TENTANG BUMN DAN KAITANNYA DENGAN KETAHANAN NASIONAL


Catatan :Vickner Sinaga

Terharu, tiba-tiba saja belakangan ini, banyak yang ingin membela Pancasila. NKRI. Meski sebelumnya, kurang peduli, bahkan ada yang tak rela menjadi azas perkumpulannya. Syukurlah. Meski kadang mengurut dada. Melihat realita. Ada yang memproklamirkan diri sebagai kaum Pancasilais, namun prakteknya justru intoleransi. Mendeklarasikan sebagai pembela Pancasila, namun meminta membubarkan BPIP. Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Realitas yang paradoxal. Terbalik-balik. Sedih, di negeri ini makin banyak fakta yang paradox. Di ibukota, antara lain, pamong memberi izin deklarasi dengan kumpulan banyak orang. Sementara pamong yang sama teriak, jangan kumpul-kumpul. Agar dirumah saja. Diminta jaga jarak dan membatasi penumpang transportasi publik, sementara aturan ganjil-genap kala itu diberlakukan... Bingung. Pastilah transportasi publik membludak. Flashback, jadi teringat dulu saat ada pendidikan "budi pekerti" di sekolah dasar. Pendidikan karakter dan integritas Ada juga mata kuliah kewiraan di Perguruan Tinggi. Puncaknya, ikut penataran P4 di kala bekerja. Yakni, Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Ah, jadi sedikit melankolis. Ingat stabilnya negeri, masa tempo dulu.

Semua proses pendidikan itu bertujuan demi terbentuknya jatidiri berwawasan nusantara. Dan terciptanya "ketahanan nasional". Wawasan Nusantara adalah cara pandang bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungannya, sebagai satu kesatuan, wilayah, ideologi, politik, ekonomi sosial dan budaya. Panjang ya, definisinya. Namun mahasiswa periode 70 hingga 80 an, pasti hafal. Dan lebih jauh, difahami dan diamalkan. Selanjutnya, ketahanan nasional adalah kondisi dinamik suatu bangsa berupa kemampuan dan keuletan untuk menangkal hantaman, ancaman, tantangan dan gangguan terhadap keselamatan negara. Tak usah dihafal, asal maknanya faham bukan.. Ketahanan Nasional, tentu untuk segala bidang bak wawasan nusantara. Bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Dibidang ideologi, sepintas, diatas sudah disentuh. Di negeri ini berlimpah pakar yang piawai menjelaskannya. Kita fokus saja, ke ketahanan bidang ekonomi.... 

Pandemi covid19, membuat dunia resesi. Selain menebar ketakutan, pandemi membuat ekonomi semua negara terpuruk. Tak terkecuali negeri tercinta ini. Pemerintah pusat, tentu berperan sebagai panglima untuk mengatasi hantaman ini. Salah satunya, rencana membuka lahan luas untuk pangan di Kalimantan, patut diapresiasi. Presiden menugaskan rivalnya dulu, pak Prabowo, yang sarat pengalaman dilingkungan HKTI, akan sangat membantu. Himpunan Kerukunan Tani Indonesia itu. Apalagi, kini juga sebagai menteri pertahanan. Strategi untuk menggolkannya pasti sudah diformulasikan oleh timnya. Belum lagi potensi insani, fasilitas dan logistik yang dimiliki TNI misalnya. Pasti bisa dimaksimalkan. Tak salah, jika publik berharap "food estate" itu, terealisir dalam waktu dekat ini. Langkah lanjutnya bagaimana?.

Kementerian Pertanian, idealnya akan berperan, kompak bersama sejak awal. Data pertanian sahih, mutlak dibutuhkan. Agar tak salah dalam mengambil keputusan strategis. Seperti kisah "beda data" dulu itu. Dengan Bulog misalnya. Juga proyeksi produksi komoditi pangan di dekade mendatang. Demikian halnya dengan BULOG dan BUMN pangan lainnya. Sudah harus menjemput bola. Kultur "business as usual" harus ditinggal. Harus menjadi tuan dinegeri sendiri. Adalah paradox, negeri subur ini, masih mengimpor bahan pangan. Menjadi "pecundang" di negeri sendiri. Produksi pangan harusnya cukup dan negeri ini, mutlak masuk di list net-exporter. Kultur "senang beli" itu, harus berubah menjadi kultur "ahli jual". Enterpreneur. Mampu menjual dengan harga bagus. Kultur ambtenaar dan zona nyaman dan dilayani, harus berubah menjadi pencari pasar ekspor. Status comfort zone diganti dengan "burning platform". Kursi panas. Peta jalan harus sudah jadi lebih awal. Berikut "time frame" nya. Skedul aksinya. Dan yang terpenting, tugas diamanahkan kepada yang akan mampu mewujudkannya. Bukan sekedar oknum "titipan", seperti yang hangat diperdebatkan di medsos itu. Berikanlah ke ahli nya. Pekerjaan ini, meski sulit tapi bukan tak mungkin direalisir. Kenapa?. 

Miris, dengar berita jika BUMN strategis saja masih jauh dari jiwa enterpreneur. Ingat kisah BUMN pabrikan kapal laut?. Para direksinya, konon terkait kasus gratifikasi. Menerima atau ikut mendesain, "kickback". Menerima kembali, bagian fee dari pihak pembeli di luar negeri. Baru-baru ini, di BUMN produsen pesawat terbang pun idem. Ditenggarai, terjadi kaidah bisnis yang tak bersih. Tak akuntabel. Konon, deal dulu dengan berbagai pihak termasuk pemegang saham. Hanya untuk mendapatkan pasar dalam negeri. Pasti untuk urusan pangan ini, nantinya ada juga yang harus merubah budaya. Orientasi membeli menjadi target menjual. Kementerian perdagangan juga harus berbenah. Badan yang menangani ekspor patut diberi target. Tidak sekedar administrator dan event pameran tanpa hasil riil.

Ternyata butuh "upaya" besar ya. Betul. Presiden sebagai pemimpin orkestra dituntut bisa membuat harmony para pembantunya. Musik indah, mengganti suara sumbang selama ini. Jika impian ini nyata, terealisir, maka impor beras, tamat sudah. Pun buah-buah an impor itu. Setop dia. Ribuan insinyiur pertanian kita saatnya tegak kepala. Tak lagi, perlu dengar istilah marak itu. Pepaya bangkok, durian monthong, durian musang king, impor. Terlebih beras dan gula plus semua bahan pokok itu. Upaya dan karya yang menantang. Tak lagi "pecundang" di negeri sendiri. Ayo, bersama kita buat lebih hebat. Kualitas, rasa dan volumenya. Lebih khas nusantara. Menjadi kesukaan dan buruan wisatawan lokal dan mancanegara. Apa sedang bermimpi?. Tidaklah ya, buktinya paska mendarat di bandara Soetta ini, langsung meluncur ke supermarket buah itu. Membeli apa?. Ubi Cilembu favoritku. Makanan sehat dan enak. Masih olahan warisan zaman dulu. Kayaknya belum tersentuh teknologi pertanian. Harganya?. Hanya Rp 23 ribu/kg. Matang dipanggang di microwave. Tinggal makan. Persis disebelahnya, ada freezer berisi durian impor itu. Duren monthong, Rp 400 rb/kg. Dan kuusap mataku, seakan tak percaya. Durian musang king, blackthon, seharga Rp 1.2 juta/kg. Senilai panen keluarga kecil petani kita, tiga bulan. Bahkan ada yang butuh satu semester. Tak masuk akal, sebiji durian impor, nilainya sama dengan satu kwintal ubi cilembu. Itu satu contoh kecil saja. Mana peran dan sentuhan lulusan pun kampus pertanian banyak itu. 

Kudedikasikan bagi, pengurus HKTI, para Insinyiur pertanian yang masih "setia" di profesinya. Agar produksi pertanian Indonesia, bisa masuk kelas dunia(*)


Komentar