Rawan Kecelakaan, Jalur Gunung Potong ‘Angker’

Dari Human Error Hingga Kisah Mistis


Laporan : RECKY KOROMPIS

 

Kawasan pintu gerbang Minahasa Tenggara (Mitra) dari arah Minahasa, tepatnya di kawasan Gunung Potong, kerap menjadi buah bibir dari pengendara yang sering melintas. Tingginya angka kecelakaan di rute ini jadi penyebab. Tak heran, beragam cerita pun berkembang menanggapi pemicu banyaknya peristiwa kecelakaan yang terjadi di lokasi ini. Mulai dari faktor kondisi jalan yang rawan hingga kisah berbau mistis.

Toni, salah seorang sopir asal Tombatu yang sering melintas di rute ini mengaku jika beberapa titik di kawasan Gunung Potong memang terasa angker baginya. Tak hanya di malam hari, kondisi itu juga kerap dirasakannya siang hari.

"Namanya juga sopir, di setiap perjalanan memang sering merasakan ada lokasi yang angker. Salah satunya di wilayah Gunung Potong ini. Mungkin hanya perasaan saja, tapi memang tiap kali melewati tikungan sekitar 200 meter ke bawah dari pos kehutanan, saya kadang merasa suasananya seperti lain," tuturnya.

Toni bahkan ikut berbagi pengalaman mistis saat melintasi lokasi tersebut. Mobil yang dikendarai hampir ke luar badan jalan dan terperosok ke jurang.

"Memang bagi sebagian orang mungkin dianggap mengada-ada, tapi memang di lokasi itu saya pernah mengalami peristiwa yang hampir membuat saya dan penumpang kecelakaan. Saat itu dari Manado, dan sekitar pukul 1 siang melintas di lokasi itu. Pas di tikungan yang sering kecelakaan itu saya tiba-tiba banting setir ke kiri karena seperti ada orang yang melintas. Untung kendaraan yang saya bawa tidak terlalu cepat sehingga masih terkontrol sehingga tidak out. Pas mobil berhenti dan saya cek ternyata tidak ada orang di sekitar situ," ujarnya lagi.

BACA JUGA : Jalur ‘Angker’ Perlu Dilingkar Guard Rail

Selain Toni, berbagai kisah mistis di lokasi tersebut memang kerap terdengar. Apalagi angka kecelakaan di lokasi tersebut memang cukup tinggi. Namun tak semua pengendara beranggapan seperti itu. Sebagian memilih berlogika normal.

Stenly, salah satu pengendara yang kerap melintasi kawasan Gunung Potong menyebut bahwa pemicu kecelakaan diakibatkan faktor human error dan kondisi rute yang memang dinilai rawan. "Tikungan di kawasan gunung potong itu memang cukup banyak dan tajam. Apalagi kalau hujan jalannya licin, ditambah ruas jalannya yang lebar membuat pengendara sering kebut-kebutan. Sehingga jika sopir kurang kontrol maka kecelakaan akan sulit terhindarkan," katanya.

"Jadi kalau saya, dari pada berpikiran yang mistis lebih baik berhati-hati, semua rute itu rawan kalau kita selama berkendara kurang kontrol, misalnya karena faktor lelah, ngantuk dan sebagainya," ujarnya lagi.

Di balik berbagai versi yang ada, faktanya angka kecelakaan di jalur Gunung Potong memang terbilang tinggi. Baru-baru ini, rute tersebut kembali makan korban. Kendaraan Daihatsu jenis pick up bernomor polisi DB 8892 BD, yang mengalami kecelakaan pada akhir pekan lalu. Tak adanya pembatas jalan diduga kuat mengharuskan kendaraan milik Marvil Keso asal Tondano Minahasa, terjun bebas pada salah satu sisi curam jalur tersebut.

Informasi dihimpun, kendaraan pick up dikemudikan Endro Sigar (25) menyusuri jalur Gunung Potong yang basah dan cuaca hujan rintik-rintik, dari arah Langowan menuju Ratahan, Sabtu (15/6) sekira pukul 07.00 Wita.

Saat sedang melintas di kawasan tersebut, Endro dikagetkan dengan adanya kendaraan roda dua dari arah berlawanan, hendak melambung kendaraan roda empat yang ada di depannya. Endro secara refleks langsung banting setir guna menghindari peluang terjadinya tabrakan.

Naas yang dialami, kendaraan yang dikemudikannya tak mampu dikendalikan dan langsung menuju ke jurang disamping kiri jalan menuju Ratahan. Parahnya lagi, tak ada pagar pembatas disekitar lokasi kejadian, membuat kendaraan harus terjun bebas ke jurang sedalam 15-20 meter tertahan rumpun pohon bambu.

Akibatnya, Endro harus dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Umum Tondano untuk mendapatkan perawatan karena mengalami benturan pada bagian dada. "Saat tiba dilokasi sudah tak ada lagi orang di kendaraan beserta kuncinya, demikian juga surat-surat kendaraan bermotor," ungkap Kapolres Minsel melalui Kapolsek Urban Ratahan Kompol Ronny Tumalun.

"Kami mencoba mengecek adanya korban di RS Noongan dan RS Budi Setia Langowan namun nihil. Ternyata korban dirawat di RS Tondano menurut pemilik kendaraan Marvil Keso," sambung mantan Kapolsek Langowan itu. (***)


Komentar