Usung Konsep Wisata Spektakuler, MMB Kans Icon Baru Manado

Jokowi Instruksikan Pembangunan Tuntas 2 Tahun


Laporan : SONNY DINAR

Dunia pariwisata di Bumi Nyiur Melambai melejit. Energi pembangunan destinasi wisata unggulan yang disuntik Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) picu daya gedor. Teranyar, orang nomor 1 di Tanah Air dorong pembangunan Manado Marine Bay (MMB). Usung konsep spektakuler, kehadiran MMB nanti kans jadi icon baru Manado.

 

Konsep ini sempat muncul sejak tahun 2000-an namun seolah tenggelam. Harapan baru muncul saat kedatangan Jokowi ke Sulawesi Utara (Sulut) baru-baru ini. Di sela kunjungan ke Pelabuhan Manado dan Pelabuhan Bitung 5 Juli lalu, Kepala Negara meminta PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) untuk segera membangun MMB. Tak hanya itu, pembangunannya pun diminta harus tuntas dalam dua tahun, dimulai sejak 2020 mendatang.

Di sisi lain, MMB bakal menjadi kebanggaan masyarakat Nyiur Melambai. Apalagi lokasinya yang akan dibangun di pelabuhan Manado, jadi icon baru bagi ibukota Provinsi Sulut.

Direksi PT Pelindo IV mengapresiasi General Manager (GM) Cabang Manado, John Lapod, yang menjadi konseptor MMB. Sebagai putra asli Kawanua, dirinya sangat berkomitmen untuk kemajuan daerah dan pariwisata.

Selain meminta Pelindo IV segera membangun MMB, orang nomor satu di Republik Indonesia ini juga meminta agar BUMN yang bergerak dibidang jasa kepelabuhanan ini kembali menyiapkan rute Bitung-Davao untuk ekspor Iangsung ke Filipina dari wilayah di Sulawesi Utara (Sulut) tersebut.

Direktur Utama PT Pelindo IV, Farid Padang mengatakan bahwa rencana membangun MMB dan persiapan rute Bitung-Davao sudah disampaikan kepada Menteri BUMN Rini Soemamo dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

“Bahkan (Pelindo IV) sudah menyiapkan master plan MMB. Pembangunan tersebut untuk mendukung program pariwisata yang terintegrasi,” kata Farid, Senin (8/7) kemarin.

Keseriusan Pelindo IV untuk membangun MMB dan menyiapkan rute Bitung Davao juga nampak dari koordinasi intens yang sudah dilakukan dengan pihak Pemprov Sulut maupun Pemkot Manado dan Pemkot Bitung.

“Kami targetkan rencana membangun (Manado Marine Bay) tuntas dalam dua tahun sejak konstruksi pada 2020 nanti. Hal itu sesuai dengan yang diharapkan Presiden Jokowi," ujamya.

Menurutnya, pembangunan Manado Marine Bay yang berada dalam kawasan wisata Taman Laut Bunaken, dalam rangka mendukung program Pemerintah Kota Manado sebagai Kota Pariwisata dan Kota Penyelenggara Kegiatan Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE).

Selain membangun MMB, BUMN kepelabuhanan ini juga akan melakukan pengembangan Pelabuhan Manado, yakni membangun dermaga 4 ukuran 6 x 10 meter persergi, pengerukan kolam pelabuhan kedalaman -4 LWS, pembangunan terminal penumpang dengan Iuas 1.600 meter persegi dan lapangan penumpukan seluas 2.150 meter persegi.

Sementara itu Ianjut Farid, pihaknya juga siap mendukung kegiatan ekspor langsung dari Bitung ke Filipina melalui Davao, dengan segera menyiapkan rute Bitung-Davao.

Pelindo IV sendiri sudah pemah menyiapkan rute Bitung Davao untuk ekspor langsung ke Filipina, menggunakan Super Shuttle RoRo 12. Ketika itu, Jokowi bersama Presiden Filipina, Rodrigo Duterte melepas kapal RoRo tersebut untuk menempuh pelayaran perdana dari Davao menup PeIabuhan Bitung, pada 30 April 2017 silam.

Pembukaan rute Davao-Bitung saat itu seakan menjadi pelepas dahaga karena ekspor Sulut sebelumnya dilakukan memutar, lewat Jakarta lalu singgah ke Singapura sebelum melawat ke Manila hingga akhimya ke Davao. Tercatat, total ekspor Sulut ke Filipina, sebelum pembukaan rute Davao-Bitung, mencapai US$23,82 juta.

Untuk diketahui, rute Bitung-Davao sendiri merupakan bagian dari Master Plan Konektivitas ASEAN dan cetak biru dari me East Asean Growth Area yang sudah dirintis sejak 1994. Inisiatif ini melibatkan empat negara ASEAN, yakni Indonesia, Brunei, Malaysia dan Filipina.

Saat itu, Kementerian Perhubungan mengestimasi bahwa waktu tempuh rute Davao-General Santos-Tahuna-Bitung hanya mencapai delapan hari dengan ongkos US$550 per TEUs. Waktu dan biaya inl jauh lebih irit dibandingkan dengan jalur konvensional Bitung ke Manila yang mencapai lima minggu dengan biaya US$2.000 per TEUs.

Kemenhub juga bahkan meminta kepada pihak Pelindo IV agar memberikan diskon khusus untuk pelayaran Bitung Davao. “Dan (kami) pada prinsipnya setuju untuk memberikan insentif berupa (diskon khusus) tersebut," tukas Farid.

Dia menambahkan, sebagai pemicu untuk meningkatkan volume ekspor ke Filipina dan sebaliknya, harus ada barang balik berupa kebutuhan rumah tangga dan elektronik yang dapat langsung dikirim dari Filipina ke Bitung, sehingga rute tersebut akan menjadi kontinyu. (***)


Komentar