Foto: Melky Pangemanan
Polemik Bendera, PSI Bakal Tempuh Jalur Hukum
Aksi pemasangan bendera partai di Kota Manado menyulut gesekan. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) melayangkan protes atas tindakan pencopotan umbul-umbul mereka. Armada Grace Natalie di Sulawesi Utara (Sulut) ini pun ancam lakukan proses hukum.
Polemik yang memanas di momen kedatangan dua Ketua Umum (Ketum) Partai Nasional Demokrat (Nasdem) dan PSI ini, ditengarai terjadi pukul 04.00 Wita, Selasa (26/3). Hal itu dijelaskan Wakil Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PSI Sulut, Jurani Rurubua. Ia menyampaikan, kejadian tersebut sewaktu tim dan relawannya memasang bendera di tempat yang sudah disediakan Pemerintah Kota (Pemkot) sejak jam 24.00 Wita malam sampai pukul 04.00 pagi. Mereka bergerak dari Manado Convention Center (MCC) menuju ke Bandar Udara (Bandara) Sam Ratulangi. "Sampai di depan transmart, bertemulah kami dengan tim pemasangan bendera dari Partai Nasdem," kata Jurani.
Ia menjelaskan, di posisi yang sudah mereka pasang dari SPBU Kairagi sampai depan transmart, bendera mereka dicabut dan diganti dengan bendera Nasdem. Padahal bendera mereka sudah memasang lebih dahulu. "Yang paling membuat kami kecewa, bendera kami ditaruh di tanah yang di sampingnya ada sampah-sampah, semua dicabut sampai di bawah," ujarnya.
"Setelah tim kami mengganti, eh, tiba-tiba datanglah seorang camat yang melarang kami untuk memasang bendera PSI karena mereka klaim bahwa mereka lebih dahulu. Padahal saksi ada 8 orang dan bukti foto pemasangan jam 2 pagi ada di kami. Sedangkan mereka memasang jam 4 pagi," tuturnya.
Ia menjelaskan, oknum camat itu dengan sikap marah-marah menyuruh tukang sapu untuk mencabut bendera PSI. Kemudian memaksa agar diganti dengan bendera Nasdem. "Adakah seorang camat boleh berpolitik? Bahkan dia menyebut dengan terang-terangan bahwa dia seorang camat!" pungkas Jurani.
Kejadian itu ikut memantik reaksi Ketua DPW PSI Sulut, Melky Pangemanan. Ia mengungkapkan, pencopotan dan perusakan bendera PSI adalah tindakan melawan hukum. "Kami DPW PSI Sulawesi Utara akan memroses hukum kejadian ini," tegasnya, kemarin.
Apalagi menurutnya, pelanggaran tersebut diduga dimotori oleh oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan jabatan camat di Pemkot Manado. Bendera PSI dicopot dan dirusak lalu digantikan bendera partai lain. Baginya hal ini sangat mencederai demokrasi. "Saya selaku Ketua DPW PSI Sulawesi Utara, menghimbau kepada semua pihak terutama pengurus dan kader PSI di Sulawesi Utara agar jangan terpancing dan terprovokasi. Kita akan tempuh sesuai prosedur hukum. Laporkan ke Bawaslu (Badan Pengawas Pemilihan Umum) dan pihak kepolisian," tuturnya.
Baginya, pencopotan dan perusakan bendera PSI, tidak akan mematahkan semangat PSI. "Kehadiran Ketua Umum kami, Grace Natalie dalam kampanye di Tanah Toar Lumimuut, akan semakin membangkitkan semangat kami untuk terus berjuang melawan korupsi, intoleransi dan ketidakadilan dinegeri ini," tutupnya. (arfin tompodung)













































Komentar