DBD ‘Menggila’, Deprov Sidak RSUP Kandou
79 Pasien Dirawat, 3 Meninggal
Laporan : Arfin TOMPODUNG
Serbuan virus dengue di Bumi Nyiur Melambai yang kian menggila memantik gerak para wakil rakyat. Upaya penelusuran di lapangan pun ditempuh. Salah satunya dengan menyambangi rumah sakit yang merawat pasien Demam Berdarah Dengue (DBD). Langkah ini guna melihat secara langsung penanganan pasien penyakit bawaan nyamuk Aedes Aegypti tersebut.
Hal itu terlihat saat Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut), James Karinda, mendatangi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof DR. Kandou, Jumat ( 11/1). Dalam kunjungan tersebut, Karinda ikut melakukan penyisiran seputaran rumah sakit, khususnya mengunjungi mereka yang terkena penyakit DBD.
Saat melihat kondisi pelayanan di RSUP Kandou, Karinda ikut beri tanggapan. Baginya, maksud sidak ini sebagai upaya respon cepat pihak DPRD Sulut untuk menindaklanjuti keluhan warga terkait DBD. Ia pun merespon positif langkah RSUP Kandou terkait percepatan penanganannya.
“Dua hari sebelumnya di RS Kandou banyak sekali pasien yang dirawat tapi sekarang ini sudah berkurang,” ujar anggota dewan provinsi (deprov) dari fraksi Partai Demokrat ini.
Menurutnya, kondisi ini menandakan adanya tindakan cepat karena mekanisme pelayanan di RSUP Kandou itu. Hal itu dibuktikan dengan pernyataan dari beberapa pasien yang ia sempat tanyakan. “Salut kepada Dirut Dr dr Jimmy Panelewen atas pelayanan cepat terhadap pasien,” pujinya.
Dia menambahkan, persoalan tersebut perlu ada himbauan dari kabupaten kota ke masyarakat. Ini agar ada tindakan antisipasi dari masyarakat terhadap persoalan tersebut. “Karena ini penyakit ada terus. Jadi harusnya penanganan dan sosialsasi ke masyarakat. Seperti penanganan penampungan air itu di rumah kemudian penyemprotan-penyemprotan dan sebagainya,” urai wakil rakyat daerah pemilihan Kota Manado yang kini mencalonkan diri ke DPR-RI.
Sementara dari pengakuan pihak rumah sakit, di awal tahun 2019 ini sudah ada 75 pasien yang dirawat di RSUP Kandou. Dari kesemuanya itu 3 di antaranya telah meninggal.
“Ini memang siklus tahunan. Untuk yang dewasa datanya kita belum perhatikan berapa. Karena memang kami perhatikan dan fokus kita ke pasien DBD anak sebab mereka sangat rentan,” ungkap Direktur Utama (Dirut) RSUP Kandou, DR. dr. Jimmy Panelewen Sp.B-KBD.
Ia mengungkapkan, sebenarnya ini sudah 2 kali terjadi peningkatan kasus. Hal itu sesuai penjelasan dari pihak Dinas Kesehatan (Dinkes). Kalau telah seperti itu menurutnya, kondisi ini masuk pada Kejadian Luar Biasa (KLB).
“Kalau sudah dua kali peningkatan kasus berarti sudah KLB. Hanya saja rumah sakit tidak berhak, mesti instansi pemerintah yang menetapkan status KLB itu,” ungkapnya. (***)

.jpeg)











































Komentar