Kurang Tersentuh, PTS di Sulut Tuntut Perhatian Pemerintah

Sinergitas Dengan Legislatif dan Eksekutif ‘Dipecut’


Laporan: Arfin Tompodung

Keluh perguruan tinggi swasta (PTS) di Sulawesi Utara (Sulut) menyembul. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap keberadaan mereka jadi penyebab. Asa ke depan, bisa ada keseimbangan terkait bantuan untuk kampus swasta dan negeri.

Rektor Universitas Parna Raya Rosdiana Simbolon SE MSi menyampaikan, sampai saat ini pemerintah belum benar-benar menyentuh bantuan ke PTS. Maka dari itu, mereka memilih jalan untuk menyampaikan aspirasi ke para wakil rakyat. "Siapa tahu ke depan pemerintah bisa peduli dengan pengembangan pendidikan di perguruan tinggi swasta," ujarnya tatkala bersama rombongan PTS di Sulut mendatangi kantor DPRD Sulut, Jumat (2/10) yang diterima Anggota DPRD Sulut, Fanny Legoh.

Dijelaskan, selama 20 tahun PTS tidak pernah mendapat bantuan apa-apa dari pemerintah. Apalagi status dosen mereka pula kurang di-upgrade untuk melanjutkan study ke jenjang doktor. "Kemudian mahasiswa kita ini juga kebanyakan yang dari pulau-pulau dari pinggiran maka kalau bisa mahasiswanya diberikan bantuan. Sehingga mereka bisa lanjut terus dan selesaikan sarjana," pungkasnya.

Harapan para PTS ini pula agar pemerintah dan legislatif mampu bersinergi dengan pihak yayasan PTS. Kalau tidak pendidikan akan sangat ketinggalan. "Kemudian juga kenapa lembaga layanan Dikti (pendidikan tinggi) ada di Gorontalo. Mereka hanya 15 PTS kita di Sulut 60 PTS dan induk pendidikan perguruan tinggi kan pertama kali di Sulut. Maka mari jalinan segitiga antara perguran tinggi, legislasi dan eksekutif mari kita bangun," ungkap salah satu dari PTS yang datang.

Pendidikan juga dinilai tidak bisa terus berharap dari pihak yayasan. Apalagi ketika sedang dilanda Covid. "Kita butuh bantuan pemerintah dan legislasi," tuturnya.

Sementara itu Anggota Komisi IV DPRD Sulut, Fanny Legoh mengatakan, nantinya perlu ada keseimbangan antara kampus negeri dan PTS. Dengan demikian Sumber Daya Manusia (SDM) di Sulut bisa bertumbuh lebih cepat. "Seperti UTSU (universitas teknologi Sulawesi Utara) banyak alumninya kerja di kementerian. Apakah Unsrat juga demikian. Itu yang kita harapkan. Bagaimana pendidikan Sulut itu bisa menciptakan manusia yang siap pakai untuk pembangunan di Sulut. Apalagi Jakarta itu kompetisinya tinggi sekali. Semuanya bekerja IP (indeks prestasi) mesti 3," pungkas Legoh.

"Pendidikan ke depan di Sulut harus menjadi sumber pendidikan. Untuk bantuan kita masih akan bicarakan, tentu akan ada pertemuan-pertemuan tahap berikutnya," kuncinya. (arfin tompodung)

 

 

 

 


Komentar