Polemik Cengkih Disebut Murni Dipicu Panen Raya


Manado, MS

Riuh keluh petani atas turunnya harga cengkih memantik polemik. Problem ini kembali mendapat tanggapan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut). Kian menukiknya nilai ‘emas coklat’ itu disebut karena stok yang melimpah. 

Persoalan cengkih kali ini disorot karena memang semua daerah sedang mengalami panen raya. Harga pun mengalami penurunan. Hukum pasar dinilai sedang berlaku di seluruh wilayah.

“Ketika barang banyak pasti harga turun, sudah seperti itu. Ini hukum alam untuk cengkih. Ketika panen raya, turun. Kan barang berlimpah-limpah. Imbas harga, saya juga kena. Saya panen juga sekarang. Panen cengkih. Jadi kalau cuman panen sedikit boleh, tahun ini kan semua panen. Pasti harga turun,” tegas Sekretaris Komisi II DPRD Sulut, Rocky Wowor, saat dihubungi,  Minggu (16/6). 

Menurut dia, DPRD tidak bisa mengatur mekanisme pasar. Masalah ini dinilai seperti layaknya harga kopra. Tidak bisa diintervensi karena pasar yang mengatur.

“Kita mau buat hearing untuk apa. Apalagi hanya komisi 2 sekelas provinsi, tidak bisa kita atur. Seperti kopra tidak bisa kontrol harganya, kita hanya bisa berikan solusi diversifikasi barang kopra, buat minyak dan lain-lain. Buat produk turunannya. Begitu juga dengan cengkih,” pungkas politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini.

Ia mengungkapkan, semua komoditi terjadi seperti itu. Sistem pasar bila barang melimpah maka akan ada penurunan harga. “Semua diatur pasar seperti itu. Kalau tidak diatur seperti itu, dunia kacau. Kalau pasar dunia, pengusaha tidak mau ambil, jadi putih semua cengkih kita. Jadi kita pintar-pintar saja, jangan dijual semua, harus disimpan dulu. Jual saja dulu untuk bayar jasa orang yang memetik,” ujarnya.

Selain itu menurutnya, sulit untuk mencari produk turunan lain dari cengkih. Semua umumnya dipakai bagi kebutuhan rokok. “Selain rokok apa yang bisa dibuat dari bahan cengkih? Sulit juga menemukan produk turunannya,” kuncinya. (arfin tompodung)


Komentar