VAKSINASI COVID-19, LANSIA AMAN


Jakarta, MS

Tanah Air ‘babak belur’. Eksistensi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) masih perkasa. Untuk memproteksi masyarakat, program vaksinasi Covid-19 diluncurkan. Salah satu target vaksinasi yakni para Lanjut Usia (Lansia).

Program vaksinasi bagi kaum lansia sebelumnya menjadi bahan pergunjingan. Itu dikarenakan belum adanya uji klinis resmi terkait pemanfaatan vaksin Sinovac Biotech. Padahal di Indonesia, lansia menjadi korban virus Corona dengan tingkat kematian yang cukup tinggi.

Angin segar bagi lansia berhembus setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyetujui vaksinasi Covid-19. Itu setelah ada data uji klinis fase III di Brazil serta fase I dan II di Cina. Vaksinasi diharapkan menekan angka penularan Covid bagi lansia khususnya kasus kematian.

"BPOM memperoleh data-data ini pada akhir Januari 2021," terang Kepala BPOM Penny K Lukito saat konferensi pers, Minggu (7/2).

Dia mengatakan, uji klinis fase I dan II di Cina, yang melibatkan subjek sebanyak 400 orang, menunjukkan Coronavac yang diberikan dua dosis dengan jarak 28 hari menunjukkan hasil imunogenisitas yang baik. Kemudian ada peningkatan kadar antibodi yang baik dengan zero conversion rate 97,96 persen. "Data keamanan yang dapat ditoleransi dengan baik dan tidak ada efek samping serius derajat ketiga yang dilaporkan karena pemberian vaksin," jelas Penny.

Adapun uji klinis fase III di Brazil dengan subjek 600 orang juga menunjukkan hasil serupa, tidak ada efek samping serius dan kematian akibat pemberian vaksin Covid-19 ini. "Studi klinis hanya menunjukkan efek samping ringan seperti nyeri, demam, mual, bengkak, kemerahan pada kulit dan sakit kepala," tuturnya.

Berdasarkan kajian tersebut, BPOM akhirnya mengeluarkan izin penggunaan vaksin Coronavac produksi Sinovac pada lansia, pada 5 Februari 2021.

Meski begitu, Penny berpesan, pemberian vaksin terhadap lansia tetap dilakukan dengan prinsip kehati-hatian. Sebab, populasi lansia berisiko tinggi karena cenderung memiliki komorbid atau penyakit penyerta. "Ini harus diperhatikan dalam penggunaan vaksin. Proses skrining menjadi sangat penting sebelum memutuskan pemberian vaksin terhadap lansia. Manajemen risiko harus dilaksanakan sebaik-baiknya apabila terjadi KIPI. Kita harapan angka kematian terhadap kelompok lansia menurun setelah proses vaksinasi dilakukan," ujarnya.

NAKES LANSIA PRIORITAS

Pemerintah langsung bergerak. Setelah giliran tenaga kesehatan (Nakes) se-Indonesia, program vaksinasi kini menjangkau Lansia. Rencananya, program tersebut akan dimulai Senin (8/2).

"Insyaallah akan mulai jam 9 pagi," terang Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada Minggu (7/2).

Penyuntikan kepada lansia dimulai setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan mengeluarkan emergency use otoritation untuk vaksin Sinovac. Budi mengakui target vaksinasi terhadap lansia akan diutamakan kepada orang di atas 60 tahun yang bekerja sebagai tenaga kesehatan. Budi mengatakan mereka diprioritaskan karena relatif lebih rentan terhadap covid.

Masih Budi, penyuntikan vaksin Covid-19 kepada lansia memang menjadi prioritas kedua, setelah tenaga kesehatan. Sebab, lansia memiliki resiko yang lebih besar mengalami efek fatal akibat covid. Dari total jumlah orang yang terkonfirmasi positif, 10 persennya adalah lansia. Dari jumlah itu, hampir setengahnya meninggal. “Itu membuktikan lansia resikonya tinggi,” ucap dia.

Menkes berharap vaksinasi Covid-19 terhadap lansia akan mengurangi jumlah pasien yang harus dirawat ke rumah sakit karena kondisi yang memburuk. Dengan begitu, dia berharap beban kerja rumah sakit juga bisa berkurang.

Sebelumnya, Menkes juga mengakui jika target awalnya menyasar kalangan tenaga kesehatan yang berjumlah sekitar 11.600 orang se-Indonesia. Kementerian Kesehatan kini masih menghitung jumlah lansia umum. Alasan pemerintah menggelar vaksinasi massal untuk kalangan lansia ini karena mereka tergolong berisiko tinggi. “Dan bisa fatal kalau kena Covid-19,” katanya.

Seperti di luar negeri, menurutnya, setelah vaksinasi kalangan tenaga kesehatan dilanjutkan bagi populasi lansia. Kondisinya dari satu jutaan kasus positif Covid-19 di Indonesia, ujar Budi, ada sekitar 10 persen yang merupakan pasien lansia. “Yang meninggal karena Covid-19 sebanyak 50 persen dari yang terkena itu,” katanya.

Karena itu setelah BPOM mengeluarkan izin penggunaan darurat (EUA) CoronaVac buatan Sinovac, pemerintah langsung menggelar vaksinasi massal untuk lansia tenaga kesehatan.

Tambah Budi, pihaknya telah membuat petunjuk teknis vaksinasi lansia dan menginformasikannya ke jajaran di lapangan. Pihaknya juga sudah berkonsultasi dengan Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI). “Secara prinsip screening-nya sama dan ada yang lebih didetailkan lagi karena makin lanjut usia makin banyak penyakit, biasanya begitu,” tutur Budi.

Ia berharap vaksinasi ini bisa mengurangi kondisi berat lansia yang terpapar Covid-19 sekaligus mengikis tanggungan beban tenaga kesehatan di rumah sakit.

Sementara itu, menurut Direktur Perencanaan, Organisasi dan Umum Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Muhammad Kamaruzzaman, vaksinasi bagi tenaga kesehatan lansia belum dimulai hari ini. “Saat ini baru pendataan, vaksinasi mulai besok,” ujarnya, Senin kemarin.

DINILAI RISIKO TINGGI

Meski telah mendapa ‘lampu hijau’ BPOM, program vaksinasi lansia dinilai memiliki risiko tinggi. Warning pun dibunyikan untuk mengantisipasi persoalan baru.

Demikian Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito. Dia mengatakan vaksinasi ke populasi lansia yang berisiko tinggi harus dilakukan secara hati-hati karena faktor komorbid atau penyakit penyerta. “Karena itu proses screening (penyaringan) menjadi penting untuk persetujuan vaksinasi,” ujarnya lewat keterangan secara daring.

BPOM, menurut Penny, sudah mengeluarkan informasi yang dapat digunakan tenaga kesehatan dan vaksinator dalam penyaringan lansia sebelum vaksinasi. Manajemen risiko juga menurutnya harus dilaksanakan sebaik-baiknya jika ada kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI).

Bagi lansia yang berumur 70 tahun lebih, menurut Penny, perlu ada pertimbangan khusus dan pendampingan dari dokter saat penyaringan. “Bukan dilarang untuk yang di atas 70 tahun, tapi data yang kami terima sampai usia 70 tahun,” ujarnya.

Tenaga kesehatan yang berusia di atas 60 tahun menjadi prioritas penerima vaksin karena selain menjadi kelompok yang rentan akibat berhadapan langsung dengan pasien Covid-19, mereka juga berisiko mengembangkan kondisi fatal jika terinfeksi virus tersebut.

Sebelumnya, BPOM memberikan izin penggunaan darurat vaksin Covid-19, CoronaVac, buatan Sinovac kepada populasi lansia di atas 60 tahun. Pemberian vaksin pada lansia membutuhkan perhatian khusus mengingat kelompok ini rentan memiliki komorbid atau kondisi penyerta. Termasuk di dalamnya adalah penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes.

Dalam fact sheet yang dipublikasikan di Pusat Informasi Obat Nasional (PIONAS), tercantum beberapa kondisi yang harus jadi perhatian sebelum lansia bisa disuntik vaksin Covid-19. Kondisi tersebut adalah kesulitan untuk naik 10 anak tangga, penurunan aktivitas fisik (sering merasa kelelahan), memiliki 4 dari 11 penyakit seperti hipertensi, diabetes, kanker (selain kanker kulit kecil), penyakit paru kronis, serangan jantung, gagal jantung kongestif, nyeri dada, asma nyeri sendi, stroke dan penyakit ginjal. Selanjutnya, Mmengalami kesulitan berjalan kira-kira 100 sampai 200 meter serta penurunan berat badan yang bermakna dalam setahun. BPOM juga beberikan 3 catatan terkait persetujuan vaksinasi Covid-19 untuk lansia.

“TAK ADA EFEK SAMPING SERIUS”

Vaksinasi terhadap kelompok lansia harus dilakukan secara hati-hati karena memiliki risiko tinggi. Di sisi lain, vaksin tersebut dinilai tak ada efek samping serius yang mengancam lansia saat pemberian vaksin.

Itu dikatakan Kepala BPOM, Penny Lukito. "Dengan data yang dapat ditoleransi dengan baik dan tidak ada efek samping yang serius, uji klinis fase ketiga di Brazil dilakukan terhadap 600 lanjut usia dengan hasil aman dan tanpa ada dampak serius," jelas Penny.

Efek samping yang muncul umumnya ringan, seperti nyeri, mual, demam, bengkak, dan sakit kepala. "Reaksi vaksinasi lansia dengan 18-59 tahun sebenarnya tidak ada bedanya," ungkap Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PP Peralmuni) kepada CNNIndonesia.com, Senin (8/2).

Diungkapkan Iris, ada dua reaksi lokal yang mungkin muncul, yaitu reaksi lokal dan sistemik. Reaksi lokal terjadi karena jarum yang dimasukkan ke dalam tubuh, hal ini menyebabkan bekas kemerahan.  "Ini masuk akal. tapi enggak semua orang gitu."

Sedangkan reaksi kalau sistemik biasanya terjadi di seluruh tubuh, misalnya ada demam, diare, mual, muntah, pusing, sakit kepala. "Tapi tentu sudah diantisipasi misal minum paracetamol kalau demam, istirahat, ada obat mual," katanya.

"Reaksi yang bisa kita duga, kan tertulis di vaksinnya. Bilamana bisa terjadi ini, kita antisipasi reaksi alergi, ini tidak bisa kita duga, nah itu reaksi alergi bisa terjadi, enggak tau pada siapa," imbuhnya.(detik/cnn/tempo)


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors

Mail Hosting