GOLKAR MASIH PERKASA, PDIP LAWAN SERIUS
Pilbup Minsel Kans Sengit
Amurang, MS
Atmosfer pemilihan kepala daerah (pilkada) 2020 Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) memanas. Kesamaan kursi di tataran legislatif antara Partai Golongan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) salah satu penyulut. Banteng Moncong Putih disebut-sebut jadi ancaman. Namun keunggulan perolehan suara membuat Beringin masih kokoh.
Arena pemilihan bupati (pilbup) dipastikan sengit karena kursi PDIP mengalami peningkatan signifikan dengan meraup 10 kursi, sama dengan Partai Golkar di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Minsel. Sementara, munculnya figur populis kedua kubu ikut mempengaruhi. Diendusnya nama dr Michaela Elsiana Paruntu MARS (MEP) dari pihak Golkar dan punggawa PDIP Franky Donny Wongkar (FDW) pada bursa calon 2020, membuat kontestasi semakin seru.
Meski begitu, posisi Partai Golkar terbilang unggul. Walau jumlah kursi setara di DPRD namun suara Golkar Minsel untuk calon legislatif (caleg) berada di atas PDIP. Selain itu, ini dipandang bukan satu-satunya ukuran. Sebab suara untuk DPRD Provinsi Dapil Minsel-Mitra juga bisa dijadikan dasar. Sesuai hasil, Golkar untuk DPRD Sulut khusus daerah Minsel punya angka lebih dengan 45.724 suara dibanding PDIP yang hanya 41.373 suara. Apalagi kekuatan Golkar bertambah karena Christiany Eugenia Paruntu masih memegang kendali bupati.
"Kalau menurut saya, Golkar masih tangguh dan kuat pada Pilbup 2020 akan datang, akan tetapi PDIP juga menjadi ancaman serius. Namun figur-figur yang bermunculan antara PDIP masih wacana dan belum keputusan akhir partai," ungkap pengamat Politik Sulut Taufik Tumbelaka, Senin (13/5) kemarin, saat dimintai tanggapan.
Perolehan suara dan kursi dinilai tidak sepenuhnya menentukan. Figur yang berkualitas dianggap sebagai senjata kuat. Apalagi menurutnya, duel ‘merah’ dan ‘kuning’ belum final. Sebab jalan berkoalisi masih terbuka lebar. Keduanya bisa saja masih berpadu. "Semua calon masih wacana, bukan tidak mungkin koalisi masih terbuka dan berpeluang, entah Golkar dan PDIP ataupun dengan Partai lain. Intinya figur yang harus dimunculkan harus figur yang punya popularitas yang baik," jelas Tumbelaka.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Sulut Christiany Eugenia Paruntu (CEP) SE, sudah memberikan sinyal buat dr Michaela Elsiana Paruntu MARS untuk bertarung sebagai bupati yang akan diusung Partai Golkar 2020 mendatang. "Penatua dr Michaela Elsiana Paruntu MARS voor Minsel Berdikari Cepat untuk Pembangunan Berkelanjutan, Tuhan memberkati," ungkap CEP sapaan akrab Paruntu.
Vendy Tendean salah satu simpatisan Partai Golkar kepada koran ini mengatakan, Michaela sangat layak untuk memimpin Minsel ke depan. Selain MEP punya massa militan, Penatua Remaja Sinode GMIM ini juga memiliki kemampuan menjadi seorang pemimpin Minsel yang baik. "MEP sudah menjadi harga mati Partai Golkar ke depan, MEP layak menjadi pemimpin Minsel," ucap Tendean.
Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Minsel Stefanus Lumowa SE yang dikonfirmasi terkait dengan wacana Pilbup 2020 menjelaskan, dirinya yakin dengan kekuatan PDIP di DPRD. Hal itu karena sudah mengamankan 10 kursi sehingga bisa mengusung. "PDIP sudah mengusung sendiri tanpa koalisi dan akar rumput meminta agar PDIP mengusung FDW sebagai Kader terbaik PDIP Sulut. Yang jelas kami sudah sangat siap, akan tetapi kami menunggu keputusan akhir dari Ketua DPD I Sulut bapak Olly Dondokambey," tukas Lumowa.
Jems Momongan bersama Jein Tambuwun yang merupakan simpatisan dan kader akar rumput PDIP menghendaki FDW untuk maju pada Pilbup Minsel 2020 sebagai Calon Bupati Minsel. "Kami inginkan agar FDW yang sekarang sebagai wakil Bupati Minsel, diusung PDIP untuk maju sebagai Calon Bupati Minsel. Karena FDW kader terbaik yang dimiliki PDIP dan layak untuk bertarung bahkan menjadi bupati Minsel ke depan," terang mereka berdua.
FRANKY WONGKAR TAK GENTAR
Digadang-gadang menunggangi Banteng di Pilbup Minsel, Franky Wongkar, akhirnya buka suara. Sosok Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Sulut ini mengaku siap maju bila nanti dipercayakan.
Sebagai petugas partai, Franky legowo. Dirinya memberikan sinyal positif untuk maju bupati. "Harus siap terus. Di politik harus siap terus, jangan mundur," tegas Wongkar, baru-baru ini.
PDIP optimis membidik kursi 01 Minsel. Perolehan suara signifikan di DPRD Minsel periode 2019-2024 jadi modal besar untuk bertarung di Pilkada 2020. Tampil memborong 10 kursi, partai bercorak merah ini memenuhi syarat untuk bisa mengusung sendiri di Pilkada mendatang. "Kalau Minsel, PDIP punya tiket mengusungkan sendiri," tegas Wongkar.
Dirinya sangat yakin ini bisa ditembus PDIP dengan melihat kondisi kursi di DPRD Minsel sekarang. Ia memandang hal ini sebagai bentuk kepercayaan masyarakat kepada partainya. "Karena fakta saat ini, masyarakat mempercayakan suaranya pada PDIP. Artinya ada peningkatan kan dari 6 sampai 10 maka mudah-mudahan kita bisa (mengusung, red)," tutur wakil bupati Minsel ini.
Soal kabar mulai adanya partai lain yang melobi, ia menyambut terbuka. Baginya, pihak PDIP tetap akan membangun komunikasi dengan partai lainnya. "Soal parpol kami selalu terbuka. Tinggal ada komunikasi politik. Kan tahapannya, komunikasi politik dulu, baru ada kesepakatan, baru kemudian penetapan. Jadi kami mengikuti tahapan-tahapan," ujarnya.
PDIP TARGET SAPU RATA DI SULUT
Ambisi besar diusung PDIP di Sulut. Tak hanya Minsel, Banteng Moncong Putih menargetkan sapu rata seluruh daerah pelaksana Pilkada 2020. Jumlah kursi legislatif yang signifikan jadi modal utama.
Kursi 01 jadi incaran di 6 daerah dari 7 kabupaten kota yang akan menghelat Pilkada. Mengingat di enam daerah, PDIP bisa mengusung pasangan calon sendiri, tanpa harus koalisi. Minus Bolaang Mongondow Timur (Boltim). "Berdasarkan dengan hasil pileg, Pilkada serentak 2020 kita (PDIP, red) targetkan sapu rata,” tegas Ketua Bappilu DPD PDIP Sulut, Lucky Senduk, saat dihubungi di sela rekapitulasi perhitungan suara pemilu 2019 tingkat provinsi, di Hotel Peninsula Manado, baru-baru ini.
Daerah pertama yang akan menjadi target PDIP adalah Kota Bitung. Itu menyusul kesuksesan partai besutan Olly Dondokambey merajai perolehan kursi legislatif di markas Partai Nasdem tersebut. "Pertama Bitung. Kita menang pileg (pemilihan legislatif) dan menduduki ketua DPRD. Itu diwajibkan menang di Pilwako," lugasnya.
Begitu pula di Minut. Ia memastikan PDIP akan mengusung calon bupati untuk Pilkada. “Di sana (Minut, red) harus menang,” sembur Senduk. Sama halnya dengan Pilwako Manado. "Manado juga tanpa koalisi. Kalau ada yang ingin bergabung silahkan. Tapi kita mengusung sendiri bisa," sambungnya lagi.
Minsel juga dibidik. Capaian hasil pileg yang signifikan jadi acuan. PDIP yang sebelumnya hanya mendapat 6 kursi, kini berhasil meraih 10 kursi. “Kursi kita sama dengan Golkar. Tapi kita (PDIP, red) yang meningkat drastis. Itu menunjukkan kader PDIP makin banyak dicintai dan dipercaya masyarakat. Jadi kita akan mengusung paslon sendiri,” beber Senduk.
Sedangkan di Bolsel PDIP tetap optimis akan menang. “Karena sebelumnya (Pilkada, red) kita juga menang di sana. Perolehan kursi legislatif di sana juga fantastis, karena sukses meraih 11 dari 20 kursi DPRD Bolsel,” imbuhnya.
Tomohon juga ikut dibidik PDIP, karena meraih 4 kursi legislatif yang bisa mengusung pasangan calon sendiri. Hanya saja, Kota Bunga dinilai perlu mendapat perhatian lebih. “Sebab kita (PDIP,red) masih agak lemah di Tomohon. Tapi kita dapat mengusung paslon sendiri,” ungkap Senduk.
Khusus Boltim, PDIP masih akan melihat dinamika politik. "Kalau Boltim masih akan kita lihat perkembangannya. Apa akan maju sendiri atau koalisi. Karena kita hanya meraih 3 kursi," tuturnya.
"Jadi intinya, PDIP memang menguasai 11 kabupaten kota. Namun kan 7 daerah yang akan pilkada, kita bidiknya 6, cuma Boltim kita tak mengusung sendiri. Hanya saja Tomohon kita masih agak lemah," timpalnya.
Disinggung soal Pilgub Sulut, Senduk optimis PDIP akan menang. "Kita yakin akan menang di Pilgub," tegas Senduk. “Dan sampai hari ini (Kemarin, red) PDIP masih OD-SK,” sergahnya.
Pun begitu, proses pengusungan paslon tetap akan mengacu dari aturan dan mekanisme partai. "Khusus untuk pilkada kabupaten kota, ada tahapannya. Pertama mendaftar di DPC (Dewan Pimpinan Cabang), kemudian wawancara di DPD, kemudian melakukan fit and proper test di Jakarta. Nanti DPP yang memutuskan. PDIP punya mekanisme tersendiri. Dan itu wajib diikuti," kuncinya. (serma)












































Komentar