HARGA CENGKIH JATUH, Petani Menangis, Pemerintah Janji Ambil Langkah


Manado, MS

Harga cengkih terus menukik. Tangis petani pun kian kencang terdengar di pintu masuk panen raya. Pemerintah didesak intervensi agar buah melimpah kali ini benar-benar bisa dinikmati dengan senyum.

 

Nada keluh mengalun dari bibir Herry Karundeng. Petani cengkih asal Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim).

 

"Kali ini hasil panen sepertinya lebih baik. Kalau harga bagus, tentu akan memberikan manfaat dan nilai tambah kepada petani untuk mengembangkan pertanian dan usaha perkebunan," ujarnya, Kamis (13/6).

 

"Sayang, harga sekarang terus anjlok. Kami khawatir, di puncak panen nanti harga akan terus turun. Mungkin hanya pemerintah yang bisa membantu kami," tutur Karundeng.

 

Ia berharap pemerintah akan melakukan intervensi sehingga bisa menyelamatkan para petani dari bayang suram harga cengkih.

 

"Petani sudah paham, jika stok banyak maka harga turun. Kalau stok kurang, pasti harganya mahal. Tapi jangan kasian sampai jauh di bawah 100 ribu rupiah. Petani pasti rugi. Kami harap pemerintah bisa membantu agar harga tidak terus turun," pintanya.

 

Keluhan senada terdengar dari Danny Sumual, petani Kecamatan Eris, Kabupaten Minahasa. Ia mengaku khawatir dengan penurunan harga cengkih ini. Itu karena biaya operasional perawatan hingga panen, bakal tidak seimbang lagi. Dia berharap, pemerintah turun tangan melakukan proteksi harga.

 

“Kami berharap pemerintah provinsi turun tangan. Artinya, memanggil para pembeli cengkih untuk menkonfirmasi keadaan ini. Apalagi, kondisi ini terjadi setiap musim panen. Ini sangat memberatkan petani seperti kami,” ungkapnya.

 

Ia pun mendesak pemerintah menelusuri sirkulasi cengkih ini. “Supaya tidak ada permainan harga sampai ke pabrik. Ini penting,” tukasnya.

 

Resah juga dialami Daud Korompis. Petani dari Kecamatan Kombi, Minahasa. Ia mengaku harga cengkih saat ini memang sudah tidak sebanding dengan pengeluaran.

 

"Saya tanya baru-baru sekarang sudah Rp 72 ribu per kg. Makanya saya sampaikan kepada sudara-sudara saya kalau sudah ada yang kering setelah dijemur, langsung dijual karena dia semakin hari semakin menurun," katanya.

 

"Ini nanti sudah tidak sebanding biaya pengeluaran kita dan hasil yang kita terima. Perawatan kita untuk cengkih selama setahun itu banyak. Baru mo mamaras kebun, pemupukan, obat untuk hama, penyuntikan untuk membasmi gai (ulat), biaya orang mo kase kaluar itu gai, dengan racun rumput, kemudian pemetikan," jelas Korompis.

 

Desakan ke pemerintah agar memperhatikan petani juga ditegaskannya. "Pemetikan sekarang kalau penduduk asli kita mereka minta Rp4.000. Kalau penduduk luar mereka minta Rp3.500 per liter. Kami meminta supaya pemerintah memperhatikan kami petani," tandasnya.

 

Soal saran agar para petani menunda dahulu untuk menjual hasil panen, ikut ditanggapi para petani. "Memang ada yang bilang lebih baik disimpan dulu nanti setelah habis masa panen baru dijual. Karena setelah panen itu harga dengan sendirinya akan naik. Tetapi itu mungkin bagi yang belum ada kebutuhan khusus. Namun kalau petani yang sudah sangat butuh bagaimana? Tidak mungkin menunggu selesai masa panen sementara keperluannya sudah di masa-masa ini," kata Ito Gerungan, petani cengkih asal Rerer Kecamatan Kombi, Kabupaten Minahasa.

 

 

DPRD SULUT MENGAKU TAK BISA INTERVENSI

Wakil rakyat Sulut tak bisa berbuat banyak ketika harga cengkih turun.

Wakil Ketua DPRD Sulut, Wenny Lumentut mengakui, dewan tidak bisa mengintervensi masalah cengkih karena ini adalah mekanisme harga pasar. Terjadi yang namanya demand and supply.

 

Produksi rokok di Indonesia sedang menurun akibat produksi menurun dan pemakaian bahan baku menurun. Sedangkan produksi cengkih untuk tahun ini banyak.

 

“Makanya disampaikan kepada petani jangan dijual semua tapi disimpan. Tanya ke petani siapa anggota dewan yang mereka pilih, tanya kemudian suruh mereka mengurusnya,” selorohnya.

 

Cengkih menurutnya adalah komoditi bebas, bukan strategis yang dilindungi pemerintah. Makanya warga jangan salahkan gubernur atau wakil gubernur karena ini berlaku seluruh Indonesia.

 

 BACA JUGA: Polemik Cengkih Disebut Murni Dipicu Panen Raya

 

“Kalau boleh jual saja 10 persen. Saat pasca panen akan naik dengan sendirinya. Pabrik dalam keadaan susah. Sementara pegawai mereka juga banyak,” jelasnya. 

 

Komoditi cengkih menurutnya tidak bisa dijadikan produk strategis yang dilindungi seperti beras. Kalau akan dijadikan komoditi strategis tergantung dari presiden.

 

“Karena cengkih komoditi yang dilarang-larang. Orang merokok dilarang-larang, akibatnya produksi menurun. Jadi jual saja seusai kebutuhan dulu. Namun tentu pemprov akan mengetuk pintu pabrikan rokok supaya mengadakan pembelian. Walaupun mereka belum butuh. Namun mereka (pemerintah, red) akan memohon supaya bisa ada pembelian,” tutup Lumentut.

 

Sebelumnya, anggota DPRD Sulut, Teddy Kumaat sempat bersuara soal harga cengkih. Ia menyampaikan, persoalan komoditi unggulan Sulut ini menjadi hal yang sudah genting untuk diselesaikan. Perlu ada langkah pemerintah dalam rangka mencarikan solusi. Ini agar tidak berdampak kepada para petani.

 

“Harus dibuat prioritas. Kita usul jadikan harga komoditas pertanian mulai dari kopra, cengkih, pala sebagai prioritas utama untuk diselesaikan,” tegas Ketua Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan DPRD Sulut ini, di ruang kerjanya, belum lama ini.

 

Dari sekian persoalan yang ada di Sulut, masalah ini dinilai perlu mendapat perhatian serius. Itu dalam rangka menentukan nasib petani ke depan. “Dari sekian masalah yang mungkin ada puluhan, ratusan bahkan ribuan, mari torang buat skala prioritas, jadikan ini (komoditi Sulut, red) sebagai skala prioritas utama,” kuncinya.

 

 

OD-SK TURUN TANGAN

Harga cengkeh mengalami kemerosotan. Petani bereaksi. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut diminta turun tangan. Pemerintah diharapkan mengambil langkah dalam menstabilkan kembali komoditi yang menjadi andalan masyarakat Sulut.

 

Menanggapi hal ini, Gubernur Olly Dondokambey melalui Wakil Gubernur (Wagub) Steven Kandouw mengatakan akan memanggil PT Gudang Garam dan PT Sampoerna serta beberapa perusahaan pembeli cengkih di daerah ini.

 

"Pemanggilan kepada perusahaan pembeli cengkih dilakukan untuk mengintervensi harga cengkih yang saat ini melemah. Pak Gubernur telah menyampaikan kepada saya, bahwa pekan depan harus dilakukan pertemuan dengan beberapa produsen rokok serta pelaku usaha yang menggunakan bahan baku cengkih. Karena itu pekan depan kita akan lakukan pemanggilan kepada Djarum, Sampoerna, serta produsen lain. Kita akan buka daftar, dan mencari tahu apa saja yang akan kita panggil. Itu dilakukan untuk mengintervensi harga cengkih yang saat ini melemah," tuturnya, baru-baru ini.

 

Dari keluhan yang ia terima, harga cengkih di lapangan menyentuh Rp75 ribu per kilogram. Karena itu Pemprov bakal menjaga jangan sampai ada pihak yang mempermainkan harga. Dirinya juga bakal meminta solusi dari beberapa produsen tersebut, apa yang harusnya dilakukan agar harga bisa tetap stabil. Karena menurutnya, harga cengkih harus kembali naik setelah pertemuan tersebut. Sehingga petani bisa kembali sejahtera.

 

"Saat ini tugas kita memang menjaga agar jangan sampai ada pihak melakukan permainan harga. Karena memang dari dua tahun terakhir, cengkih tidak berbuah. Dan saat ini dari keluhan yang saya terima, cengkih sudah melemah sampai Rp75 ribu per kilogram dari biasanya sampai Rp100 ribu per kilogram. Kita akan tetap melakukan intervensi agar harga bisa kembali naik dan petani tetap sejahtera. Jadi dari pertemuan tersebut, kita akan mencari solusi secara bersama, sehingga harga bisa kembali kita naikan," ungkap Kandouw.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Daerah Sulut, Refly Ngantung mengatakan, melemahnya harga cengkih merupakan pengaruh dari hukum pasar. Saat produksi meningkat, dan permintaan menurun membuat harga ikut melemah. Dirinya menerangkan bahwa saat ini kebutuhan cengkih secara nasional ada sebanyak 120.000 ton. Sedangkan untuk saat ini, luasan lahan cengkih yang ada di Sulut sekitar 50.000 hektare.

 

"Kita prediksi dari lahan tersebut bisa juga menghasilkan 50.000 ton per tahun. Tentu jika semua daerah berbuah. Kan saat ini samua daerah terlihat sudah mulai melakukan panen. Sedangkan kebutuhan nasional itu hanya 120.000 ton cengkih. Jadi kalau Sulut saja sudah ada 50.000 ton, sudah hampir setengah produksinya untuk memenuhi kebutuhan. Sedangkan kawasan Indonesia Timur saat ini memiliki cengkih yang produksinya banyak. Jadi jika semua berbuah, maka produksi melebihi kebutuhan. Otomatis harga akan menurun," ujarnya.

 

Pemerintahan Olly Dondokambey dan Steven Kandouw (OD-SK) menurut Ngantung, saat ini juga sedang mencari pemodal untuk bekerjasama menciptakan resi gudang. Jadi menurut Ngantung, saat komoditi seperti cengkih harganya anjlok, maka akan dibeli pemerintah dan ditampung dalam gudang tersebut. Sehingga, harga dari petani bisa terus stabil. Nantinya untuk resi gudang ada hitungan tersendiri antara pemodal dan petani jika komoditi mereka dibeli untuk ditampung dan dijual ketika harga mahal.

 

"Pemprov itu sedang mencari pemodal untuk menciptakan resi gudang. Nanti jika harga sedang lemah, maka akan dibeli dan ditampung dalam gudang. Harga naik, baru dilepas. Dan kita sarankan petani itu dapat menahan diri dan tidak menjual cengkih kering pada saat harga murah. Karena komoditas ini akan secara perlahan naik, ketika stok mulai kurang. Menyimpan cengkih kering juga tidak menjadi masalah, malahan kualitas lebih baik," tandasnya. (arfin tompodung/sonny dinar)


Komentar

Populer Hari ini



Sponsors

Sponsors