REDAM CORONA, KEAMPUHAN IVERMECTIN DIUJI
Jakarta, MS
Indonesia
masih bergumul. Infeksi virus corona terus menggerogoti. Kondisi negeri tambah
parah dengan menjalarnya Covid-19 mutasi Delta. Pemerintah ‘putar otak’ meredam
pergerakan virus mematikan ini.
Kegelisahan
masyarakat Tanah Air terhadap ancaman Covid-19, tidak membuat pemerintah diam.
Gerak pencegahan hingga penanganan virus corona semakin tangguh. Selain
penerapan protokol kesehatan ketat, program memberikan imunitas bagi seluruh
masyarakat melalui program vaksinasi digedor.
Terkini, salah
satu upaya pemerintah memperkuat ‘benteng’ pertahanan dari gempuran virus yang
bermula dari Kota Wuhan itu dengan menyiapkan ‘penawar’ Covid-19.
Hal itu
ditandai dengan keluarnya Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) Ivermectin,
untuk penggunaan sebagai obat Covid-19. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)
telah merestui uji klinis pamakaian Ivermectin di delapan rumah sakit Jakarta.
"Badan
POM sejalan dengan rekomendasi WHO memfasilitasi untuk segera pelaksanaan uji
klinik yang diinisiasi oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Kementerian Kesehatan," terang Kepala BPOM Penny Lukito melalui konferensi
pers yang disiarkan di Youtube Badan POM RI, pada Senin (28/5). Pengujian
dilakukan dalam kurun waktu tiga bulan dengan pemberian obat kepada pasien
selama 5 hari dan pemantauan dimulai 28 hari setelah pemberian obat.
Penny
mengatakan persetujuan uji klinik tersebut diberikan BPOM dengan pertimbangan
publikasi beberapa uji klinik yang sudah dilakukan sejumlah negara lain terkait
pemakaian Ivermectin sebagai obat Covid-19.
Dalam beberapa
publikasi, kata dia, ditemukan bahwa obat yang merupakan obat cacing itu dapat
digunakan untuk menanggulangi Covid-19. Ia mengatakan hal ini juga sesuai
rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyatakan Ivermectin bisa
digunakan untuk Covid-19 dalam lingkup uji klinis. "Dengan demikian akses
masyarakat untuk obat ini bisa juga dilakukan secara luas dalam pelaksanaan uji
klinik," tutur Penny.
Namun di luar
uji klinik, penggunaan Ivermectin juga diizinkan selama diresepkan dokter dan
mengikuti protokol yang ditetapkan dalam uji klinik.
Lebih lanjut,
Penny mengklaim penggunaan Ivermectin sudah dilakukan sejumlah negara dengan
tujuan menekan laju Covid-19. Seperti di India, Ceko, Peru dan Slovakia.
Mendukung itu,
Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Moeldoko menyatakan, obat
Ivermectin untuk pasien positif Covid-19 sudah dipakai sejumlah negara. Ia
mengklaim Ivermectin efektif menurunkan rasio kematian akibat Covid-19.
Merujuk
penelitian Front Line Covid Critical Care (FLCCC) Alliance, Moeldoko menyebut
sudah ada 33 negara yang menggunakan Ivermectin sebagai obat penyembuh
Covid-19. "Menurut FLCCC Alliance sudah ada 33 negara yang menggunakan
Ivermectin dalam mengatasi Covid-19, antara lain Brazil, Zimbabwe, Jepang, dan
India," ujar Moeldoko dalam sebuah webinar, Senin (28/6).
Selain itu,
kata Moeldoko, berdasarkan American Journal of Therapeutic ada penelitian yang
melibatkan 3.406 partisipan yang terbagi menjadi 15 uji klinis. Dari hasil uji
klinis itu, Ivermectin terbukti dapat mengatasi Covid-19 sebesar 95 persen.
"Jadi dari 3.406 partisipan menunjukkan menekan tingkat kematian pasien
Covid. Selain itu juga tercatat 15 negara sudah berhasil melawan Covid dengan
menggunakan Ivermectin," ujarnya.
"Peru,
Meksiko, Slovakia adalah negara yang turut berhasil menekan penderita Covid
dengan penggunaan Ivermectin," sambung Moeldoko.
Kepala Staf
Kepresidenan itu mendorong agar Indonesia mulai menggunakan Ivermectin.
Terlebih, saat ini kondisi pandemi di Indonesia semakin memburuk.
Bahkan, mantan
Panglima TNI itu pun mengaku telah mengambil keputusan yang berani dengan
mendistribusikan Ivermectin kepada anggota HKTI. "Melihat situasi dalam
negeri, melihat apa yang dilakukan negara-negara lain, saya Ketua HKTI dan
mantan Panglima TNI tentu berpikir sedikit berbeda melihat situasi ini,"
tandasnya.
Sebelumnya,
Epidemiolog Universitas Griffith Dicky Budiman menegaskan Ivermectin belum
diakui WHO sebagai obat untuk menyembuhkan Covid-19. Ia pun meminta agar
pemerintah tak terlalu mengglorifikasi obat Ivermectin. "Sering kali
glorifikasi, sering banyak hal-hal yang positif banget, tapi berlebihan. Ini
berlebihan. Seperti Ivermectin, enggak ada WHO merekomendasikan, negara-negara
maju yang punya standar tinggi juga tidak merekomendasikan. Karena ini masih
uji klinis. Kita harus hati-hati," sebut Dicky.
Ia menilai
strategi komunikasi risiko pengendalian pandemi yang dilakukan pemerintah
selama ini kurang efektif. Terutama yang berkaitan dengan pelbagai program
kuratif seperti penyediaan vaksin hingga obat Covid-19.
BPOM SEBUT
INDIA PAKAI IVERMECTIN
Pemanfaatan
obat cacing Ivermectin dalam penanganan Covid-19, mulai ditakar. Terlepas dari
polemik, BPOM mengklaim banyak negara memakai Ivermectin untuk penanganan
pandemi Covid-19. Salah satunya India.
"Saya
kira sudah banyak negara menggunakan Ivermectin ini. India juga pada saat masa
periode (penularan kasus) intensitas tinggi mereka gunakan Ivermectin. Hingga
mereda, mereka mulai tidak menggunakan lagi," jelas Kepala BPOM Penny
Lukito, Senin (28/6) dikutip dari CNNIndonesia.com.
Selain India,
Ivermectin juga digunakan di Peru, Slovakia dan Ceko untuk pasien covid-19
bersamaan dengan jalannya uji klinik.
Meski bisa
digunakan, dia mengimbau masyarakat agar tidak membeli Ivermectin secara bebas,
termasuk pada platform online dengan mekanisme penjualan yang ilegal.
ERICK THOHIR
SIAP PRODUKSI IVERMECTIN
Sinyal
dukungan pemerintah terhadap penggunaan Ivermectin mengencang. Hal ini untuk
mengatasi ketersediaan obat terapi Covid-19 di Indonesia di tengah lonjakan
kasus, akhir-akhir ini.
Menteri BUMN
Erick Thohir melaporkan kepada BPOM produksi obat Ivermectin akan digenjot
sampai 4,5 juta butir dalam waktu dekat. "Khususnya hari ini kita bicara
Ivermectin. Kami sudah menyiapkan produksi sebesar 4,5 juta. Nah ini kalau
memang ternyata baik untuk semua, tentu produksi ini akan kami genjot,"
sebut Erick saat konferensi pers virtual bersama BPOM, Senin (28/6).
Kendati
begitu, Erick tidak memberi rincian target waktu produksi obat tersebut. Ia
hanya menekankan ketersediaan obat seperti Ivermectin sangat dibutuhkan saat
ini. "Dengan kondisi yang sekarang dilakukan pemerintah, apalagi PPKM
Mikro terus ditingkatkan, ya tidak lain karena mencoba membantu rakyat mendapat
obat murah atau (obat) terapi murah yang diputuskan setelah uji klinis,"
katanya.
Selain
Ivermectin, Erick memastikan ketersediaan obat-obat lain seperti Oseltamivir,
Favipiravir, hingga Remdesivir juga masih cukup untuk masyarakat. "Contoh
obat Oseltamivir, itu tersedia, Favipiravir tersedia. Kemarin kami kerja keras
dengan Kemenlu, Kemenkes, (untuk obat) Remdesivir, karena sempat dari India
terbatas. Kemarin sudah coba proses. Kalau bisa produksi dalam negeri,"
jelasnya.
Tak cuma
menggenjot ketersediaan obat di dalam negeri, ia memastikan pemerintah juga
terus bertekad mempercepat penyediaan vaksin covid-19 buatan dalam negeri,
yaitu Vaksin Merah Putih. Sebab, saat ini vaksin covid-19 yang didistribusikan
ke masyarakat berasal dari bahan baku dan vaksin jadi dari luar negeri.
"Selain vaksin impor, BPOM, Kemenkes, dan BUMN sedang menjajaki Vaksin
Merah Putih atau Vaksin BUMN. Ini agar kita bersama-sama bisa berikan yang
terbaik," pungkasnya.
WHO MINTA
INDONESIA BELAJAR DARI INDIA
Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) meminta Indonesia mencontoh penerapan penguncian wilayah
(lockdown) yang diterapkan India dalam menangani gelombang kedua lonjakan virus
corona.
Dalam laporan
terbaru tentang situasi Covid-19 di Indonesia, WHO memaparkan keberhasilan
India menekan lonjakan infeksi corona yang diperparah dengan kemunculan varian
Delta dengan salah satunya menerapkan pembatasan pergerakan hingga lockdown
lebih ketat.
"Pembatasan
pergerakan sosial dan kebijakan kesehatan publik (PHSM) bekerja secara efektif
bahkan dalam konteks varian yang sangat menular. Dengan menggunakan PHSM, India
dapat dengan cepat mengendalikan penularan dari 290 infeksi per 100 ribu
penduduk setiap minggu pada awal Mei hingga menjadi kurang dari 30 kasus per
100 ribu penduduk pada 21 Juni," bunyi laporan WHO.
Saran itu
diutarakan WHO setelah melihat lonjakan kasus corona di Indonesia dalam dua
pekan terakhir. Pada Sabtu (26/6) dan Minggu (27/6) Indonesia mencatat rekor
infeksi corona sampai 21 ribu kasus dalam sehari. Jumlah itu yang tertinggi
sejak awal pandemi menyebar di Tanah Air.
WHO
membandingkan lonjakan kasus corona Indonesia dengan India. Organisasi itu
mencatat India kembali mengalami lonjakan besar kasus Covid-19 mulai awal Maret
lalu dengan puncaknya pada awal Mei, di mana terdapat lebih dari 400 ribu kasus
corona dalam sehari.
WHO juga
menekankan jumlah kematian corona turut memuncak sekitar 10 hari kemudian,
dengan lebih dari 4.000 kematian dalam sehari.
Di sisi lain,
situasi corona di India saat itu juga diperparah dengan kemunculan varian Delta
yang lebih menular. Sementara itu, proporsi penduduk yang sudah divaksinasi
lengkap masih kurang dari 3 persen dari total hampir 1,4 miliar penduduk India.
WHO mengatakan
sejak itu India menerapkan lockdown yang lebih ketat lagi dari gelombang
pertama corona. Pada 25 April, pemerintah India juga mendesak seluruh negara
bagian menerapkan lockdown di wilayah-wilayah dengan tingkat kasus positif 10
persen ke atas. "Dengan ambang batas itu, hampir semua negara bagian India
menjalani pembatasan pergerakan ketat meski waktu, penegakan, dan durasinya
bervariasi. Beberapa negara bagian dilengkapi dengan lockdown parsial sebelum
dan sesudah menerapkan lockdown total," kata WHO.
Menurut WHO,
kebijakan pembatasan pergerakan dan pencegahan corona lainnya perlu
ditingkatkan segera setelah situasi dinilai memburuk, salah satunya jika
terjadi lonjakan penularan corona secara signifikan.
WHO mengatakan
perlu waktu 10 hari atau lebih agar kebijakan pembatasan pergerakan itu
terlihat dampaknya.
Lembaga
kesehatan dunia itu menuturkan jika pembatasan pergerakan diterapkan dan
ditegakkan secara tepat waktu, pembatasan aktivitas lainnya tidak harus
dilakukan dalam skala nasional. "Implementasi kebijakan pembatasan
pergerakan yang lambat atau tertunda sering kali menyebabkan peningkatan
morbiditas dan mortalitas, sehingga memerlukan penanganan yang lebih serius
dengan durasi yang lebih panjang," papar WHO.
"Di New
Delhi, lockdown dimulai pada 19 April ketika penularan lebih dari 600 kasus per
100 ribu penduduk setiap minggu," ujar lembaga itu menambahkan.
Lebih lanjut,
WHO menegaskan komunikasi risiko dan keterlibatan masyarakat merupakan faktor
paling penting dari keberhasilan pembatasan pergerakan dan pencegahan penularan
corona.
Menurut WHO,
hasil yang sukses "hanya mungkin terjadi ketika masyarakat memahami
perlunya tindakan tegas dan mematuhi rekomendasi pemerintah".
KASUS POSITIF
COVID-19 TERUS MELONJAK
Kasus positif
corona kembali bertambah 20.694 pada Senin (28/6). Dengan demikian, total kasus
positif Covid-19 di Indonesia telah mencapai 2.135.998.
Merujuk data
Satgas Penanganan Covid-19 pemerintah pusat, dari total kasus positif, sebanyak
1.859.961 di antaranya telah dinyatakan sembuh. Pasien yang sembuh dari infeksi
Covid-19 bertambah 9.480 dari hari sebelumnya. Kemudian dari total kasus
positif, sebanyak 57.561 meninggal dunia. Jumlah pasien yang meninggal dunia
usai terinfeksi virus corona bertambah 423.
Sementara itu,
Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman menyebut saat ini Covid-19 mutasi Delta
mulai mendominasi di Indonesia. Kepala LBM Eijkman Amin Soebandrio mengatakan
hal ini dilihat berdasarkan pengamatan Eijkman dari sampel virus yang telah
diisolasi. "Dari virus yang diisolasi belakangan ini, ini mulai kelihatan
varian delta ini mulai mendominasi," ujar Amin dikutip dari
CNNIndonesia.com, Senin (28/6).
Meski begitu,
ia belum dapat memastikan apakah lonjakan kasus positif virus corona di
Indonesia memiliki kesinambungan dengan adanya varian baru jenis Delta itu.
Saat ini
dijelaskan Amin, pasien yang terpapar varian Delta di Indonesia paling banyak
berada di DKI Jakarta, dengan total temuan yang terkonfirmasi 96 pasien.
Dilanjut Jawa Barat dengan temuan 47 pasien. Amin menyebut, sebaran varian
Delta juga tersebar di beberapa wilayah Indonesia, yakni Jawa Tengah, Jawa
Timur, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Banten. Dengan
total kasus keseluruhan yakni 246 pasien. "Sudah ditemukan semakin banyak
sudah mencapai jumlahnya 246. Tersebar di paling banyak di Jakarta kemudian di
jawa barat. Ketiga di Jawa Tengah, Jawa Timur dan beberapa daerah lagu di luar
jawa Sumsel, Kalteng, Kaltim, Banten, Gorontalo dan Depok ada 1," kunci
Amin.(CNNIndonesia)













































Komentar