Foto: Herol Kaawoan
Deprov Sorot ‘Command Center’ Pemprov
Manado, MS
Reaksi kritis menyasar program ‘Command Center’ Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut). Penerapannya dinilai tidak sesuai standar. Keberadaannya masih jauh dari segi kelayakan. Kritik itu dilayangkan Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulut, Herol Kaawoan.
Ia mengungkapkan, semestinya definisi dari Command Center adalah sebuah lokasi yang lengkap dengan infrastruktur yang diperlukan. "Dimana seorang direktur bersama-sama dengan tim untuk melakukan meeting, mengambil keputusan menugaskan, mengkoordinasi, memonitor dan mengontrol seluruh tindakan yang diperlukan," jelas politisi Partai Gerindra ini, Senin (8/3), usai hearing bersama dengan Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Pemprov Sulut dan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID), di ruang rapat Komisi I.
Sementara menurut Herol, yang dijelaskan pihak Kominfo justru sangat minim fungsi. Command Center hanya melakukan zoom meeting. "Yang saya tanyakan kan, kegiatan tahun 2020 pengembangan command center sejauh mana. Bagaimana perkembangan Command Center. Program apa saja yang sudah terintegrasi dengan Command Center. Aplikasi apa saja yang bisa dijangkau oleh smartphone. Kalau bisa didemokan, tapi dari kominfo bilang belum ada aplikasi yang bisa didemokan," ungkap wakil rakyat daerah pemilihan Minahasa-Tomohon itu.
Padahal menurutnya, kalau berbicara command center, semuanya sudah terintegrasi. Seperti beberapa daerah di Indonesia yang telah berhasil melakukannya. "Yang paling bagus command center kan, Jawa Timur, DKI Jakarta, Surabaya dan Bandung Jawa Barat. Kalau di sana bila ada banjir sudah standby di Command Center. Kemudian disampaikan, siaga satu, siaga dua, sudah diinfokan ke masyarakat sebelum adanya korban. Begitu fungsi command center," ungkap Herol.
Baginya, khusus yang ada di Sulut, belum layak disebut command center. Fungsinya masih sangat jauh tertinggal dari yang lain. "Kalau saya mau berikan nilai untuk Sulut itu nilainya 5. Masih banyak yang belum dikembangkan harus berinovasi lebih. Perlu mengintegrasi. Saya Gerindra partai pengusung kedua untuk OD-SK (Olly Dondokambey dan Steven Kandouw). Tapi kita bukan berarti tidak mengkritik secara positif demi kemajuan Sulut ke depan," tuturnya. (arfin tompodung)












































Komentar