Foto: Julius Jems Tuuk
Musuh Besar Olly, Bukan Lawan Politik
SEDERET persoalan yang mendera elit politik di Sulawesi Utara (Sulut), kerap dikaitkan dengan Olly Dondokambey (OD). Opini negatif acap kali diarahkan oknum tertentu ke politisi Banteng Moncong Putih itu. Umumnya bermotif politis.
Teranyar soal tertundanya pelantikan Elly Engelbert Lasut (E2L) sebagai Bupati Talaud. Opini publik sempat berkembang liar. Nama orang nomor satu di bumi Nyiur Melambai ikut terseret. Olly dituding menghambat proses pelantikan E2L.
Dedengkot Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pun bereaksi. Musuh besar Olly di Sulut, disebut bukan lawan politik, melainkan kemiskinan. “Bukan rival politik musuh besar Pak Olly, tapi kemiskinan. Itu yang sering membuat beliau (Olly, red) sulit tidur, karena memikirkan bagaimana mengatasi musuh besar tersebut,” lugas Julius Jems Tuuk, salah satu legislator Sulut dari fraksi PDIP, Rabu (31/7) kemarin.
“Itu yang bikin beliau bolak-balik Jakarta bahkan sampai keluar negeri untuk terus mencari solusi yang terbaik dalam mengatasi musuh besar yang bernama kemiskinan itu,” sambung politisi yang dikenal sangat vokal.
Ia kembali menegaskan, musuh besar dalam kepemimpinan Olly Dondokambey-Steven Kandouw (OD-SK) adalah memberantas kemiskinan, bukan oknum yang berada di panggung politik. “Jadi kalau ada orang berpikir bahwa OD SK punya musuh secara politik, itu keliru. Yang saya tahu musuh besar OD-SK adalah menyelesaikan kemiskinan di Sulut. Bukan masalah politik yang digonjang-ganjingkan akhir-akhir ini,” tegas wakil rakyat daerah pemilihan Bolaang Mongondow Raya (BMR) itu.
“Jadi sebagai anak buah Pak Olly di parlemen beserta seluruh ASN (Aparatur Sipil Negara, red) ) yang dikomandani Sekprov ( Edwin Silangen, red) sampai saat ini berjibaku dengan musuh besar itu. Untuk bagaimana rakyat sulut menjadi sejahtera menuju Indonesia raya,” ungkap Tuuk.
Lanjut Tuuk, salah satu bukti kerja pemerintahan OD-SK untuk membasmi kemiskinan di Sulut yakni terobosan mendatangkan turis China ke Sulut. Inovasi itu dinilai telah mengangkat perekonomian masyarakat Nyiur Melambai.
“Dengan banyaknya turis, ekonomi daerah ikut tumbuh dan berkembang. Contoh, ketika saya reses di pesisir pantai Bolmong, nelayan mengaku senang harga ikan sekarang naik. Seperti ikan batu yang dulunya hanya 15 ribu per kilogram kini dibeli 30 ribu hingga 35 ribu perkilogram,” bebernya.
“Belum lagi dengan pembangunan infrastruktur publik seperti akses jalan serta irigasi yang getol dibangun saat ini. Itu semua untuk membantu masyarakat, demi meningkatkan perekonomian,” tandasnya.(arfin tompodung)












































Komentar