Fasilitasi Perubahan Status Aprilia Manganang, KSAD Minta PN Tondano ‘Merestui’
TANAH Air kembali riuh. Kabar perubahan status atlet bola voli Aprilia Manganang dari perempuan ke laki-laki, jadi penyulut. Tabir polemik terhadap identitas diri atlet kebanggaan masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) ini, mulai tersingkap.
Seperti disampaikan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) TNI, Jenderal Andika Perkasa. Dia memastikan perubahan status Aprilia Manganang dari perempuan ke laki-laki.
Andika menyebut kelainan yang dialami Aprilia pun baru diketahui baru-baru ini. Tepatnya pada 3 Februari lalu saat pihaknya sengaja memanggil Aprilia untuk menjalani pemeriksaan medis di RSPAD Gatot Subroto.
Setelah hasil rekam medis, diketahui hormon testosteron Aprilia lebih tinggi, tak hanya itu di dalam organ dalamnya pun tak ada organ tubuh yang mestinya dimiliki perempuan.
Maka dipastikan Aprilia memang berjenis kelamin laki-laki. Namun lantaran kurang pengetahuan, saat dilahirkan orang tua dan paramedis di kampung Aprilia memutuskan salah satu prajuritnya yang juga atlet bola voli ini sebagai perempuan.
Selanjutnya, KSAD memastikan pihaknya akan memfasilitasi berbagai dokumen yang dibutuhkan agar status administrasi jenis kelamin Serda Aprilia Manganang berganti dari wanita menjadi pria. "Dirhum Angkatan Darat sudah siapkan dokumen untuk kita membantu Sersan Manganang untuk mendapat apa yang diinginkan, yaitu kita penuhi semua surat yang ada di UU 23 2006 tentang administrasi kependudukan," tutur Andika di Mabes TNI AD, Jakarta Pusat, Selasa (9/3).
Andika berharap, Pengadilan Negeri (PN) Tondano dapat mengabulkan permohonan perubahan nama dan jenis kelamin Serda Aprilia Manganang. "Dengan harapan setelah ini Sersan Manganang bisa menjadi seseorang yang ditakdirkan untuknya," jelas dia.
Andika juga menegaskan bahwa Aprilia Manganang bukan seorang transgender. Dia tidak menjalani operasi pergantian alat kelamin, namun memang dilahirkan dalam kondisi pria yang memiliki kelainan reproduksi Hipospadia. "Seperti yang saya katakan tadi, operasi ini corrective surgery, jadi tidak ada pergantian kelamin. Manganang adalah laki-laki dan tidak ada pergantian secara fisik yang mungkin tadinya dari organ-organ kelamin wanita menjadi pria itu tidak ada," lugasnya.
Terpisah, Aprilia Manganang mengaku perubahan status dirinya dari perempuan menjadi laki-laki sudah lama ditunggu. Oleh karena itu, mantan atlet berusia 28 itu bersyukur kini bisa berganti status.
Aprilia mengungkapkan hal itu melalui tayangan video saat sesi konferensi pers yang dilakukan KSAD Jenderal Andika Perkasa di Mabes TNI AD, Jalan Veteran, Jakarta, Selasa (9/3). Operasi itu harus dilalui Aprilia Manganang berkaitan dengan operasi perbaikan dan pergantian status dirinya dari wanita ke laki-laki. "Ini momen yang sangat saya tunggu, bahagia banget. Puji Tuhan Yesus saya bisa lewati ini dan saya bersyukur Tuhan pakai bapak dan ibu untuk pertemukan saya," ucapnya.
Diketahui, Aprilia mulai bermain voli sejak duduk di bangku sekolah tingkat SMP (Sekolah Menengah Pertama). Akan tetapi, ketika beranjak ke SMA (Sekolah Menengah Atas), Aprilia mengganti kegemarannya berolahraga dengan bermain bola basket. Pada akhirnya, Aprilia Manganang kembali ke cabor voli setelah melihat kakaknya Amasya Manganang mendapatkan penghasilan dari olahraga ini.
Aprilia termasuk tipikal pemain pekerja keras. Hal itu sudah dia tunjukkan lebih dalam kehidupannya di keluarga. Atlet kelahiran Tahuna, Sulawesi Utara, 27 April 1992 tidak berasal dari keluarga yang berada.
Karena itu, sejak kecil Aprilia biasa membantu kehidupan keluarganya. Saat Aprilia kecil, ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangga, sedangkan ayahnya bekerja di Koperasi Unit Desa (KUD) dengan gaji Rp400 ribu sebulan.
Kondisi tersebut memaksa Aprilia harus hidup mandiri. Sejak kecil, Aprilia juga kerap melakukan pekerjaan berat, salah satunya memotong kayu di hutan. Akan tetapi, kerja keras dan tekadnya memperbaiki kehidupan keluarganya itu mengantarkan Aprilia menggapai cita-cita menjadi atlet voli profesional.
Aprilia memulai karier sebagai atlet voli profesional ketika bergabung dengan tim Alco Bandung pada tahun 2011. Kemudian, dia berpindah ke BNI 46, Manokwari Valeria, hingga akhirnya memperkuat Jakarta Elektrik PLN yang suskes memenangkan Proliga musim 2015 dan 2016.
Total, Aprilia mengoleksi empat gelar juara Proliga. Terakhir gelar juara itu dia raih bersama PGN Popsivo Polwan usai mengalahkan Pertamina Energy pada final Proliga 2019. Satu gelar lain diraih pada 2017.
Usai moncer tampil di Indonesia, Aprilia mencoba peruntungan dengan berkarier di Liga Thailand, bersama Generali Supreme Chonburi E-Tech pada musim 2019.
Akan tetapi, masa keemasan Aprilia sedikit memudar ketika cedera lutut menyerangnya pada tahun 2019. Akibat cedera itu juga Aprilia absen membela Timnas Voli Putri Indonesia di SEA Games 2019 di Filipina.
Sempat pulih dari cedera lutut, Aprilia bergabung dengan Bandung Bank BJB Tandamata pada Proliga 2020, hingga akhirnya memutuskan pensiun pada 10 September 2020.
Di luar kesuksesan dan cedera, kontroversi masalah gender juga pernah mewarnai karier Aprilia Manganang di dunia bola voli. Aprilia pernah dicurigai sebagai seorang pria. Momen itu terjadi pada 2011 ketika debut di Liga Bola Voli Indonesia. Kasus serupa bahkan terulang di level timnas, tepatnya di SEA Games 2015.(liputan6/cnn)












































Komentar