PILKADA SULUT POTENSI 3 POROS


Manado, MS

Peta politik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sulawesi Utara (Sulut) mulai ditakar. Munculnya sederet ‘petarung’ usungan partai politik (parpol) jadi pemantik. Prediksi tiga poros di pesta demokrasi bumi Nyiur Melambai mencuat.

Perkiraan itu dinilai beralasan. Melongok perolehan kursi di DPRD Sulut, seluruh partai besar telah memastikan keikutsertaan penggawa mereka untuk berlaga. Berawal dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang jauh-jauh hari sudah tancap gas mematenkan pasangan petahana Olly Dondokambey dan Steven Kandouw (OD-SK).  Sebagai pemilik 18 kursi di Gedung Cengkih, PDIP tidak mengalami kesulitan mengusung bakal calon gubernur (cagub) dan bakal calon wakil gubernur (cawagub). Langkah Banteng Moncong Putih itu diikuti Partai Nasional Demokrat (NasDem). Partai dengan platform Restorasi ini, sudah mengklaim Vonnie Anneke Panambunan (VAP) menjadi jagoan mereka. Modal 9 kursi, VAP tinggal menentukan pasangannya.

Selanjutnya Partai Golongan Karya (Golkar). Menggandeng Partai Amanat Nasional (PAN), duet bupati tercetus. Adalah Christiany Eugenia Paruntu (CEP) dan Sehan Salim Landjar (SSL). Kolaborasi ini pun memenuhi syarat untuk mengusung di pilkada, Desember mendatang. "Kami menilai potensi untuk kehadiran poros baru di Pilkada Sulut semakin sulit. Alasannya, partai lain yang memiliki kursi di DPRD Sulut juga telah menyatakan dukungannya. Misalnya pada OD-SK. PDIP sudah pasti diperkuat PSI (Partai Solidaritas Indonesia) dan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) yang masing-masing satu kursi serta Partai Gerindra yang memiliki 2 kursi," ujar pemerhati politik Sulut, Hangky Rantung SSos, Senin (3/8) malam.

Sekarang ini, kata jebolan Ilmu Sosial dan Pemerintahan itu, tinggal Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai partai pemilik kursi di DPRD yang belum menyatakan dukungan. Potensi untuk membentuk poros lain dalam kontestasi pilgub ibarat jalan terjal. “Ketika keduanya menggabungkan perolehan kursi, tentu belum mencukupi untuk mengusung calon. Tidak mungkin lagi membentuk pasangan calon lain. Karena Demokrat hanya memiliki 4 kursi dan PKS hanya satu kursi. Saya beranggapan keduanya tinggal mendukung figur yang diusung oleh partai yang sudah memenuhi syarat mengusung. Hemat saya hanya tiga paslon akan tampil di pilgub," semburnya.

Meski demikian, potensi untuk terjadi perubahan dinilai bisa saja terjadi. Hal itu selama, paslon partai belum ditetapkan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD). "Sekarang masih sedang berproses. Selama belum ada penetapan pasangan calon oleh KPUD maka perubahan masih bisa saja terjadi," ujar pakar politik Sulut, Ferry Daud Liando.

Akademisi Unsrat Manado ini menyampaikan, untuk mengukur kekuatan para figur usungan partai belum bisa terlihat. Hal itu karena VAP belum ditentukan siapa pasangannya. "Torang pastikan dulu sapa ibu Vonny pe calon ne," lugas Liando, kemarin saat dihubungi media ini.

 

OD-SK, VAP HINGGA CEP-SSL KEPUTUSAN ‘FINAL’

Prediksi tiga poros di Pilkada Sulut kian terang benderang. Legitimasi parpol pengusung, jadi pegangan. Peluang terjadi perubahan formasi dinilai kecil.

Misalnya OD-SK. Keputusan memajukan pasangan incumbent ini dinilai sudah final. Wakil Ketua DPD PDIP Sulut, Lucky Senduk memastikan, duet OD-SK sudah mantap diusung PDIP. Menurutnya, DPP PDIP menyampaikan tentang salah satu indikator ditetapkannya kembali OD-SK. Selain keberhasilan kepemimpinan, faktor lainnya adalah kebersamaan dalam memimpin. Keduanya tidak ada keretakan sepanjang pemerintahan mereka. "Bagaimana seorang wakil menyadari dia adalah wakil dan menjalankan sebagai wakil. Dan gubernur percaya dia sebagai wakil untuk bekerja sebagai wakil dan telah mewakili dia di banyak hal. Dan itu jadi contoh, jadi teladan tentang beginilah kepemimpinan dan itu jadi apresiasi dari DPP," paparnya, belum lama ini.

Olly dan Steven adalah calon gubernur dan wakil gubernur pertama yang dicalonkan PDIP di seluruh Indonesia. Hal itu karena indikator yang telah dilihat DPP. "Jadi bukan hanya sebagai calon pertama yang ditetapkan partai di Sulut tapi calon gubernur pertama yang ditetapkan PDIP se-Indonesia. Jadi kalau pilgub baru satu yang diumumkan (OD-SK, red) se-Indonesia. Kalau pilkada kabupaten kota kan sudah ada 49 yang ditetapkan PDIP sebagai calon," tandasnya.

Begitu pula dengan pasangan CEP-SSL. Golkar memastikan sudah fix dan tidak akan berubah lagi. Selama ini belum melakukan deklarasi karena masih sementara berkomunikasi dengan partai lain. Bisa saja ada ketambahan partai yang akan sama-sama di Pilgub nanti mengawal CEP-Sehan. "Kita akan konkrit kan dulu semuanya baru kita deklarasikan. Karena akan deklarasi nanti akan diumumkan pasangannya dengan semua partai yang memberikan dukungan. Tapi soal pasangannya sudah pasti CEP-Sehan," sebut Sekretaris DPD I Golkar Sulut, Raski Mokodompit, Senin (3/7) lalu.

Menurutnya, partai yang sedang dikomunikasikan, ada yang belum memiliki kandidatnya dan ada yang sudah mempunyai kandidat. "Seperti Nasdem sudah ada kandidatnya ibu Vonnie dan Demokrat ke pak Elly Lasut, tapi semuanya ada kemungkinan. Sekarang ini masih dalam proses. Jadi kita belum memberikan deklarasi karena masih ada komunikasi dengan partai lain," tuturnya.

Terpisah, Sekretaris DPW Partai Nasdem Sulut, Victor Mailangkay menegaskan, Nasdem di Pilgub tinggal menunggu calon wakil gubernur untuk mendampingi VAP.  "Wakil sudah diserahkan ke DPP.  Jadi DPP yang mengkaji semua perkembangan. Nasdem 99,9 persen sudah ibu Vonnie. Tinggal tunggu wakil," ungkap Wakil Ketua DPRD Sulut ini.

Ditegaskannya, waktunya kapan akan ditetapkan pasangan VAP, itu menjadi kewenangan DPP. "Tiga opsi mungkin kalau wilayah, dari Bolmong, Minahasa atau nusa utara. Nanti dikaji secara komperhensif dari DPP dan ibu vonnie. Bukan kita yang berkompeten menetapkan tapi tergantung DPP," ujar legislator dapil Manado ini.

Dalam mempertimbangkan pasangan VAP, Nasdem akan memastikan yang bisa membawa kemenangan. "Dipertimbangkan siapa yang bisa meraih kemenangan bukan hanya melawan calon siapa," lugasnya.

 

ANCAMAN KOALISI RAKSASA

Power OD-SK di Pilkada Sulut semakin bertambah. Selain PDIP, OD-SK kini disupport sejumlah partai pemilik kursi di DPRD Sulut. Koalisi raksasa kans terbentuk.

Dukungan bagi paslon petahana ini datang dari Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PSI Sulut. Diakui Ketua DPW Melky Pangemanan, PSI mendukung pasangan yang memilik kesamaan visi. Seperti anti korupsi, transparan dalam bekerja dan arah kebijakannya lebih ke kepentingan publik. "Dalam Pilgub (Pemilihan gubernur), PSI akan memberikan suaranya ke pasangan petahana yaitu Olly Dondokambey dan Steven Kandouw. Kami sudah merampungkan dan sekarang mengerucut kepada pasangan OD-SK," kata Anggota Komisi IV DPRD Sulut pada Selasa (30/6), saat dihubungi.

Pemberian dukungan kepada OD-SK, karena selama ini dinilai telah banyak pencapaian baik yang diraih pada masa kepemimpinan keduanya. Lewat pencapaian yang sangat baik tersebut maka pihaknya berharap OD-SK bisa melanjutkan dua periode. "Ini sudah dikomunikasikan dengan DPP. Proses ini sudah sampai ke DPP tinggal menunggu SK yang nantinya akan diberikan DPP," tutur wakil rakyat daerah pemilihan Minahasa Utara dan Kota Bitung tersebut.

Selanjutnya, Partai Kebangkitan Bangsa. Dukungan PKB diberikan kepada OD-SK. Ini berdasarkan dengan surat rekomendasi yang dikeluarkan DPW PKB Sulut tentang bakal calon gubernur dan bakal calon wakil Gubernur Provinsi Sulut. Surat tersebut ditandatangani Ketua DPW PKB Sulut Greety Tielman dan Sekretaris DPW  Sudirjo Soga bernomor 0496/DPW/35/71/VV2020. "Jadi surat ini merupakan sikap DPW PKB Sulut. Kita memberikan rekomendasi mendukung OD-SK dalam pilgub nanti," ungkap Sekretaris DPW PKB Sulut, Sudirjo Soga saat dihubungi, Minggu (5/6) lalu.

Ia menjelaskan, surat tersebut adalah rekomendasi DPW ke Dewan Pimpinan Pusat (DPP) untuk mendukung OD-SK pada Pilgub. Surat tersebut sementara berproses di DPP. "Nantinya DPP yang akan memutuskan. Namun pastinya sikap kami sudah seperti itu, mendukung OD-SK," tegasnya.

Diketahui, dukungan PKB dalam Pilgub nanti sangat memberikan pengaruh. Hal itu karena partai tersebut memilik satu kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulut.

Sokongan serupa disampaikan Ketua DPD Partai Gerindra Sulut, Wenny Warouw. Mantan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) ini menyatakan, Gerindra Sulut memberikan dukungan kepada pasangan OD-SK. "Ya Gerindra Sulut dukung OD (Olly Dondokambey," tegas Warouw saat dihubungi harian ini via whatsapp, Senin (6/7) lalu.

Sikap Gerindra Sulut tersebut bukan tanpa dasar. Alasan mereka memberikan dukungan kepada pasangan usungan PDIP itu karena terkait dengan koalisi di pusat. Dengan demikian di Pilgub Sulut pun mereka akan ikut mendampingi figur milik Banteng Moncong Putih. "Ikut koalisi pusat," tutur Warouw.

Posisi tawar Gerindra Sulut dalam memberikan dukungan sangat berpengaruh. Hal itu karena partai besutan Prabowo Subianto memiliki 2 kursi di DPRD Sulut. Kedua kursi tersebut diduduki legislator dari dapil Minahasa-Tomohon Wenny Lumentut dan Sjenny Kalangi dari dapil Bolaang Mongondow Raya. “Tentu saja, koalisi raksasa ini menjadi ancaman bagi pesaing mereka. Asalkan, semua mesin partai digerakkan maksimal. Saya optimis OD-SK akan semakin hebat,” ujar Lendy Rawung, salah satu dedengkot PDIP Kecamatan Eris, Senin kemarin.

 

E2L TERIMA MANDAT DEMOKRAT

Partai Demokrat punya strategi khusus di Pilkada Sulut. Teranyar, Bintang Mercy telah memberikan mandat ke sejumlah kandidat untuk mencari koalisi. Salah satunya adalah sosok E2L.

Geliat politik itu dibeber elit Partai Demokrat Sulut, Ronald Sampel. Ia mengungkapkan, arah partai mereka di Pilgub masih menunggu petunjuk DPP dan DPD Partai Demokrat. "Kita sudah ada surat tugas kepada beberapa kandidat yang ada untuk menjalin komunikasi atau konsolidasi dengan partai lain. Jadi kita masih menunggu hasil dari mereka-mereka ini," ungkap Sampel, baru-baru ini.

Ia mengungkapkan, E2L sudah diberikan waktu oleh Demokrat agar mencari koalisi. Paling lambat satu bulan untuk mengupayakannya. "Kan diberikan waktu untuk dia (E2L, red). Setahu saya sesuai informasi surat tugas yang diberikan partai kepadanya untuk mencari koalisi. Satu bulan lamanya. Kita akan lihat apakah E2L sudah melaksanakan petunjuk itu atau belum," ungkap Anggota DPRD Sulut yang duduk di Komisi 1 ini.

Apabila sudah terjalin koalisi bersama dengan partai lain maka kemudian partai akan memberikan Surat Keputusan (SK) kepada E2L. "Kalau sudah pasti dia tentu akan melapor ke partai. Kalau sudah terjalin komunikasi dengan partai lain, dari situ baru kita keluarkan SK," ujar wakil rakyat daerah pemilihan Nusa Utara tersebut.

Kalau sudah ditetapkan partai maka menurutnya, sebagai kader harus mendukung. Ke mana arah partai anggota wajib loyal. "Jadi kita masih menunggu arah DPP dan DPD jadi sebagai kader harus loyal kepada partai. Kita harus mendukung, sebagai kader seperti itu," tutupnya.

Wakil Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat, Billy Lombok mengungkapkan, khusus untuk pencalonan gubernur merupakan kewenangan majelis tinggi Partai Demokrat. Penentuannya sangat berbeda dengan kabupaten kota karena penuh ketelitian. "Majelis tinggi punya strategi tersendiri dalam mengusung. Persoalan seperti momentum Pilgub time limidnya nanti mesti ditentukan majelis tinggi, diketahui pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Sambil tentu memperhatikan komunikasi politik bersama dengan partai yang sudah dilakukan ketum (ketua umum). Ada Golkar, PKB dan PAN," ujar Wakil Ketua DPRD Sulut ini.

Ia menyampaikan, nanti proses tersebut tetap didorong agar majelis tinggi bisa fokus. Kemudian mereka dapat menentukan dan mengeluarkan surat tugas. "Walaupun proses itu masih berlangsung di majelis tinggi tapi ada juga proses yang berjalan di tingkat provinsi atau daerah," pungkasnya.

Di tingkat daerah pula, ada komunikasi yang berjalan di antara pengurus partai. Terdapat dorongan dari Demokrat Sulut namun semua tetap masih menunggu putusan majelis tinggi Partai Demokrat. "Pastinya Demokrat tidak pernah ketinggalan kereta. Kita akan tetap eksis," kata wakil rakyat daerah pemilihan Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara ini.

Di sisi lain hanya bermodal 4 kursi di DPRD Sulut, peluang Demokrat mendapatkan usungan figur sendiri pun sangat tipis. Sama dengan PKS, Demokrat berpotensi besar untuk tinggal bergabung dengan yang lain. Namun ke mana mereka akan menyatu, hingga kini belum juga menunjukkan sinyal.  "Apapun caranya, kedua parpol itu harus bergabung. Kalau tidak, bisa akan jadi penonton," ujar pakar politik di Sulut, Ferry Daud Liando, Rabu (22/7) lalu.

Liando memprediksi, kemungkinan Demokrat-PKS bakal memilih jalur ke kelompok Banteng Moncong Putih untuk membopong OD-SK. Hanya saja baginya, PDIP sudah memenuhi syarat pencalonan. "Kemungkinan keduanya akan ke PDIP. Tapi sudah tidak akan berpengaruh karena PDIP sudah memenuhi syarat pencalonan," jelas akademisi Universitas Sam Ratulangi Manado ini.

Selain itu, menurutnya, Demokrat tidak juga dilirik dalam pencalonan karena terkesan power lemah. Misalnya, jumlah kursi tidak capai ambang batas pencalonan. Kemudian struktur kelembagaan mereka sangat lemah. "Sejak ditinggal Pak Vicky (Vicky Lumentut, red), para pengurus seperti anak ayam kehilangan induk. Organisasinya makin tak terurus rapi. Apalagi Ai (Harley Mangindaan, red) anak Ketua DPD (Dewan Pimpinan Daerah Demokrat (EE Mangindaan, red) telah bergabung dengan calon yang akan di usung Nasdem sehingga fokusnya terbelah," jelas Liando.

Padahal justru Demokrat memiliki figur-figur yang bagus untuk menguatkan posisi tawar partai. Tinggal nanti partai yang kemudian menonjolkan mereka. "Sebetulnya banyak figur-figur bagus seperti ibu Netty Pantouw, Billy Lombok, Lumentut (Ivan, red) dan James Karinda. Jika figur-figur ini ditonjolkan maka siapapun yang akan didukung Demokrat akan memberikan dampak elektoral," kunci senior member GMKI itu.(arfin tompodung)


Komentar