Pemkab Bidik Mafia Sembako

Harga Sembako Melambung Jelang Idul Fitri


Tondano, MS

Memasuki bulan puasa, harga bahan pokok di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Minahasa mulai tak stabil. Dikhawatirkan adanya permainan dari oknum-oknum mafia pasar. Langkah antisipasi terkait permainan gembong penggerus harga sembako itu dinilai perlu dilakukan.

 

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Minahasa, Suhban Torar, bahkan menyebut harus ada efek jera bagi para pemain sembako yang kedapatan. "Kalau memang kedapatan ada permainan langsung ditindak tegas, karena masyarakat sudah dirugikan," tegasnya.

Melihat kondisi saat ini, dia menilai kenaikan harga bahan pokok yang tinggi adalah hal yang tidak wajar. "Karena produksi cabe dan bawang merah di Kabupaten Minahasa masih normal dan masih memenuhi kebutuhan pasar," paparnya.

Kalau sampai harga melambung tinggi, dia mencurigai adanya permainan kartel terkait kenaikan harga bahan pokok dipasaran. "Yang patut kita waspadai yaitu adanya mafia yang bermain dibalik kenaikan harga sejumlah bahan pokok ini. Makanya pengawasan harus lebih ditingkatkan," imbaunya.

Assisten Bidang Pembangunan dan Perekonomian Sekdakab Minahasa, Wilford Siagian ikut menanggapi soal ini. Kata dia, sepak terjang mafia kartel di pasar tradisional diakuinya masih jadi persoalan besar dibalik menjulangnya harga bahan pokok.

"Penimbunan stok masih sering terjadi, utamanya menjelang hari raya. Padahal stok ada, tapi ini permainan dari kartel. Nah kondisi ini yang sedang jadi perhatian utama pemerintah dan kami terus berupaya melakukan pencegahan," ucap Siagian.

Memasuki bulan puasan tahun ini, Siagian mengakui bahwa sudah ada langkah preventif yang ditempuh pemerintah.

"Ada solusi yang kami tawarkan yaitu Gapoktan akan berperan langsung dalam distribusi hasil pertanian. Kemudian hasil itu dijual ke pasar swalayan modern," kata dia.

Namun diakuinya, usul tersebut masih harus menunggu persetujuan para pemilik usaha swalayan modern. "Pertemuan kemarin kan yang hadir kebanyakan hanya perwakilan pemilik swalayan saja, tapi mereka bilang akan menyampaikan usulan ini kepada bos mereka," tutur Siagian.

Usulan soal distribusi hasil tani melalui Gapoktan ini bertujuan untuk memutus mata rantai distributor dari pihak ketiga dan keempat. "Misalnya distribusi beras, kita potong mata rantainya dengan memanfaatkan Gapoktan. Jadi komoditi dijemput langsung dari petani kemudian di jual di pasar swalayan modern. Tak ada lagi istilah pihak ketiga, keempat, dan seterusnya," papar Siagian.

Selain itu, Pemkab Minahasa, kata dia, juga telah memiliki tim pemantau dan pengendalian harga. "Tim itu sudah lama dibentuk dan akan turun ke lapangan jika ada kenaikan harga," tandasnya.

Sebelumnya, sebagian warga menilai kondisi ini akibat adanya musim-musim tertentu yang memicu kelangkaan stok. Itu memicu harga cabe, bawang merah dan bawang putih meroket tinggi sampai-sampai hampir tidak terjangkau oleh sejumlah masyarakat.

“Kalau dimusim tertentu, disamping harganya mahal, juga terjadi kelangkaan. Kalaupun ada, harganya mahal," kata salah satu pedagang cabe di pasar Langowan.

Tapi menurutnya, itupun bukan hasil panen petani Minahasa. Melainkan didatangkan dari luar daerah. (jackson kewas)

 


Komentar

Populer Hari ini





Sponsors

Daerah

Sponsors

Mail Hosting