Wagub Ingatkan Etika Pelsus Kepada Pendeta


HUBUNGAN antara pendeta dan jemaat merupakan suatu kesatuan dalam pelayanan. Namun saat ini, pandangan masyarakat awam terhadap pendeta, terkadang sulit ditebak atau gampang-gampang susah.

Utamanya dilingkup kepelayananan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Untuk itu, etika sopan santun dan saling menghormati dinilai harus lebih dikedepankan.

Demikian paparan  Wakil Gubernur (Wagub) Sulawesi Utara (Sulut), Steven Kandouw kala memberikan materi tentang Pandangan Jemaat Tentang Pendeta dan Ketua Jemaat, di acara semiloka Ketua BPMW/J GMIM, di Pusat Pembinaan Warga Gereja (BPWG), Kota Tomohon, Rabu (18/9) kemarin.

“Dalam beberapa kesempatan, saya sering bertukar pikiran soal hal itu. Justru yang perlu dikritisi dan harus diperbaiki menurut hemat saya, bukan cuma sikap pendetanya saja. Tapi dari suasana hati saya, lebih holistik dan tidak hanya top down dari pendeta ke jemaatnya saja.  Tapi jemaat ke pendetanya juga perlu,” ujar Majelis Pertimbangan Sinode (MPS) itu.

Lanjut Kandouw, dari pandangan pribadinya dan sebagai awam, hubungan antara pendeta dan jemaat terdapat dua sisi. Pertama dari sisi legaliter dan kedua soal  etika sopan santun. “Tapi sekarang ini saya temui banyak Pelsus (pelayan khusus, red) tak menghormati para pendeta,” beber Wagub.

“Untuk itu saya berharap kepada warga GMIM dan para pelsus untuk saling hormat menghormati terhadap pendeta,” imbuh Penatua Kolom 29 Jemaat GMIM Bukit Moria Rike (Bumorik) Wilayah Manado Tenggara itu.

Semiloka tersebut dihadiri oleh Sekretaris BPMS Pdt Evert Tangel, Wakil BPMS Pdt Dan Sompe,  Pdt Tonny Kaunang  dan Ketua Ketua BPMJ/BPMW se Sinode GMIM. (sonny dinar)


Komentar