Foto: Christiani Eugenia Paruntu SE saat memimpin Pengurus Partai Golkar Sulut Ziarah ke Makam Tokoh dan Pejuang Golkar
Peringati HUT ke-59, CEP Pimpin Pengurus Partai Golkar Sulut Ziarah ke Makam Tokoh dan Pejuang Golkar
Manado, MS
Hari Ulang Tahun (HUT) ke-59 Partai Golkar di Sulawesi Utara (Sulut) berlangsung sederhana dan khidmat. Yakni, dengan melakukan ziarah ke makam tokoh dan mantan Ketua DPD I Partai Golkar Sulut, para tokoh dan mantan Ketua DPD I Partai Golkar Sulut itu yakni almarhum Drs A.J Sondakh yang berada di Desa Kanonang Kecamatan Kawangkoan, almarhum Stevanus V Runtu di Kabupaten Minahasa, dan Prof DR Jopie Paruntu yang merupakan Ayahanda tercinta dari Ketua DPD I Partai Golkar Sulut di Kabupaten Minahasa Utara (Minut) Pada Jumat (20/10).
Para kader Golkar yang hadir tampak khidmat dan berdoa bersama yang dipimpin langsung Ketua DPD I Partai Golkar Sulut Christiani Eugenia Paruntu SE (CEP). Selain itu, juga tampak hadir Sekertaris Golkar Sulut dan Bendahara Golkar Sulut.
Pada kesempatan tersebut CEP mengatakan bahwa, sesuai arahan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartato, saat ini merupakan momentum untuk selalu mengingatkan bahwa Partai Golkar adalah salah satu partai tertua yang mengawal pembangunan di Indonesia.
"Puji Tuhan, kami kader Partai Golkar datang untuk memberikan penghormatan sekaligus berdoa mengenang arwah para tokoh dan mantan ketua Golkar yang telah mendahului kita. Mereka merupakan tokoh masyarakat dan tokoh agama yang telah menjunjung tinggi partai Golkar di Sulut," kata CEP.
Mantan Bupati Minsel dua periode itu, menyebut jika partai Golkar yang didirikan sejak Oktober 1964 oleh Soeharto dan Suhardiman.
"Harapan kami ke depan Partai Golkar untuk terus maju dan terus berkolaborasi. Karena Golkar adalah partai nomor dua terbesar di Indonesia. Artinya, Golkar saat ini sudah mewakili institusi politik dan institusi demokrasi bagi rakyat Indonesia," tandasnya.
Untuk diketahui, berdasarkan informasi dari halaman resmi Partai Golkar, Golongan Karya awalnya muncul dari kolaborasi gagasan tiga tokoh, Soekarno, Soepomo, dan Ki Hadjar Dewantara. Ketiganya, mengajukan gagasan integralistik-kolektivitis sejak 1940.
Saat itu, gagasan tiga tokoh ini mewujud dengan adanya Golongan Fungsional. Dari nama ini, kemudian diubah dalam bahasa Sansekerta sehingga menjadi Golongan Karya pada 1959. Hingga kini, Golongan Karya dikenal dalam dunia politik nasional sebagai Golkar.(*)






































Komentar