POHONG CINGKEH


Karya: Kalfein ‘Mapatik’ Wuisan

(Penulis Muda, Seniman, Pegiat Budaya dan Dosen di UNIMA)

 

 

Pohong cingkeh yang cantik adalah pohong cingkeh yang mampu menceritakan kecantikannya.

 

Sekolah terakhir telah usai. Aku dan beberapa teman harus kembali ke aktifitas lama kami yaitu sebagai pekerja di sebuah perkebunan cingkeh di daratan Minahasa. Ini mungkin sedikit kisah mengenai pengalamanku di perkebunan cingkeh tersebut. Bagi kebanyakan orang, mungkin kisah ini tidak menarik. Tapi bagi kami para pekerja, kisah ini menarik, menggelikan serta patut dibingkai dalam museum cinta.

 

Di perkebunan bernama mawale, di daratan Malesung, tumbuh beberapa pohong cingkeh yang berkualitas super. Baik ditinjau dari pohonnya bahkan juga dari buahnya. Namun ada sebagian pohon yang, menurut kami para pekerja di kebun itu, memiliki daya tarik tersendiri. Dari beberapa pohon tersebut, ada kisah menarik mengenai salah satu pohong cingkeh di perkebunan itu. Oleh karena itulah kisah ini diceritakan.

 

Sebuah pohong cingkeh dari spesies zanzibar, tumbuh di tengah perkebunan itu. Seperti ‘pohon pengetahuan’ di taman eden, kisah pohon ini hampir mirip tapi tak sama. Pohon ini nampak seksi dan modis. Kualitas bibitnya pun terjamin mantap. Walaupun sudah berumur 22 tahun, pohong cingkeh ini tetap terlihat anggun dan pasti akan berbuah ranum. Tak heran apabila para pekerja kebun, berebut menyandarkan tangga mereka pada pohon ini dengan sifat posesif mereka.

 

Suatu masa ada beberapa pekerja yang sempat bersaing dan berambisi untuk mengeksploitasi pohong cingkeh itu, termasuk aku.  Sebab aku juga sudah memperhatikan pohong cingkeh itu sejak SMA dan berangan kira-kira suatu saat nanti aku bisa memanjat ataupun memilikinya.

 

Namun niat posesif demi pohong cingkeh itu hilang ketika di suatu saat aku diperhadapakan dengan sebuah pilihan. Pilihan yang mengharuskanku memilih untuk memindahkan tangga ke pohong cingkeh lain. Oleh sebab, tiga rekan sekerjaku telah menyandarkan tangganya pula ke pohon tersebut. Rasa ingin memilki pohong cingkeh itu sudah punah. Kepunahan ini demi pengorbanan kepada seorang sahabat  yang juga terobsesi pada pohong cingkeh tersebut. 

 

Ketika tiba musim pembersihan kebun, kecuali aku, para pekerja berbondong-bondong memilih pohon tersebut sebagai objek kerja mereka. Bayangkan saja, sebuah pohon hendak dibersihkan dan dipanen oleh beberapa orang. Mengakibatkan terjadinya saling tak merasa nyaman antar pekerja kebun.

 

Ada seorang pekerja yang dalam beberapa waktu begitu dekat dengan pohon tersebut. Tugasnya membersihkan rumput, di bawah maupun di sekitar pohon, dan nampaknya tindakan itu disenangi oleh pohon tersebut. Beberapa kali aku mendapati pekerja ini sering berbicara sendiri. Menghabiskan waktu bersama pohon tersebut, sambil saling mendegarkan bahkan mengungkapkan curahan hati.

 

Di suatu sisi, niat dari pekerja tersebut untuk memiliki pohon itu hilang, seiring rutinitas dan kedekatannya bersama pohon itu. Salah satu alasan utama hilangnya keinginan untuk mendapatkan pohon tersebut, karena alasan seperti aku. Ada juga temanya, sekaligus temanku, ingin pula mendapatkan pohon itu.  Demi alasan persahabatan kami akhirya mengalah dan membantu rekan sekerja kami memperoleh pohon tersebut. Berbagai cara dan upaya kami lakukan agar rekan kami berhasil mewujudkan cita-citanya.

 

Tugas kami tak lagi sebagai pemetik cingkeh, namun hanya sebagai pembersih pohon tersebut. Adapun tugas baru kami, antara lain, membantu membersihkan rerumputan liar di sekitar pohon. Bahkan, berusaha merubuhkan tangga milik salah satu rekan pekerja kebun. Namun, cara kami untuk menyingkirkan salah satu pekerja yang mencoba  mendekati pohong cingkeh itu, sia-sia. Sebab, dia telah mengikatkan tangga dan tubuhnya dengan cara yang, bagi kami, tidak lazim.  Bahkan pohong cingkeh yang kami incar malah melilitkan cabangnya ke tangga tersebut.

 

Kami tak tahu kenapa, sampai hal menyedihkan itu terjadi. Hanya beberapa bukti yang kami temukan. Antara lain, bungkusan coklat silverqueen di bawah pohong cingkeh tersebut. Coklat sebagai pupuk ? Mungkin!. Atau coklat pengganti pupuk? Kami tidak tahu jawaban pastinya. Kadang juga kami menemukan pohong cingkeh tersebut sebagai model. Di potret dari beberpa angel saat kami sedang tidak bekerja.

 

Sempat aku mencari pohong cingkeh baru di samping pohon tersebut. Hingga menemukan satu yang kupikir bagus.  Tapi kenyataannya tak seperti dugaan.  Pohon tersebut memang indah bagian luarnya tapi sayang sudah ada hama ulat pada batang kayunya. Bahkan kebiasaan  menyerap cairan herbisida yang bisa merusak pamornya sebagai cingkeh berkualitas, sudah tak bisa kuhentikan. Daripada mengambil resiko terburuk, lebih baik, tak usah lagi aku mengusahakan pohon tersebut.

 

Sampai kini, kami para pekerja tak tahu waktu panen cingkeh tiba. Bahkan beberapa rekan pekerja belum menemukan pohon cingkeh yang cocok. Sialnya, ada rekan sekerja yang memang kehilangan, dua sekaligus, pohong cingkeh dambaanya.

 

Untunglah, aku telah bekerja di bagian sudut lain yang masih berada di perkebunan mawale. Sebuah pohong cingkeh yang baru kumiliki, pohonnya indah dan tentu sesuai pilihanku. Dibandingkan pohong cingkeh sebelumnya, pohon baru ini lebih menonjolkan keindahan ekstrinsik maupun intrinsiknya. Tak heran kalau kali ini, aku juga punya saingan. Tapi sayang, sainganku itu tak cukup kuat untuk merebut pohong cingkeh yang satu ini dariku.

 

Sebuah pesan yang aku dapat dari kisah ini, bahwa, pohong cingkeh adalah ciptaan yang begitu indah. Namun lebih indah ketika pohong tersebut menciptakan keindahannya sendiri. (*)


Komentar