gedung Cengkih ini mengajak masyarakat untuk bangga hidup di negara sendiri.
Hal tersebut disampaikannya saat menggelar sosialisasi wawasan kebangsaan, Rabu (23/2), di kompleks Mwalk Marina Plaza Manado. Ia mengatakan kepada para peserta yang hadir, agar supaya mencintai bangsanya sebagai rumah tempat tinggal dan mencari nafkah. "Kita bersyukur berada di Negara Indonesia. Kita tidak dijajah dari negara lainnya. Ada banyak negara yang tidak aman karena gejolak. Seperti peristiwa di Syria. Di sini kita bisa mancari walaupun tersendat-sendat tapi rejekinya tentu ada. Makanya mari kita cintai bangsa kita. Walaupun banyak kekurangan tapi ini negara kita sendiri," ungkap Ayub saat memberikan meteri wawasan kebangsaan.
Dirinya mengungkapkan, kemerdekaan yang generasi saat ini miliki harus dijaga dengan sebaiknya. Hal itu karena generasi saat ini tidak lagi berjuang berdarah-darah. "Kuta tinggal menikmati hasil dari kemerdekaan yang diperjuangkan orangtua kita. Makanya kita antara satu sama lain harus saling menghormati. Bagaimana kita harus cinta kepada Indonesia," ujarnya.
Ia mengajak, para orang tua harus mengontrol paham-paham yang membahayakan anak-anak. Terutama pengaruh yang bisa memecah-belah negara. "Tidak boleh saling menjelek-jelekkan. Cintai bangsa kita. Semua negara pasti punya kurang lebihnya," tuturnya.
Abbas Ahmad SPd yang juga membawakan materi menyampaikan, berbicara wawasan kebangsaan perlu terlebih dahulu mengupas tentang sejarah Indonesia. Indonesia mempunyai Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, Bhineka Tungga Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). "Pancasila sudah final tidak bisa diganti dengan paham apapun," katanya.
Selanjutnya ia menjelaskan mengenai bhineka tunggal ika yang menurutnya sudah muncul dari abad ke-7. Ketika itu mereka sudah sepakat dengan semboyan bhineka tunggal ika. "Kita terdiri dari banyak pulau, agama, suku dan ras, budaya tapi Indonesia aman-aman saja. Karena kita punya semboyan bhineka tunggal ika. Artinya berbeda -beda tetapi tetap satu. Beda agama suku tapi kita tetap satu Indoensia. Sejarahnya juga panjang. Abad ke 7 terjadi perang besar, perang agama. Perang dua kerjaan Sailendra dan Sanjaya. Perang besar Budha dan Hindu. Karena dua kerajaan ini sudah baku kawin akhirnya hidup berdampingan dan menyampaikan bhineka tunggul ika," ungkapnya. (arfin tompodung)














































Komentar