TANGAN DINGIN OD-SK, PARIWISATA SULUT BERKIBAR


Manado, MS

Sulawesi Utara (Sulut) kini bangkit. Kemajuan pesat di berbagai bidang membungkus jazirah utara Pulau Selebes. Paling menonjol sektor pariwisata. Daya gedor pemerintah hingga dukungan masyarakat, sukses menghentar leading sector ini semakin berkibar.

Diakui, pembangunan pariwisata Sulut di usia ke-55 tahun 2019, menunjukkan trend positif. Kerja keras pemerintah provinsi di backup sinergitas bersama pemerintah kabupaten dan kota, jadi pemicu. Titik awal memoles destinasi pariwisata serta sederet program kemudahan bagi wisatawan asing untuk datang di wilayah berjulukan Bibir Pacific berjalan mulus.

Fakta baru pun tersaji. Di tahun 2015, wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Sulut sebanyak 20 ribu. Tahun 2016 meningkat menjadi 40 ribu atau dua kali lipat. Selanjutnya, pada tahun 2017 sebanyak 80 ribu dan tahun 2018 meningkat menjadi 120 ribu. Begitu juga pergerakan wisatawan nusantara (wisnus). Dari sekitar 2 juta menjadi 4 juta atau dua kali lipat. Artinya, tangan dingin Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur (Wagub) Steven Kandouw sukses membawa kenaikan sekitar 200 persen.

Oleh Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, Sulut dicap sebagai provinsi yang memiliki performa pariwisata terbaik di Indonesia. Sebab, kunjungan wisman kurun waktu 2015 hingga 2018 naik enam kali lipat.

Menurut Arief, komitmen pimpinan daerah, dimulai dari bupati, walikota, hingga gubernur menjadi kunci keberhasilan kemajuan pariwisata Sulut.

Kebangkitan pembangunan pariwisata Sulut ini langsung mendapat atensi khusus pemerintah pusat atau Presiden Joko Widodo (Jokowi). Orang nomor satu di Tanah Air ini langsung mengunjungi Sulut. ‘Kebijakan’ pembenahan dibawa Jokowi guna melengkapi kekurangan yang masih nampak. Sejumlah daerah kecipratan kebijakan populis.

Misalnya, Kabupaten Minahasa Utara (Minut). Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (Kemenpar RI) menetapkan Likupang masuk dalam 5 destinasi wisata super prioritas di Indonesia. Itu membuat Likupang sejajar dengan 4 daerah wisata lainnya yang telah lebih dulu ditetapkan yaitu Danau Toba di Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Borobudur di Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Mandalika di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Labuan Bajo di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menteri Arief mengakui, terpilihnya Likupang dilihat dari pertumbuhan pariwisata Sulut dari tahun 2013-2018 yang mengalami peningkatan lima kali lipat. “Kalau pertumbuhan pariwisata nasional hanya 67 persen, tapi Sulut capai 518 persen. Satu-satunya provinsi yang diberikan penghargaan oleh Kemenpar sebagai Rocky of The Year, The Rising Star. Provinsi dengan pertumbuhan pariwisata tercepat di Indonesia. Jadi tidak salah jika masuk 5 destinasi super prioritas,” tandas Arief, belum lama.

Untuk menjadi Bali baru, pemerintah pusat membantu Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut dan Kabupaten Minut dalam menyelesaikan infrastruktur dasar seperti perluasan Bandara Sam Ratulangi Manado dari kapasitas 2 juta penumpang menjadi 6 juta penumpang, pelebaran jalan dari bandara ke Likupang, penyediaan listrik, penyediaan air bersih, telepon dan internet. Olehnya sesuai rekapitulasi Anggaran Infrastruktur PUPR pengembangan kawasan strategis pariwisata nasional, diajukan total bantuan anggaran untuk tahun 2019 sebesar Rp1,7 triliun dan tahun 2020 Rp7,1 triliun.

Minut sendiri tahun 2019 diusulkan mendapat bantuan sekira Rp238 miliar dan tahun 2020 naik mencapai Rp438 miliar. Anggaran tersebut untuk sumber daya air, bina marga, cipta karya, dan perumahan. “Usulan anggaran yang dialokasikan pada 2020 sebesar Rp6,4 triliun untuk 4 destinasi wisata super prioritas. Kalau ditambah KEK Likupang, maka jadi Rp7,1 triliun. Nah, pemerintah Sulut boleh minta bantuan sampai Rp2 triliun seperti pengembangan wisata Danau Toba,” tandas Arief sembari menegaskan bahwa semua infrastruktur harus selesai tahun 2020.

IVEN PARIWISATA, SUPPORT DARI DAERAH

Kerja hebat Gubernur Olly menggenjot sektor pariwisata harus diapresiasi. Di sisi lain, topangan pemerintah kabupaten dan kota, juga patut diperhitungkan.

Untuk tahun 2019 ini, Sulut meresmikan Calender Of Event (Coe). Ada 3 iven unggulan masuk ke dalam C0E Wonderful Indonesia. Adalah Festival Pesona Bunaken, Tomohon International Flower Festival (TIFF) dan Festival Pesona Selat Lembeh.

Festival Pesona Bunaken memperlihatkan upaya melestarikan sumber daya bawah laut dan seni budaya Pulau Bunaken. Sedangkan TIFF yang tahun 2019 ini merupakan penyelenggaraan ke-9, menyajikan sebua parade kendaraan berbalut bunga. Di acara ini, wisatawan dan masyarakat bisa melihat float kendaraan hias yang didekorasi menggunakan bunga. Belasan negara telah berpartisipasi pada agenda yang serupa dengan Tournament Of Roses (TOR) di Pasadena Amerika Serikat, tersebut. Itu membuat iven kelas internasional ini masuk dalam 100 COE Kemenpar. Sementara itu, Festival Pesona Selat Lembeh yang dimeriahkan dengan sailing pass, lomba kapal hias, festival kuliner, pentas seni dan budaya, colar plantation, 10K dan thanksgiving. Festival ini memperlihatkan potensi Kota Bitung dan Selat Lembeh.

Untuk tahun ini, Sulut sebenarnya memiliki 14 agenda festival untuk menarik kunjungan wisatawan. Dari ke 14 agenda tersebut, tiga agenda di antaranya masuk dalam COE Wonderful Indonesia yang akan dipromosikan pemerintah pusat secara global.

“TIFF adalah agenda yang didesain untuk mendukung program provinsi bahkan pemerintah pusat dalam menghadirkan wisatawan asing di Indonesia, Sulut dan khususnya Tomohon,” aku Walikota Tomohon Jimmy Feidie Eman SE Ak CA (JFE).

‘THE RISING DESTINATION OF THE YEAR 2019’

Sepak terjang Gubernur Olly Dondokambey menggenjot sektor pariwisata, telah berbuah manis. Namun, langkah ini diharapkan konsisten, agar Sulut tetap berjaya dengan potensi ‘milik sendiri’.

Gubernur Olly punya ‘mata’ yang jelih melihat itu. Peningkatan kunjungan wisatawan di Sulut tidak lepas dari terobosan Olly mengupayakan pembangunan infrastruktur, fasilitas objek wisata hingga peningkatan profesionalitas sumber daya pariwisata terus dipacu. Itu ditunjang oleh keramahan masyarakat Sulut.

Bonus dari kerja keras pemerintah dan masyarakat membuat Sulut mendapat apresiasi dari pemerintah pusat. Melalui Kemenpar RI, Nyiur Melambai menyabet predikat sebagai “The Rising Destination of the Year 2019”. Penghargaan itu diterima langsung Gubernur Olly.

Kemenpar RI bahkan menobatkan Sulut sebagai The Rising Star sektor pariwisata Indonesia karena mampu mendorong pertumbuhan kinerja pariwisatanya hingga 600 persen dalam empat tahun terakhir.

GENJOT KEK PARIWISATA LIKUPANG DAN PERLUASAN BANDARA SAM RATULANGI

Terkait KEK Pariwisata Likupang, selain telah disetujui Dewan Nasional KEK sebagai KEK Pariwisata pada Kamis 15 Agustus 2019, KEK Likupang juga segera disulap infrastruktur pelabuhannya.

Pemerintah pusat menganggarkan Rp100 miliar untuk pembenahan infrastruktur pelabuhan di sekitar kawasan Likupang. Selain itu, nantinya di KEK Likupang akan dikembangkan resort, akomodasi, fasilitas hiburan dan MICE. Di luar area KEK, akan dikembangkan pula Wallace Conservation Center dan Yacht Marina. Sering investasi terebut, jumlah tenaga kerja terserap diperkirakan mencapai 65.300 orang.

Berdasarkan dari perhitungan, pengembangan KEK Likupang diprediksi meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 162 ribu orang pada 2025. Jumlah tersebut berkontribusi sekitar 16 persen dari target yang ditetapkan oleh Gubernur Sulut yaitu 1 juta wisatawan mancanegara pada 2025. Selain itu, KEK Likupang diprediksi mampu memberikan kontribusi devisa  sebesar Rp 22,5 triliun pada 2030.

 

Menurut rencana, KEK Likupang akan dikembangkan dalam tiga tahap. Pembangunan  tahap I akan dibangun seluas 92,89 hektare dengan kurun waktu tiga tahun ( 2020- 2023). Target investor yang akan masuk pada tiga tahun pertama tersebut adalah Maestro & Partners melalui pembangunan luxury resort senilai Rp 357 miliar, Sejuta Rasa Carpedia akan membangun beach club senilai Rp 307 miliar. Lalu, Dune World akan membangun luxury dive resort senilai Rp 50 miliar, dan Artha Prakarana akan membangun nomadic resort senilai Rp 36 miliar. KEK Lipung diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja untuk 65.000 orang.

Di sisi lain, masuknya wisatawan asing ke Kota Manado selama beberapa tahun belakangan memang meningkat dan mendongkrak tingkat penerbangan internasional. Permintaan akan perluasan bandara oleh para agen perjalanan wisata dan konsumen sendiri juga sering terdengar.

“Oleh sebab itu sudah kita perintahkan agar segera dibangun terminal yang baru. Akan dimulai nanti bulan September ini dan akan diselesaikan Agustus 2020,” kata Presiden Jokowi di Bandara Sam Ratulangi pada awal Juli lalu.

Program perluasan Bandara Sam Ratulangi sebagai pendukung industri pariwisata Sulut direncanakan akan menjadikan terminal bandara yang semula seluas 26.000 meter persegi menjadi 56.000 meter persegi. Perluasan tersebut diperkirakan akan dapat melayani hingga 6 juta penumpang per tahun dari yang sebelumnya berada pada kisaran 2,5 juta orang per tahun. Bersamaan dengan perluasan bandara tersebut, pemerintah juga akan membangun sekaligus membenahi kawasan-kawasan wisata yang ada di sekitarnya. Hal inilah yang menjadi tujuan utama Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Sulawesi Utara hari ini. “Kita juga akan masuk ke produknya. Pembangunan-pembangunan yang berada pada kawasan-kawasan wisata yang ada di sini ini juga paralel harus segera selesai. Oleh sebab itu saya ke sini untuk mengecek satu-satu biar terintegrasi,” tandas Presiden.

TEROBOS PENERBANGAN INTERNASIONAL

Bak gayung bersambut. ‘Perintah’ Jokowi membenahi Bandara Sam Ratulangi langsung disikapi Gubernur Sulut. Ada beberapa penerbangan internasional yang sementara dijajaki orang nomor satu di Sulut itu.

Terbaru untuk tahun 2019, Gubernur berhasil melakukan terobosan dengan melobi rute penerbangan lansung internasional di dua negara, yaitu Sabah– Malaysia dan Davao–Filipina. Itu setelah rute penerbangan langsung dari beberapa kota di China semakin berkembang pesat.

Terkait hal ini, maskapai internasional China Southern Airlines langsung menawarkan kerjasama dengan Pemprov Sulut untuk membuka rute penerbangan langsung secara regular dari Guangzhou.

Diketahui, sejak 2016, membuka penerbangan langsung dari Manado ke beberapa kota besar di 8 kota besar Tiongkok dan Sabah Malaysia dan Davao dan kerjasama dengan China Southern Airlanes. Minat investor dari maskapai penerbangan karena pertumbuhan pariwisata yang melonjak drastis dan merupakan Provinsi the Rising Star dalam sektor pariwisata Indonesia. Seperti, maskapai penerbangan China Southern Airlines akan menjajaki penerbangan reguler dari Guangzhou menuju Manado.

Untuk Davao sendiri, sejumlah agenda penting terkait penerbangan langsung rute Manado-Davao, Fillipina pada tanggal 27 September 2019 dibahas. Sekretaris Provinsi (Sekprov) Edwin Silangen mengatakan, penerbangan Manado-Davao menjadi peluang untuk menjajaki kerjasama ekonomi regional, perdagangan maupun kegiatan berpariwisata antara pemerintah kabupaten/kota di Sulut dengan kota-kota di wilayah Filipina Selatan yang potensial. “Penerbangan Manado-Davao memberikan peluang kerjasama pariwisata dan perdagangan Sulut dan Filipina,” kata Silangen.

KERJA HEBAT OD-SK

Di bawah kepemimpinan Olly Dondokambey dan Steven Kandouw, pembangunan pariwisata Sulut mengalami perubahan drastis. Satu persatu wajah destinasi dan penunjang pariwisata mulai dipoles. Keberhasilan Provinsi Sulut tidak lepas dari peran Gubernur Olly di kancah nasional. Momentum itu ia apresiasikan untuk daerah bumi Nyiur Melambai tercinta.

Seperti magnet. Gubernur Olly menjadi daya tarik tersendiri bagi insan pariwisata nasional. Itu sebabnya, Kemenpar RI mengakui Olly Dondokambey menjadi salah satu Gubernur yang dinilai sukses membangun daerah melalui sektor pariwisata.

Capaian ini adalah sebuah lompatan besar Sulut di sektor pariwisata, karena pada 2015 lalu, pariwisata Sulut masih kurang diperhitungkan. Terbukti, tak dimasukkannya Sulut, dalam 10 beyond Bali. Ternyata, sejak dipercayakan rakyat memimpin Sulut, bersama Wakil Gubernur (Wagub) Steven Kandouw, Februari 2016 lalu, laju pariwisata Sulut maju pesat. Sektor ini dinilai mendrive banyak sektor pembangunan lainnya.

Dijelaskan Gubernur Olly, posisi Sulut sebagai pintu gerbang pasifik yang menunjang pertumbuhan sektor pariwisata Sulut. Olly menerangkan gambaran umum posisi Sulut secara geografis, geoposisi dan geostrategi. Menurutnya, Sulut sangat strategis karena berada di bagian utara Indonesia. Di samping itu, Olly memaparkan pengembangan strategi pariwisata Sulut dengan konsep pembangunan pariwisata yang berkelanjutan. Pariwisata yang berkelanjutan ini bisa dipenuhi jika dapat memenuhi sejumlah syarat, yaitu people atau peningkatan sdm, potensi wisata harus disiapkan, partnership atau kemampuan menggalang segala relasi dan place atau Sulut sebagai tempat yang tolerannya tinggi sehingga menarik orang berkunjung.

“Pariwisata maju, rakyat dan daerah harus ikut menikmati dampaknya. Kita harus melakukan lompatan besar jauh ke depan. Melakukan itu semua harus bersama,” tandas Olly.

Olly juga menerangkan keberhasilan upayanya untuk mendatangkan wisatawan mancanegara yang didominasi negara tiongkok ke Sulut dengan memberikan berbagai kemudahan berbagai persyaratan seperti pengurusan visa bebas, operasional Bandara Sam Ratulangi 24 jam non stop, peningkatan status kantor bea cukai dan ketersediaan hotel dan sdm yang bisa berbahasa mandarin. “Mohon dukungan seluruh masyarakat Sulut,” lugasnya.(sonny dinar)

 

PILAR PARIWISATA PROGRAM STRATEGIS GUBERNUR

1. Pengembangan pemasaran melalui penyelenggaraan iven promosi pariwisata seperti Festival Bunaken, Christmast Festival, Festival Ramadhan, Tomohon International Flower Festival, Festival Cap Go Meh, Familiarization Trip, sertapromosi pariwisata melalui kegiatan-kegiatan pameran di dalam maupun di luar negeri

2. Pengembangan destinasi pariwisata berupa pembangunan objek-objek wisata unggulan yang menjadi kewenangan Dinas Pariwisata Sulawesi Utara yaitu Sumaru Endo, Bukit Kasih dan Tasik Oki, pemberdayaan masyarakat di sekitar objek wisata melalui sosialisasi sadar wisata, kegiatansapu laut serta pelatihan dan bantuan peralatan kepada masyarakat miskin di sekitar objek wisata sebagai dukungan terhadap program ODSK (Operasi Daerah Selesaikan Kemiskinan)

3. Pengembangan kelembagaan berupa penguatan terhadap SDM dan lembaga pariwisata sebagai mitra kerja pemerintah melalui bimbingan teknis dan sosialisasi peningkatan profesionalitas dan kompetensi, di antaranya kegiatan kursus Bahasa Mandarin secara gratis kepada Pemandu Wisata dan pelaku usaha jasa pariwisata lainnya.

4. Pengembangan industri berupa penguatan terhadap usaha jasa pariwisata melalui sosialiasasi dan bimbingan teknis dalam rangka sertifikasi dan peningkatan kompetensi industri pariwisata.

5. Dukungan Pendidikan Vokasi SMK Jurusan Pariwisata. Koordinasi Dengan Kementerian Terkait (Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas RI, Kementerian Keuangan RI, Kementerian PUPR RI, Kementerian Pariwisata RI) Usulan Politeknik Pariwisata, Dimana Pemerintah Provinsi Telah Menyiapkan Lahan Sebesar ± 10 Ha di Kecamatan Wori Kabupaten Minut.


Komentar