Foto: Paulus Adrian Sembel
Derita Petani Cengkih Sulut, APCI Menggugat
Manado, MS
Harga cengkih di Sulawesi Utara (Sulut) terus menukik. Episode panen raya berbuntut keluh. Kejayaan ‘emas coklat’ kian memudar.
Nasib buntung yang dialami petani cengkih Nyiur Melambai, kini berbuah protes. Sejumlah aktifis cengkih jazirah utara Pulau Selebes, sepakat ‘menggugat’. Pemerintah Provinsi (Pemprov) khususnya instansi terkait yakni Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) disorot.
Wakil Ketua Asosiasi Petani Cengkih Indonesia (APCI) Sulut, Paulus Adrian Sembel (PAS) mengatakan, polemik harga cengkih diharapkan tidak dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Alasannya, keberadaan petani cengkih sudah sangat memberikan dampak besar bagi negara. Harusnya petani mendapat keadilan.
“Harus ada simbiosis mutualistik (saling menghidupkan) antara pemerintah, pengusaha dalam hal ini perusahaan rokok dan petani. Karena lewat komoditas cengkih ini, pemerintah memperoleh pajak cukai rokok yang sangat besar sampai triliunan rupiah dan perusahan rokok telah mengembangkan usaha-usaha mereka di bidang yang lain,” tegas PAS.
Mantan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tomohon Periode 2009-2014 ini, mengurai kesusahan petani ketika mengurusi kebun cengkih. Ia menjelaskan, sejak pemeliharaan, pemetikan, sampai pengeringan, biaya yang dikeluarkan petani cukup besar. “Bahkan sejak pemetikan, biaya yang dikeluarkan kurang lebih 69 ribu rupiah. Termasuk di dalamnya sewa buruh pemetik, buat tangga, sediakan, sarung, karung, tikar, pembersihan cengkih mentah, penyimpanan dan lain-lain. Belum lagi soal biaya transportasi baik cengkih mentah dari kebun ke rumah dan cengkih kering untuk dijual ke pedagang atau pembeli. Ini tidak dihitung dari pemeliharaan bertahun-tahun, pupuk dan lain-lain,” tegasnya.
Paling penting di sini, menurut dia, bukan soal tambah kurang harga pasaran saat ini dengan biaya produksi. Dampak psikologis masyarakat tani yang berpuluh-puluh tahun berkecimpung dengan tanaman cengkih, kemudian diperhadapkan dengan persoalan hidup sehari-hari. Makanya, menjadi penting adalah bicara prinsip keadilan antara pemerintah, pengusaha atau perusahaan rokok maupun petani. “Apa yang petani dapat, setelah sekian tahun sejak Indonesia merdeka sudah memberikan sumbangsih besar terhadap ekonomi negara, juga telah menciptakan orang-orang kaya di republik ini yakni para pemilik perusahaan rokok besar,” tuturnya.
Dampak sosial jatuhnya harga cengkih bertahun-tahun di daerah ini adalah terjadinya proses pemiskinan masyarakat secara struktural dan masif. Buktinya, lahan pertanian tidak bisa diolah maksimal karena kekurangan modal. “Petani tidak mampu menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan tinggi, pengangguran besar, ancaman trafficking bagi gadis-gadis anak petani dan lain-lain,” tandasnya.
Sebelumnya, kepada wartawan pihak Disperindag Sulut mengatakan, jika harga berkisar Rp58 ribu per kilogram, petani masih akan mendapat keuntungan. Pernyataan itu langsung mengundang respon dari berbagai kalangan termasuk petani.
"Kami sudah rugi besar," aku Yapi Kalo, petani asal Desa Bulawan Kecamatan Kotabunan, Bolaang Mongondow Timur (Boltim).
Dia berharap harga cengkih kering akan naik menjadi Rp70 hingga Rp80 ribu per kilogram. "Besar harapan semoga harga cengki bisa naik. Jika perlu sampai di 80 ribu rupiah per kilogram," harapnya.
Senada dikatakan Utung Bisnun. Petani asal Desa Bukaka membeberkan, selama musim panen tidak ada keuntungan yang didapatkan. Melainkan rugi, karena hasil jual tidak sebanding dengan apa yang dikeluarkan. "Biar hasil panennya besar, tapi harganya murah tetap saja rugi. Sudah berapa kali musim panen harga cengkih masih belum stabil," keluhnya.(arfin tompodung)












































Komentar