Foto: Kegiatan musyawarah budaya Tombulu se Kecamatan Tomohon Barat. Inzert : Roosevelty Kapoh,SH
Spektakuler, Tomohon Barat Inisiator Pelestarian Budaya Tombulu
Tomohon, MS - Bukan tidak mungkin bahasa dan budaya Tombulu akan terkikis habis untuk 20 sampai 30 tahun kedepan. Pasalnya dari 44 Kelurahan se-Kota Tomohon, tinggal 10-15 Kelurahan para orang tua masih menggunakan bahasa suku tertua Minahasa, Tombulu. Menyadari akan hal ini, Camat Tomohon Barat, Roosevelty Kapoh SH menginisiasi untuk melestarikan bahasa Tombulu dengan menggelar Musyawarah Budaya Tombulu se Kecamatan Tomohon Barat dengan menggandeng para tokoh masyarakat, Akademisi dari Pusat Penerjemah Alkitab, Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara, Budayawan, Pemerhati Budaya dan Pelaku Budaya.
Menariknya, metode yang digunakan menggunakan Metode partisipatif. Dimana delegasi diajak lebih aktif untuk memikirkan tentang pelestarian Bahasa Tombulu ini.
"Yah kita melakukan ini karena memang bahasa dan budaya Tombulu di Tomohon sudah mulai terkikis oleh budaya modern, sehingga perlu ada respon agar pelestarian budaya akan menjadi pemicu yang dimulai dari Kecamatan Tomohon Barat. Kita pakai metode partisipatif. Agar supaya mereka merencanakan, melaksanakan dan bertanggung jawab. Artinya juga perencanaan berdasarkan tujuan. Dan mereka ini adalah masyarakat kecamatan Tamohon Barat yang notabene "pejuang" budaya Tombulu yang harus kita fasilitasi. Intinya jika ini tidak dilakukan maka suku Minahasa dalam bahasa akan "terkubur" seiring waktu berjalan," ujar Camat Kapoh kepada mediasulut.co, Kamis (6/7), di lokasi Wisata Welu Kelurahan Woloan Satu Utara.
Lebih lanjut dikatakannya, apa yang akan dibuat melalui metode partisipatif, keterlibatan publik atau masyarakat untuk mengangkat dan melestarikan budaya Tombulu secara umum. Dan perlu diikat dalam satu ketetapan aturan yang ada.
"Saya mengapresiasi para "pejuang" ini karena mereka sukarela datang tanpa dibayar. Dan mereka merencanakan bersama. Beberapa rumusan diantaranya perlu ada dukungan dari stakeholder seperti guru bahasa daerah dalam pelajaran Muatan lokal harus dikembangkan. Kemudian keharusan dalam acara suka maupun duka, ada sambutan dengan menggunakan bahasa Tombulu. Membukukan cerita rakyat yang disebarluaskan ke generasi baru. Komitmen meregenerasi baik budaya maupun bahasa secara bersama sama oleh tetua adat di Kelurahan Tara Tara, Tara Tara 1, 2,3, Woloan 1, Woloan 1 Utara, Woloan 2, Woloan 3. Pelestarian budaya juga berupa lomba kabasaran, pengadaan properti budaya berupa baju adat," jelas Kapoh
Sebagai awal kegiatan, jkata dia, jika tidak ada aral melintang Tahun ini dan atau tahu depan akan ada lomba lomba budaya suku Minahasa, seperti Lomba tarian Kabasaran, musik Kolintang, Musik Bambu dan ragam seni budaya Minahasa sebagai perekat dan pemicu pelestarian budaya tersebut. "Musyawarah ini harus menghasilkan sesuai yang dapat dilihat," imbuhnya.
Hadir dalam acara musyawarah budaya Tombulu selain warga kelurahan se-Kecamatan Tomohon Barat, diantaranya Ayu Suwandi Direktur Pusat Penerjemahan Alkitab, Marnix Riupassa konsultan PPA untuk penerjemahan organisasi, Jhony Tjia MA linguistik dari Universitas Oregon USA, Phd Linguistik dari Universitas Leiden Belanda dan pelayanan saat ini sebagai koordinator program Yayasan Sulinama, Jemi Rompis Wakil Direktur Pusat penerjemahan Alkitab, Pdt Audi Sewow fasilitator tim Tombulu, Viani Wilar Fasilitator Tim Tonsea, Reita Makal fasilitator tim Tondano, fasilitator tim Tontemboan pendeta Rafli Kambey, fasilitator Tim Manado Eva Tulong, Tim Penerjemahan Bahasa Tombulu Sania Kaparang Tim IT Pusat Penerjemahan AlkitabMat manger konsultan pengembangan seni dan budaya. (RommyKaunang)








































Komentar