Produksi Jagung di Boltim Menukik


Efek kemarau penjang yang terjadi hampir diseluruh wilayah Indonesia terus meluas. Tak hanya berdampak pada berkurangnya pasokan air bersih, musim kering juga ikut mempengaruhi produksi pertanian. Dampak itu seperti dirasakan petani di Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Fenomena gagal panen mulai merebak. Hasil pertanian seperti jagung di wilayah pesisir menukik.

 

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertanak) Boltim R Setiono mengatakan, hasil pertaniannya yang dipanen petani tak lagi maksimal. Bahkan banyak petani harus gigit jari akibat gagal panen.

"Sampai saat ini, terutama di wilayah pesisir pantai yang terkena dampak musim kemarau selama 2 bulan ini. Informasi dari lapangan, tanaman jagung banyak yang terkena puso sehingga gagal panen. Lahannya berkisar 5 hektar. Sedangkan yang lainnya bisa dipanen tapi tidak maksimal karena kurangnya suplay air," sebutnya.

Untuk hasil panen petani sawah, lanjut R Setiono, tidak mengalami penurunan yang signifikan. "Kalau padi sawah masih normal. Penurunan produksi belum signifikan," tuturnya.

Julham Patra, salah satu petani jagung mengeluhkan kerugian yang dialami akibat musim kemarau yang panjang. Kata dia, produksi menurun drastis membuat dirinya tidak pulang modal. Sehingga harus meminjam modal untuk memulai kembali penanaman jagung. "Ini sudah risiko. Semoga ke depan ada entisilasi dilakukan pemerintah, untuk mencegah produksi menurun," Keluhnya. (Pasra Mamonto)


Komentar