SULUT SIAGA


Manado, MS

Intensitas curah hujan yang tinggi belakangan ini berbuntut petaka. Banjir bandang telah memporak-porandakan daerah Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra). Masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) pun dihimbau siaga bencana.

Cuaca ekstrim masih terus melanda wilayah bumi Nyiur Melambai. Dengan adanya dampak yang luar biasa terjadi di Bumi Patokan Esa Mitra, membuat Gubernur Sulut Olly Dondokambey layangkan peringatan. Seluruh masyarakat dimintanya agar waspada di penghujung tahun ini. Hal itu karena curah hujan sangat tinggi di wilayah provinsi Sulut.

"Jadi kami menghimbau kepada masyarakat yang tinggal di perbukitan, lereng-lereng gunung, lebih berhati-hati dan waspada," himbau Olly, Selasa (21/9) kemarin.

Masyarakat dimintanya untuk melihat tanda-tanda bencana alam. Bila ada potensi terjadi bencana dengan curah hujan yang begitu lama, dihimbaunya supaya berhati-hati. "Kalau ada hal-hal yang kita tidak inginkan seperti ada tanda-tanda hujan sudah dua hari berturut-turut, ada baiknya menghindar dari tempat-tempat yang membahayakan," ungkapnya.

Gubernur Olly pula menyampaikan keprihatinan atas intensitas cuaca hujan yang tinggi akhir-akhir ini sehingga berujung musibah dan adanya korban. Seperti diketahui, Kabupaten Mitra luluh lantak. Akses transportasi Ratahan-Manado putus. Kejadian tersebut, langsung viral di media sosial. Dikabarkan juga, ada korban jiwa yang dilaporkan hilang. Dugaan kuat akibat terseret arus air yang deras. "Dan kami sangat prihatin. Kami turut berduka cita atas korban longsor yang ada di kabupaten Mitra. Kita ketahui baru ditemukan satu orang. Tim Pemerintah Provinsi juga sudah di lapangan," ungkap Gubernur Olly.

Dari laporan yang didapat dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sulut dan sumber lain, hujan deras mulai mengguyur sebagian daerah Mitra sejak, Senin (20/9) pagi. Dampak parah mulai terlihat sore hari sekitar pukul 15.05 Wita. Seperti yang terjadi di kompleks Rumah Makan Sederhana, Kelurahan Nataan Ratahan. Tak ada yang menyangka, air deras disertai lumpur meluap dari Sungai Abuang kemudian menghantam 1 kios, 1 rumah dan 1 usaha bengkel pengelasan. Rumah serta bangunan usaha itu hanyut terseret. Dampak lainnya, akses transportasi utama yakni jalur protokol Ratahan-Manado ikut terputus. Warga yang hendak menuju Manado maupun sebaliknya, terpaksa harus menempuh jalur alternatif yaitu mengitari jalan Atep Langowan, Minahasa.

Di titik lain, bencana banjir bandang juga menghantam Desa Pangu, Kecamatan Ratahan. Aliran air deras disertai lumpur memenuhi ruas jalan raya mulai dari gedung GMIM Elim Pangu, mengarah pemukiman menuju Ratahan.

Beberapa rumah warga diantaranya mengalami kerusakan dan ikut terbawa arus. Diketahui, daerah-daerah ini berada di kaki perbukitan Manimporok Minahasa-Mitra dan memiliki sejumlah jalur utama air menuju pesisir pantai Mitra, melintasi pusat kota Ratahan.

Di Kelurahan Lowu, luapan air Sungai Palaus mulai mengkhawatirkan warga karena terjadi luapan air berlumpur, dengan volume yang besar. Sedangkan di tempat lain, wilayah Wioy Raya Ratahan Timur dan Minanga Raya Pusomaen, pun tak luput dari genangan air disertai lumpur.

 

EMPATI UNTUK MITRA BERDATANGAN

Tragedi banjir bandang di Mitra memantik simpati publik. Mulai masyarakat hingga para pemimpin daerah di Sulut. Empati hingga bantuan untuk para korban berdatangan.

Pasca bencana melanda, puluhan rumah mengalami kerusakan mulai dari ringan hingga berat. Tak ketinggalan sejumlah fasilitas publik turut terdampak. Asa untuk Mitra pun bersahut-sahutan di media sosial. Tagar savemitra dan prayformitra tersaji di dunia maya. Segenap netizen mengungkap harap agar tak ada lagi bencana susulan. Tak ketinggalan warga asal Mitra yang berada di luar daerah, turut mengungkapkan doa untuk tanah kelahirannya.

Keprihatinan juga datang dari pemerintah daerah Provinsi Sulut. Peninjauan langsung dilakukan Gubernur Sulut Olly Dondokambey. Ia didampingi Bupati James Sumendap, melakukan pemantauan di beberapa titik terdampak mulai dari Pangu hingga Wioy Raya. Sejumlah bantuan kemanusiaan pun menyertai peninjauan tersebut. “Saya prihatin dengan kejadian ini. Dan mudah-mudahan warga tetap diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi musibah ini,” ungkap Gubernur Olly Dondokambey, usai menyerahkan bantuan kepada warga terdampak.

Dia mengatakan, pihaknya bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mitra akan bersama-sama menangani hal ini. “Perbaikan infrastruktur akan segera diperbaiki, termasuk rumah warga didalamnya. Instansi terkait agar segera menindaklanjuti hal ini,” ucap gubernur lirih.

Informasi dihimpun, sejumlah rumah rusak parah dan terbawa arus air disertai lumpur. Wilayah Pangu menjadi yang terbanyak hingga menyentuh angka puluhan rumah. Selanjutnya di Kelurahan Nataan, Lowu dan Wioy Raya juga terdampak bencana tersebut. Di satu sisi, pihak Pemkab Mitra melalui Dinas Sosial segera mendirikan dapur umum di titik lokasi terdampak bencana. Ini dimaksudkan untuk membantu warga setempat yang terkena musibah. “Kita sudah akan mendirikan dapur umum untuk warga yang ada, guna membantu masyarakat setempat yang terkena dampak bencana,” ucap Kepala Dinas Sosial Franky Wowor.

 

PAKAR TANGGAPI TERKAIT HUJAN DAN HUTAN

Akar persoalan bencana Mitra ‘dibedah’. Pakar di Sulut berikan kajian. Hujan lebat dan keberadaan hutan di daerah ini disorot.

Ahli sistem ekologi Universitas Negeri Manado (Unima), Mercy Rampengan, angkat bicara. Ia menyebut peristiwa banjir bandang di wilayah Mitra terjadi akibat intensitas curah hujan yang tidak normal. “Memang sebelumnya sudah ada peringatan dari BMKG (Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika) untuk beberapa provinsi di Indonesia terkait kemungkinan banjir bandang hari ini (kemarin, red). Jadi bisa disimpulkan faktor penyebab peristiwa ini yaitu curah hujan dengan intensitas yang sangat tinggi membuat tanah jenuh sehingga meluap. Akibatnya air tidak semuanya bisa diserap tanah dan akhirnya melalui sungai, tapi karena sungai atau saluran kecil maka air dengan volume yang besar itu pun meluap,” kata Rampengan saat dihubungi Media Sulut, Senin (20/9).

Dirinya juga menyentil tentang faktor penggundulan kawasan hutan. Memang diakuinya ini bisa menjadi salah satu penyebab banjir bandang. Namun Rampengan menyebut dalam konteks peristiwa ini hal itu tidak bisa dijadikan satu-satunya pemicu.

“Ini kan tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi sudah ada peringatan dini terlebih dahulu oleh pemerintah melalui BMKG pusat soal potensi banjir bandang. Jadi di sini bisa kita lihat bahwa prakirawan cuaca sudah melihat potensi intensitas curah hujan yang tidak biasa,” jelasnya lagi seraya menambahkan, peringatan dini dari BMKG harus dijadikan alarm bagi masyarakat untuk mengantisipasi potensi terjadinya bencana.

Gejolak alam di wilayah Sulut sebelumnya memang sudah diprediksikan terjadi. Peringatan tegas sudah dilayangkan BMKG melalui update peringatan dini cuaca ekstrim yang dirilis 20 September 2021 pukul 17.50 wita. BMKG memaparkan sejumlah daerah di Sulut yang berpotensi terjadi hujan sedang hingga lebat yang disertai kilat/petir dan angin kencang. Wilayah tersebut yakni Minahasa Tenggara, Bitung, Minahasa, Minahasa Utara, Kepulauan Sitaro dan sebagian wilayah Barat Manado. Hujan lebat ini menurut BMKG berpotensi banjir bandang pada Senin (20/9) pukul 07.00 WIB hingga Selasa (22/9) pukul 07.00 WIB.

 

DPRD SULUT INGATKAN KELESTARIAN HUTAN

Peristiwa alam yang menghantam Mitra memantik tanggap Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulut. Masalah kelestarian hutan disorot. Tragedi banjir bandang itu harapannya bisa dipetik hikmahnya dan dijadikan pelajaran.

Tanggapan itu datang dari Anggota DPRD Sulut, Djein Leonora Rende (DLR). Dia mengatakan, adanya banjir bandang patut menjadi perhatian dari semua pihak agar dapat melestarikan hutan. Apalagi wilayah Ratahan ada di bawah perbukitan Manimporok. "Ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk menjaga lingkungan dan alam sekitar," tegasnya saat memantau kondisi warga terkait bencana banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Ratahan dan Ratahan Timur, Selasa (21/9).

Ia meminta supaya mulai sekarang jangan ada lagi penebangan hutan. Hentikan tindakan-tindakan yang merusak lingkungan. "Mulai saat ini jangan adalagi penebangan pohon secara liar karena itu merupakan serapan air serta jangan ada membuang sampah sembarang," katanya.

Saat melakukan peninjauan, lady first Mitra itu juga menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga terdampak. "Ini peristiwa alam yang kita tidak dapat duga, sehingga berdampak sampai rusaknya sejumlah rumah warga," katanya.

Legislator asal daerah pemilihan Mitra dan Minahasa Selatan (Minsel) ini juga mengharapkan gerak cepat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mitra untuk membantu dan menangani warga terdampak bencana. "Kami mengharapkan pemerintah bisa segera membantu masyarakat dan benahi lingkungan terdampak bencana," tandasnya didampingi Kepala Kecamatan Ratahan Arce Kalalo dan Ratahan Timur Meyta Ompi.

Sementara, usai melakukan peninjauan, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Mitra ini menyalurkan bantuan kepada 100 kepala keluarga yang terdampak di Kecamatan Ratahan dan Ratahan Timur. (reckykorompis/sonny dinar/jackson kewas)

 


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors