Stok Listrik Suluttenggo Aman, Pembangkit EBT dan IPP Digedor


Manado, MS

Cadangan listrik Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Tengah (Suluttenggo) dipastikan surplus. Pembangkit energi baru terbarukan (EBT) dan Independent Power Plant (IPP) yang diinisiasi PLN Suluttenggo, suntik energi tambahan. 

Hal itu mencuat pada kegiatan Multi Stakeholder Forum 2019 bertajuk ‘Bersama Menerangi Negeri‘ di Hotel Four Points Manado, Kamis (27/6). Kegiatan ini diinisiasi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero Unit Induk Wilayah (UIW) Suluttenggo bersama PT PLN Persero Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi Bagian Utara (Sulbagut).

Dijelaskan pada forum itu, tambahan energi untuk mendongkrak sistem kelistrikan Suluttenggo, berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Likupang yang berkapasitas 21 Megawatt (MW) dengan jumlah kontrak ke PLN 15 MW. Selanjutnya, PLTS Gorontalo di Isimu berkapasitas 10 MW. Dengan demikian ada sekira 25 MW akan masuk di tahun 2019. Kemudian, beberapa proyek pembangkit yang sudah ditetapkan dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019-2028. Contohnya, Independent Power Plant (IPP) berkapasitas 2x50 MW di Kema, Minahasa Utara (Minut) dan IPP 2x50 MW di Boroko, Bolaang Mongondow Utara (Bolmut). Itu akan masuk sistem pada tahun 2021.

“Pembangkit listrik dan IPP, tujuanya untuk memenuhi kebutuhan maupun meningkatkan cadangan daya listrik dari tahun ke tahun. Saat ini cadangan listrik di Sulbagut secara total mencapai  23 persen. Di tahun 2021, akan ada beberapa pembangkit yang akan masuk, seperti PLTU Sulut 3 dengan kapasitas 2x50 MW dan PLTU Sulbagut 1 dengan kapasitas 2x50 MW. Dengan begitu,  cadangan daya diharapkan mencapai 58 persen,” aku General Manager (GM) PLN UIP Sulbagut, Sigit Witjaksono.

"Selain itu, kita juga akan imbangi dengan pembangunan gardu induk dan GIS (Gas Insulated Switcher) di Manado," sambung dia.

Sebelumnya, GM PLN UIW Suluttenggo, Christyono menjelaskan, tujuan kegiatan Multi Stakeholder Forum 2019, untuk membahas isu strategis PLN. Bagi dia, PLN juga membutuhkan feedback maupun saran dari pelanggan guna meningkatkan pelayanan PLN ke depannya. “Melalui Multi Stakeholder Forum ini, kami mengharapkan adanya kolaborasi atau kerjasama antara PLN dengan seluruh pemangku kepentingan serta mitra kerja PLN agar bersama-sama kita menerangi hingga ke ujung negeri. Saran maupun kritik kami terima sebagai koreksi guna perbaikan layanan PLN ke depan,” tutur Christyono.

Dia pun mengakui jika program PLN saat ini telah sejalan dengan program Pemprov Sulut. Itu terkait peningkatan pertumbuhan ekonomi. Sebab, meningkatnya konsumsi listrik akan berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat. ”Salah satu indikator pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat dilihat dari konsumsi litrik (kWh) per kapita. Kami PLN berusaha semaksimal mungkin untuk menyediakan dan menyalurkan energi listrik bahkan hingga ke daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal). Memang, daerah kepulauan merupakan tantangan bagi PLN untuk menyalurkan listrik, kami sedang menyusun program pembangkit energi hybrid yaitu energi baru terbarukan energi surya dengan diesel. Yang nantinya akan diterapkan di daerah kepulauan,” kata dia.

Masih Christyono, peningkatan pelayanan akan terus dilakukan PLN. Salah satunya dengan penjabaran program layanan satu pintu. Hal ini berkaitan dengan kemudahan pelanggan dalam mendapatkan energi listrik. Contohnya proses pasang baru atau tambah daya listrik, sekaligus pengurusan SLO (Sertifikat Laik Operasi) untuk pemasangan instalasi kelistrikan di dalam bangunan. “Program layanan satu pintu dan berbagai diskon tambah daya, kini PLN hadirkan kepada pelanggan. Hal ini agar memudahkan pelanggan dalam mendapatkan listrik serta keringanan dengan potongan harga yang diberikan,” pungkas Christyono

Diketahui, kegiatan Multi Stakeholder Forum 2019 dihadiri stakeholder utama PLN yaitu pemerintah provinsi, akademisi, perbankan, mitra kerja dan perwakilan pelanggan.(yaziin Solichin)


Komentar