EFEK PANDEMI COVID-19 DIPREDIKSI HINGGA PULUHAN TAHUN
Jakarta, MS
Krisis kesehatan yang melanda dunia termasuk di Indonesia saat ini kans berlangsung lama. WHO telah mengeluarkan peringatan serius soal efek berkepanjangan Covid-19. Organisasi Kesehatan Dunia menyebut durasi pandemi virus corona jenis baru ini bisa berlangsung hingga beberapa dekade ke depan.
Sejauh ini serangan Covid di Tanah Air masih tergolong tinggi. Total ada 111.455 kasus terkonfirmasi positif yang berhasil dideteksi pemerintah berdasarkan data Minggu (2/8) kemarin. Sementara di Sulawesi Utara (Sulut) jumlah kasus positif mencapai 2.668 orang.
Di tengah upaya penanggulangan yang kini gencar dilakukan pemerintah, WHO memberi warning keras. Pertempuran sengit melawan Covid-19 disebut akan berlangsung lama. Komite Darurat mengingatkan soal risiko dari durasi panjang ini.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengingatkan bahwa wabah ini kejadian langka yang dampaknya bisa terasa selama puluhan tahun ke depan. "Pandemi ini adalah krisis kesehatan sekali dalam seratus tahun. Efeknya akan terasa selama beberapa dekade," kata Tedros saat membuka pertemuan komite darurat pada Jumat (31/7), seperti dikutip dari Reuters.
Hingga saat ini sudah ada sekitar 17 juta kasus COVID-19 yang terkonfirmasi di seluruh dunia dengan 670 ribu di antaranya meninggal dunia. Amerika Serikat (AS), Brasil, dan India jadi tiga negara penyumbang kasus terbanyak.
Benua Asia disebut mulai menghadapi gelombang kedua dan beberapa negara dilaporkan mengalami resesi ekonomi akibat dampak dari upaya pembatasan. Sementara itu, lebih dari 150 perusahaan farmasi tengah berlomba-lomba mengembangkan vaksin Corona. WHO memprediksi vaksin paling cepat tersedia pada awal 2021.
Tedros menyebut studi yang berkembang mulai mengungkap sifat-sifat dari virus SARS-COV-2 penyebab COVID-19. Namun ia mengingatkan masih banyak hal yang belum diketahui dan secara umum populasi dunia masih rentan terhadap infeksi.
"Hasil awal berbagai studi serologi menemukan hal serupa: kebanyakan populasi dunia masih bisa terinfeksi virus ini, bahkan pada area yang sudah beberapa kali mengalami wabah parah," kata Tedros.
Seperti dilansir dari AFP, Minggu (2/8) komite itu menyoroti durasi panjang pandemi COVID-19 yang diantisipasi ini". WHO dalam pernyataannya memperingatkan risiko "kelelahan dalam menangani Corona" karena tekanan sosial-ekonomi di negara-negara.
Panel rapat yang digelar pada Jumat (31/8) itu digelar untuk keempat kalinya untuk membahas Corona, setengah tahun sejak deklarasi darurat kesehatan masyarakat internasional (PHEIC) tanggal 30 Januari - tingkat alarm tertinggi WHO.
"WHO terus menilai tingkat risiko global COVID-19 menjadi sangat tinggi," ujar WHO dalam pertemuan tersebut.
Virus Corona telah menewaskan sedikitnya 680.000 orang dan menginfeksi sedikitnya 17,6 juta orang sejak wabah itu muncul di China Desember 2019.
Tidak mengherankan, panel, yang terdiri dari 17 anggota dan 12 penasihat, dengan suara bulat setuju bahwa pandemi masih merupakan PHEIC. Beberapa negara di dunia telah memberlakukan lockdown ketat dalam upaya untuk mengendalikan penyebaran virus, yang juga menjerumuskan ekonomi ke dalam kontraksi tajam.
INDONESIA CATAT 1.519 KASUS BARU DALAM SEHARI
Prediksi WHO soal dampak panjang Covid-19 jadi ancaman serius bagi dunia, termasuk di Indonesia yang saat ini masuk deretan negara dengan kasus tinggi di Asia. Kasus terbaru yang terjadi di Tanah Air sebagaimana rilis yang disampaikan pemerintah, Minggu kemarin, menyebut terjadi penambahan 1.519 kasus positif baru. Angka tersebut menambah akumulasi jumlah kasus Covid-19 di Indonesia menjadi 111.455 kasus sejak pengumuman kasus perdana pada 2 Maret 2020. Kasus Covid-19 di Tanah Air tersebar di 478 kabupaten/kota di 34 provinsi yang terdampak.
Kabar baiknya pasien terkonfirmasi positif yang telah dinyatakan sembuh terus bertambah. Pemerintah mencatat, terdapat 68.975 pasien sembuh di Tanah Air. Dari data yang dibagikan Satgas Penanganan Covid-19, Minggu kemarin, terjadi penambahan 1.056 pasien sembuh dalam 24 jam terakhir. Mereka dinyatakan sembuh setelah dua kali dinyatakan negatif virus corona berdasarkan hasil pemeriksaan melalui metode polymerase chain reaction (PCR).
Sayangnya, data pemerintah juga menunjukkan adanya penambahan pasien yang meninggal. Tercatat, pasien meninggal bertambah 43 orang sehingga totalnya menjadi 5.236 orang.
Kondisi saat ini memang jadi pergumulan berat bagi pemerintah. Ditambah peringatan keras dari WHO soal dampak berkepanjangan pandemi Covid ini. Skenario penanganan jangka panjang untuk pemulihan ekonomi negara jadi pekerjaan rumah pemerintah.
WHO : COVID-19 UBAH DUNIA
Potensi pergerakan wabah Covid dalam waktu yang panjang memantik keprihatinan dunia. Komite mendesak WHO untuk memberikan panduan pragmatis tentang manajemen Covid-19. WHO dalam pernyataannya telah memperingatkan risiko "kelelahan dalam menangani Corona" karena tekanan sosial-ekonomi di negara-negara.
"WHO terus menilai tingkat risiko global COVID-19 menjadi sangat tinggi," ujar WHO dalam pertemuan tersebut.
Beberapa negara di dunia telah memberlakukan lockdown ketat dalam upaya untuk mengendalikan penyebaran virus, yang juga menjerumuskan ekonomi ke dalam kontraksi tajam. Beruntung strategi itu tidak diterapkan di Indonesia.
WHO sendiri menyatakan, Virus Corona merupakan darurat kesehatan paling parah yang pernah mereka hadapi. "Pandemi yang ada saat ini jelas merupakan yang paling parah," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Pejabat asal Ethiopia itu menerangkan, ketika pihaknya mendeklarasikan keadaan darurat pada 30 Januari, baru ada 100 kasus di luar China. Tetapi selama sekitar enam bulan, wabah ini sudah menginfeksi 16 juta orang, dengan lebih dari 650.000 korban meninggal di seluruh dunia.
"Covid-19 sudah mengubah dunia kita. Wabah ini membuat orang, masyarakat, hingga negara terpisah-pisah," jelas Tedros dikutip BBC.(dtc/tmp)












































Komentar