Deprov Desak Kaji Ulang Pembangunan Anjungan Sulut di TMII


Manado, MS

Kondisi Anjungan Sulawesi Utara (Sulut) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) kembali disorot. Proses pembangunannya diminta untuk dikaji ulang. Pembuatannya yang dinilai kurang memberi manfaat jadi penyebab.

Kritik keras itu lagi-lagi didendangkan Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulut, Stella Runtuwene. Ia mengungkapkan, terakhir kali dirinya melakukan kunjungan ke lokasi tersebut, wajah bangunan dengan biaya sekitar Rp 60 miliar itu belum juga berubah. "Apa yang ibu lihat sudah hampir setahun lalu masih sama, tidak ada berubah. Bingung juga sudah lebih setahun dari waktu ibu ngomong di paripurna tetap sama," ungkapnya, Rabu (14/5), di ruang kerjanya.

Bahkan ketika dirinya melakukan kunjungan, ada keluhan dari pihak cleaning service. Mereka menyebut, pekerjaan mereka di situ sudah bertambah ketika datang hujan. Air masuk membanjiri kantor itu sehingga mereka harus membersihkannya. "Jadi ini unek-unek cleaning service yang ada di situ. Ini berarti bangunan yang mereka buat tidak matang perencanaannya. Jadi kalau hujan maka banjir semua yang ada di kantor itu. Itu mereka yang ngomong, bukan saya. Karena pembangunan itu harus ada sesuatu perencanaan yang matang. Berarti saluran airnya tidak diperhatikan pembangunannya," ujar Runtuwene.

Sangat memiriskan pula menurutnya, sekarang ini kabarnya sudah ada pengajuan lagi untuk anggaran untuk pembangunan Anjungan Sulut TMII. Dirinya menyayangkan karena dalam keadaan Covid-19, harus mengalokasikan anggaran lagi ke sana. "Mungkin akan ada penambahan sekitar Rp19 miliar dan kemungkinan akan ditambah lagi  Terus mereka bilang akan tambah gedung yang lain. Ini bangunan saja belum selesai mau minta bangun lagi gedung yang lain. Kalau itu ada fungsinya atau ada pemasukkan bagi kita, tapi kalau tidak ada untuk apa," tegas anggota dewan provinsi (Deprov) dari daerah pemilihan Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara itu.

Lebih baik menurutnya, bangun saja jalan-jalan yang ada di daerah Sulut. Jalan kebun masih banyak yang perlu diperhatikan bagi ekonomi masyarakat. "Jadi kalau bisa kaji kembali. Kalau pembangunan kurang ada manfaat, buat apa. Perlu dikaji lagi pembangunan anjungan itu. Bawa manfaat atau tidak untuk Sulut. Ada income tidak untuk kita," tandas politisi Partai Nasional Demokrat itu. (arfin tompodung)


Komentar