ANGOUW-SUMENDAP ‘PERANG DINGIN’


Manado, MS

Dua politisi gaek Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sulawesi Utara (Sulut), Andrei Angouw (AA) dan James Sumendap (JS) terlibat ‘perang dingin’. Eksistensi minyak sawit di Nyiur Melambai jadi pemicu. Presensi Alfamart dan Indomaret ikut tersenggol.

Fenomena itu terendus dari kicauan AA. Bendahara DPD PDIP Sulut itu terkesan menyindir testimoni JS, yang sempat mendendangkan pemboikotan minyak sawit. AA mengaku lebih memilih tak mengintervensi peredaran minyak sawit.

Ia malah menilai penggunaan jenis minyak goreng itu tergantung dari konsumen.  “Tetap kembalikan ke konsumen. Ngoni toh (kalian kan, red) yang akan pilih, mau pakai minyak sawit atau minyak kelapa. Kalau kita main larang yang satu, bisa-bisa konsumen yang dirugikan,”  beber AA yang terkesan menyinggung JS.

Meski begitu, Ketua DPRD Sulut itu tetap mendorong eksistensi minyak kelapa Sulut. “Tapi kita tentu ingin produk minyak kelapa tetap eksis, demi meningkatkan kesejahteraan petani kelapa,” ujarnya.

Baginya, perlu ada strategi agar minyak kelapa dapat diminati oleh masyarakat. Dan itu perlu didorong oleh pemerintah. “Contoh membuat kemasan minyak kelapa menjadi lebih bagus. Lalu beri sosialisasi kepada masyarakat untuk pakai minyak kelapa.  Cuma kita tidak bisa larang yang lain (Minyak Sawit, red). Karena yang dirugikan konsumen,” katanya lagi.

Tak hanya itu, AA pun sempat menyentil soal keberadaan Indomaret dan Alfamart. Baginya, kehadiran minimarket-minimarket yang menyediakan kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-hari itu tak bisa dilarang. “Itu juga (Indomaret dan Alfamaret, red) sebenarnya tidak boleh dilarang. Biar saja dikembalikan ke konsumen untuk memilih berbelanja di mana,” kata AA yang lagi-lagi seperti menyindir JS.

Maklum, JS yang kini menjabat sebagai Bupati Minahasa Tenggara (Mitra), melarang Indomaret dan Alfamart berdiri di daerah berjulukan Patokan esa itu.

“Siapa yang pelanggan. Kan konsumen. Kita  kalau larang mereka, apa kalian tidak rugi? Mungkin kita cuma di sebelah rumah, tengah malam, teringat mau beli decolgen karena sakit. Kalau tidak ada seperti itu (Indomaret dan Alfamaret, red), kita tidak bisa dapat obat,” timpal wakil rakyat daerah pemilihan Kota Manado yang kembali terpilih sebagai Legislator Sulut periode 2019-2024 itu.

Tanggapan Andrei Angouw jelas berseberangan dengan sikap James Sumendap, sebelumnya. Ketua DPC PDIP Mitra itu secara terang-terangan menolak eksistensi minyak sawit di Sulut. Bahkan Bupati Mitra itu tak sungkan-sungkan ‘mencanangkan’ pemboikotan  minyak sawit.

"Sudah seharusnya Sulut boikot penggunaan minyak sawit," tegas JS kepada awak media, Selasa (16/7).

Produk lokal minyak kelapa dinilai merupakan minyak paling sehat diantara minyak-minyak goreng lainnya. "Minyak kelapa adalah yang paling sehat diantara semua minyak goreng. Dan memang sebaiknya jangan menggunakan minyak sawit. Setiap masakan di Sulut sebaiknya menggunakan minyak kelapa," lugas Bupati Mitra dua periode itu.

Ia pun berencana membuat peraturan daerah (perda) terkait penggunaan minyak kelapa di Mitra. "Tapi harus kita (Pemerintah, red) fasilitasi dulu. Pertama, mengadakan alat pembuat minyak kelapa. Itu yang yang utama agar dapat membantu mempercepat produksinya," tukasnya.

JS juga menyarankan warga untuk  menanam pohon kelapa. "Karena rata-rata masyarakat sudah tak lagi menanam lagi pohon kepala dan hanya berharap terhadap pohon yang telah ada. Mestinya tetap menanam pohon kelapa demi masa depan,” pungkasnya.

DICAP PILWAKO MANADO EFFECT

Silang pendapat Andrei Angouw dengan James Sumendap soal minyak sawit dicap sarat dengan muatan politis. Utamanya terkait Pilwako Manado. Alasannya, kedua kader Moncong Putih itu disebut-sebut berpeluang untuk di usung PDIP sebagai calon walikota di ibukota provinsi.

Apalagi, DPD PDIP Sulut, telah memberi sinyal mengusung, AA dan JS di Pilwako Manado. Keduanya pun telah mengaku siap maju bila ditugaskan partai.

“Kelihatannya ini ada kaitannya dengan Pilwako Manado. Karena dua-duanya (AA dan JS, red) punya peluang diusung sebagai calon walikota dari Manado. Jadi sama-sama cari panggung politik. Masalah minyak sawit ini salah satunya, karena lagi hangat dipolemikkan,” tanggap, Andrian salah satu warga Manado.

Apalagi elit di DPD PDIP, dinilai beda kuda di Pilwako Manado. “Kan lalu, OD (Olly Dondokambey, red), sempat menyebut AA yang paling berpeluang untuk diusung di Manado. Sementara  SK (Steven Kandouw, red), terkesan lebih mengarah ke JS. Kayaknya ini sudah ada persaingan politik di internal,” imbuhnya.

Sinyalemen itu ikut ditangkap Taufik Tumbelaka. JS dan AA ditengarai didukung oleh dua faksi berbeda di internal PDIP.  “Biasanya di internal ada faksi-faksi. Mungkin ada faksi  dukung JS dan adapula yang dukung AA. Kalau OD, saya kira berdiri ditengah-tengah,” ujar Direktur Eksekutif Tumbelaka Academic Centre (TAC) itu.

Pun begitu, baik JS dan AA dinilai memiliki peluang yang sama untuk diusung menjadi calon walikota Manado dari PDIP. “Dua-dua punya peluang. Bisa juga kader lain. Saya kira itu semua tergantung dari survei serta strategi partai,” paparnya jebolan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu.

Pun begitu, Taufik menilai PDIP serius mempersiapkan diri menatap Pilkada serentak, terutama di Manado. “Karena mungkin faktor ibukota. Apalagi, setahu saya, PDIP belum pernah menang di Pilwako langsung di Manado,” ujarnya.

“Saya kira Manado akan mendapat perhatian lebih dari PDIP. Apalagi GSVL (Godbless Sofcar Vicky Lumentut, red) sudah tidak akan turun di Manado, karena  telah dua periode walikota. Semua kandidat nanti akan main di tanah rata. Tentu peluang PDIP akan lebih terbuka,” tambahnya.

Meski demikian, pertarungan di Pilwako Manado dinilai akan ketat. “Sebab sudah muncul wacana-wacana ada sejumlah figur populer lain akan maju. Seperti Imba (Jimmy Rimba Rogi, red) dari Golkar serta tokoh-tokoh potensial lainnya ,” terang Bung Taufik sapaan akrabnya.

Kemenangan PDIP di Pileg Manado serta berhasil meraih 3 kursi DPRD Sulut dapil Manado, dianggap belum menjamin untuk memenangkan pilwako. “Sebab perilaku pemilih di pileg dan pilwako itu beda,” ungkapnya.

“Selain pemilihan figur, strategi politik yang jitu juga sangat menentukan pemenangan di pilkada serentak termasuk Pilwako Manado,” tandas putra Gubernur pertama Sulut itu.

Diketahui, Ketua DPD PDIP Sulut, Olly Dondokembey sempat keceplosan menyebut Andre Angouw sebagai calon walikota Manado dari PDIP. Itu diungkap Olly kala dicerca awak media  Senin 27 Mei 2019  lalu. Awalnya, Olly enggan menanggapi pertanyaan wartawan, terkait nama yang santer beredar akan diusung PDIP di Manado, seperti Roy Roring, James Sumendap, Andre Angouw, Richard Sualang dan Jantje Wowiling Sajow.

"Belum ada nama,"lugasnya kepada awak media usai mengikuti rapat paripurna di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulut. “Sementara dibahas di internal partai. Semua itu ada mekanismenya,” sambungnya.

Namun, ketika didesak wartawan siapa kader yang paling berpeluang akan diusung partai besutan Megawati Soekarno Putri di Pilwako Manado, Olly tiba-tiba secara spontan menyebut 1 nama. "Andre Angouw,"singkatnya.

Bendahara Umum PDIP itu pun kembali menegaskan target sapu rata di Pilkada serentak 2020 di Sulut. Tak hanya di pilkada kabupaten kota, melainkan juga di pemilihan gubernur dan wakil gubernur sulut (pilgub) Sulut. “Pokoknya pilkada serentak aman. Pasti kita menang,” tandas Gubernur Sulut itu.

Sementara sebelumnya, Wakil Ketua DPD PDIP Sulut, Steven Kandouw telah memberikan sinyal dukungan kepada JS untuk maju di Pilwako Manado. Itu didendangkan salah satu dedengkot PDIP Sulut, saat menghadiri perayaan HUT Mitra dalam kapasitas sebagai Wakil Gubernur Sulut,  Kamis 23 Mei 2019  lalu.

JS dinilai layak maju di Pilwako Manado. Itu menyusul track record JS yang dianggap sukses membangun Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra). Secara pribadi, Steven mengaku menjagokan JS untuk dapat bertarung pada pesta demokrasi di Kota Multidimensi. "Bukan karena saya teman baik. Tapi kalo James (JS, red) jadi, akan memberikan manfaat yang luar biasa bagi Kota Manado," tandas Kandouw.

Baginya, JS telah memiliki indikatornya sebagai seorang pemimpin, selanjutnya parameter hingga bukti empiris. "Indikasinya ada, parameternya ada, bukti empirisnya banyak," tegas Kandouw.

Tak hanya itu JS dianggap sudah pantas untuk memimpin daerah sekelas ibu kota terkait semua track record positif yang telah ditorehkan selama memimpin Bumi Patokan Esa. "Dia (JS, red) layak karena inovasinya. Dirinya pantas untuk itu," beber Kandouw.

Namun, dia mengembalikan putusan penetapan pasangan calon wali kota dan wakil wali kota melalui mekanisme partai. "Kalau saya. Kalau saya yang menentukan, pasti Pak James (JS, red). Tapi kita punya mekanisme dan ada institusi yang menentukan, yakni mekanisme partai," pungkasnya kala itu.(tim ms)


Komentar