PEMAKAIAN ASTRAZENECA ‘BATCH CTMAV547’ DISETOP, SULUT DAERAH SEBARAN
Jakarta, MS
Roda proses vaksinasi menggunakan AstraZeneca dihentikan sementara. Itu menyusul arahan pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia (RI). Dua lembaga ini menyetop sementara distribusi dan penggunaan vaksin tersebut.
Penghentian dikhususkan pada Vaksin AstraZeneca batch (kumpulan produksi) CTMAV547. Hal ini dilakukan untuk pengujian toksisitas dan sterilitas oleh BPOM, sebagai bentuk kehati-hatian pemerintah untuk memastikan keamanan vaksin. Vaksin ini diketahui sudah didistribusikan untuk Tentara Nasional Indonesia (TNI), sebagian di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta dan Sulawesi Utara (Sulut).
Hal itu diakui Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan Covid-19 Sulut dr Steaven Dandel. Sulut sendiri, menurut dia, telah menerima 215 ribu dosis Vaksin AztraZeneca. Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Daerah (Dinskesda) Sulut ini mengungkapkan, 163 ribu dosis di antaranya vaksin AstraZeneca batch CTMAV547. "Sekitar 20 ribuan dosis sudah terpakai," ujar Dandel kepada awak media, Minggu (16/5).
Meski begitu, dia memastikan bagi penerima vaksinasi AztraZeneca batch CTMAV547 di tahap I tidak masalah menyusul penghentian sementara. "Tidak masalah, nanti disuntik dengan batch lain untuk tahap kedua," lugas Dandel.
Diketahui, pemerintah resmi menghentikan sementara distribusi dan penggunaan vaksin AstraZeneca batch CTMAV547. Merujuk siaran pers Minggu (16/5), Kemenkes RI menyebut batch vaksin AstraZeneca CTMAV547 berjumlah 448.480 dosis.
Rekomendasi untuk melakukan uji sterilitas dan toksisitas kepada BPOM diberikan oleh Komnas KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi), terkait adanya laporan KIPI serius yang diduga terkait vaksin AstraZeneca. Sebagai langkah kehati-hatian, Kemenkes RI menyetop sementara vaksin AstraZeneca khusus batch tersebut. Ditegaskan, vaksin dari batch lain tetap digunakan karena manfaatnya lebih besar. "Penggunaan vaksin AstraZeneca tetap terus berjalan dikarenakan vaksinasi Covid-19 membawa manfaat lebih besar," ungkap juru bicara vaksinasi COVID-19 Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi.
Hingga saat ini, berdasarkan data Komnas KIPI belum pernah ada kejadian orang yang meninggal dunia akibat vaksinasi Covid-19 di Indonesia. Dalam beberapa kasus sebelumnya, meninggalnya orang yang statusnya telah divaksinasi COVID-19 adalah karena penyebab lain. "Bukan akibat dari vaksinasi yang diterimanya," imbuh dia.
SELAIN BATCH CTMAV547, PEMERINTAH JAMIN VAKSIN ASTRAZENECA AMAN
Pemerintah telah menghentikan sementara distribusi dan penggunaan vaksin AstraZeneca batch CTMAV547. Namun, selain batch itu pemerintah memastikan vaksin AstraZeneca aman dan meminta masyarakat tidak perlu ragu.
Berdasarkan keterangan tertulis di situs Kemenkes RI, Minggu (16/5), penghentian ini dilakukan untuk pengujian toksisitas dan sterilitas oleh BPOM sebagai bentuk kehati-hatian pemerintah untuk memastikan keamanan vaksin. Tidak semua batch vaksin AstraZeneca dihentikan distribusi dan penggunaannya. Hanya batch CTMAV547 yang dihentikan sementara sambil menunggu hasil investigasi dan pengujian dari BPOM yang kemungkinan memerlukan waktu satu hingga dua pekan.
"Ini adalah bentuk kehati-hatian pemerintah untuk memastikan keamanan vaksin ini. Kementerian Kesehatan menghimbau masyarakat untuk tenang dan tidak termakan oleh hoax yang beredar. Masyarakat diharapkan selalu mengakses informasi dari sumber terpercaya," ungkap Jubir Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi.
‘BATCH CTMAV547’ MASUK SULUT
Sekira 448.480 dosis vaksin Corona AstraZeneca batch CTMAV547 telah disebar. Selain untuk TNI dan sebagian DKI Jakarta, Sulawesi Utara merupakan salah satu daerah sebaran vaksin ‘batch’ tersebut.
Hal itu dibenarkan Kemenkes RI. Disebutkan, batch vaksin AstraZeneca CTMAV547 berjumlah 448.480 dosis. Jumlah ini merupakan bagian dari 3.852.000 dosis yang diterima RI dari COVAX Facility. "Batch ini sudah didistribusikan untuk TNI dan sebagian ke DKI Jakarta dan Sulawesi Utara," tulis Kemenkes RI.
Terkait hal itu, pengamat pemerintah dan kemasyarakatan Rolly Toreh SH beranggapan, petunjuk penghentian sementara pemakaian vaksin Corona AstraZeneca batch CTMAV547 termasuk di Sulut, harus dipatuhi. Sebab, menurut dia, merujuk petunjuk pusat. “Memang sinergitas seperti ini sangat baik. Karena ini menyangkut upaya penanganan Covid-19, jadi semua harus mematuhi arahan pemerintah pusat,” ujarnya.
“Jadi ketika ada keputusan untuk menghentikan sebaiknya dipatuhi. Tentu saja pemerintah pusat punya maksud yang baik. Apalagi, sebagai bentuk kehati-hatian pemerintah untuk memastikan keamanan vaksin ini,” imbuhnya.
MEI, INDONESIA TERIMA 5,6 JUTA DOSIS VAKSIN ASTRAZENECA
Vaksin virus Corona asal Inggris, AstraZeneca bakal membanjiri tanah air sepanjang bulan Mei ini. Itu sekitar 5,6 juta dosis.
Hal itu dikatakan Menteri Kesehatan (menkes) Budi Gunadi Sadikin. Ia menyebut kedatangan jutaan dosis vaksin itu bakal melalui skema kerjasama multilateral Aliansi Global untuk Vaksin dan Imunisasi (GAVI) COVAX Facility. "Alhamdulillah dengan bantuan Pak Presiden, diharapkan bahwa bulan ini kita sudah kedatangan 3,8 juta vaksin AstraZeneca dari program GAVI yang gratis. Rencananya akan datang lagi sekitar 1,8 juta dosis AstraZeneca gratis, sehingga total 5,6 juta dosis," kata Budi dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat presiden, Senin (3/5) lalu.
Indonesia sejauh ini telah menerima sebanyak 4,9 juta dosis vaksin AstraZeneca. Rinciannya, dan 3 juta lainnya didatangkan ke Indonesia pada 26 April lalu. Tak hanya itu, Budi juga menyebut pasokan ketersediaan vaksin covid-19 di Indonesia akan disokong dengan produksi vaksin mentah (bulk) Sinovac oleh PT Bio Farma sebanyak 18 juta dosis pada bulan ini.
Jumlah tersebut adalah bagian dari target 47 juta dosis yang merupakan hasil proses produksi dari bulk Sinovac yang sudah diterima Bio Farma sebanyak 59,5 juta dosis sampai saat ini. "Vaksin cukup, segera lakukan vaksinasi," kata dia.
Dengan upaya itu, mantan direktur utama Bank Mandiri itu pun meminta agar masyarakat tetap menjaga antusiasme untuk mendapatkan vaksin. Sebab, dengan akselerasi program vaksin nasional, maka ia berharap varian baru mutasi corona yang saat ini teridentifikasi di Indonesia tak mengganggu jalannya vaksinasi. Sejauh ini terpantau sudah ada enam varian corona yang berhasil teridentifikasi di Indonesia, yakni varian D614G, B117, N439K, E484K, B1525, dan B1351
"Karena selama mutasi masih sedikit yang varian of concern itu, maka adalah saat yang tepat sesegera mungkin melakukan vaksinasi untuk melindungi diri dan keluarga kita," pungkasnya.
Diketahui, Indonesia sepanjang April lalu terhalang ketersediaan jumlah dosis vaksin. Imbasnya, pemerintah mengatur laju vaksinasi dan membatasi sasaran vaksinasi tahapan kedua hanya fokus pada lansia dan tenaga pendidik. Hal tersebut dinilai imbas dari embargo vaksin yang dilakukan sejumlah negara, termasuk India.
Namun demikian, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menegaskan untuk saat ini travel ban atau embargo vaksin AstraZeneca yang diproduksi India telah dicabut sehingga vaksin tersebut bisa kembali didatangkan ke Indonesia.(detik/cnn/sonny dinar)













































Komentar