POSISI DEMOKRAT AMAN BUKAN ‘EFEK EKOR JAS’ PRABOWO-SANDI

Lolos Parliamentary Threshold di Survei


Jakarta, MS

Sederet partai petahana di senayan terancam. Itu menyusul hasil survei sejumlah lembaga riset nasional terhadap elektabilitas partai politik (parpol) yang akan tarung di pemilihan umum (pemilu) 17 April 2019. Teranyar, survei dari Charta Politika.

Dari hasil survey disebutkan hanya 7 parpol yang bisa lolos ambang batas parlemen atau parliamentary threshold 4 Persen. Masing-masing, PDIP, Gerindra, Golkar , PKB, Demokrat, NasDem dan PKS.

Sedangkan 9 parpol lainnya, masih masuk zona merah atau tidak aman. Termasuk diantaranya, parpol petahana, seperti PAN, PPP, dan Hanura.  Sementara perolehan suara terbesar dipegang oleh PDIP.

Setidaknya, dari 7 parpol yang disurvei lolos ke senayan, empat diantaranya, yakni PDIP, Golkar, Nasdem dan PKB pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden, Joko Widodo-Ma’ruf Amin (Jokowi-Amin). Dan tiga parpol lainnya, Gerindra, Demokrat, serta PKS pendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Prabowo-Sandi).

Dukungan terhadap capres kerap dijadikan pijakan untuk mendongkrak peningkatan elektabilitas partai atau biasa disebut Coattail Effect (Efek Ekor Jas) . Namun ternyata, tidak bagi Partai Demokrat (PD). Partai berlambang Bintang Mercy itu meyakini, elektabilitas PD yang tetap berada di zona aman, itu bukan karena Coattail Effect Prabowo-Sandi.

Hal itu diungkap Waketum PD Syarief Hasan menyikapi hasil survey survei Charta Politika yang merilis elektabilitas PD berada di angka 5,2 persen. Ia pun mengaku sedari awal PD telah menyadari dukungan Prabowo-Sandi tidak akan mendongkrak elektabilitas partai.

Elektabilitas PD terdongkrak disebut karena figur Ketua Umum, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) serta kerja keras dari para caleg usungan partai.  "Bagi PD, (Prabowo-Sandiaga) tidak berefek apa pun, karena di lapangan memang demikian. Yang memberikan efek kepada PD itu kader PD sendiri, sosok SBY, kemudian sosok AHY (Agus Harimurti Yudhoyono), kerja keras caleg," ujar Syarif kala dimintai keterangan di Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (4/4) kemarin.

Partainya juga meyakini akan ada peningkatan elektabilitas dengan kenaikan minimal 4 persen. "Kalau menyangkut masalah survei, kami lakukan survei internal dari lembaga survei kredibel. Kau sekarang di posisi 7,2 persen," bebernya.

"Jadi, saya yakin (pada Pemilu) 2019, Partai Demokrat akan eksis lagi minimal 10 persen, syukur (jika) dekat dengan target 15 persen," imbuhnya.

Penyataan Syarif selaras dengan hasil survei Charta Politika menempatkan PD di posisi lima dengan perolehan angka sama dengan NasDem yakni 5,2 persen. Masyarakat memilih Demokrat karena sosok dari SBY.

"Alasan paling banyak memilih PD, karena figur ketua SBY sebanyak 11,5 persen. Terkait caleg-caleg partai 3,8 persen, dan karena mengusung Prabowo-Sandiaga 3,8 persen," terang Direktur Riset Charta Politika, Muslimin, Kamis kemarin.

Survei ini digelar pada 19 Maret sampai 25 Maret 2019 dengan metode multistage random sampling. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 2.000 responden yang tersebar di 34 provinsi. Sedangkan, margin of error survei sebesar +/- 2,19 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

ELEKTABILITAS PDIP DAN GERINDRA MEROKET

Angin segar terus menerpa PDIP dan Partai Gerindra. Jelang Pemilu 2019, elektabitas kedua partai it uterus mengalami trend kenaikan. Seperti hasil teranyar lembaga survey Charta Politika Indonesia.

"PDIP dari sisi tren terus naik. 2014 hanya 18,9 persen tapi sekarang 25,3 persen," ungkap Direktur Riset Charta Politika Indonesia, Muslimin di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (4/4) kemarin.

“Sama halnya dengan Partai Gerindra. Dari 11,8 persen di tahun 2014 terus naik per tahun 2019 hingga 16,2 persen,”sambungnya.

Meski begitu, tren kenaikan tidak dialami oleh semua partai. Semisal Partai Golkar yang ditahun 2014 14,7 persen turun menjadi 11,3 persen. Meski begitu, PDIP, Partai Gerindra, dan Partai Golkar tetap menempati posisi teratas dalam survei.

Kemudian disusul  PKB dari 9,0 persen menjadi 8,5 persen, Partai Demokrat dari 10,2 persen menjadi 5,2 persen, Partai Partai Nasdem dari 6,7 persen menjadi 5,2 persen dan  PKS dari 6,8 persen menjadi 5,0 persen.

“Ada empat partai yang masih bersaing ketat untuk memperebutkan posisi keempat dan kelima yakni PKB, Partai Demokrat, Partai Nasdem, dan PKS,” timpalnya.

Hasil survei Charta Politika yang menempatkan PDIP teratas dalam survei elektabilitas parpol peserta pemilu, direspon Politikus PDIP Masinton Pasaribu. Ia menilai capaian tersebut sebagai hasil kerja seluruh elemen partai.

"Ini buah kerja dari seluruh elemen partai. Ada tiga pilar, elemen struktural partai, petugas partai di eksekutif dan legislatif. Kita padukan tiga unsur tadi," kata Masinton kepada wartawan di Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis kemarin.

"Dari beberapa gempuran serangan PKI-lah, dituduh anti-Islam, dan lain-lain, koruplah. Kami terima kasih, di tengah gempuran isu hoaks dan propaganda kencang, rakyat masih berikan dukungan dan kepercayaan politik kepada PDIP," sambungnya.

Masinton mengklaim survei Charta Politika tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan lingkup internal PDIP. Partai berlambang banteng moncong putih itu optimistis akan menang dalam Pemilu 2019.  "PDIP stabil dari berbagai survei. Internal tidak jauh beda dengan survei dari Charta Politika," imbuhnya.

Sementara Gerindra mengganggap hasil survei Charta Politika yang menempatkan partai besutan Prabowo Subianto di posisi kedua sebagai pelengkap survei internalnya.

"Sepertinya halnya survei capres, kami memperlakukan hasil survei eksternal sebagai inti tambahan dan pembanding dari survei internal kami," kata Ketua DPP Gerindra Sodik Mudjahid, Kamis kemarin.

Menurut Sodik, Gerindra bergantian dengan PDIP dalam menempati posisi pertama dan kedua di berbagai lembaga survei. Sodik yakin Gerindra akan menempati posisi pertama di Pileg 2019 nanti. "Perhitungan setelah hari H pencoblosan, sangat berpeluang Gerindra menjadi nomor 1 secara nasional," tandasnya.

PAN CS ‘TERJUN BEBAS’

Yang cukup mengejutkan, sederet parpol petahana di senayan, masuk zona merah. Seperti PAN yang dari 7,6 persen, turun  menjadi 3,3 persen. Begitu pula PPP, dari 6,5 persen menjadi 2,4 persen.

Grafik partai berlambang Ka’bah terus mengalami penurunan.  "Partai lama yang relatif turun, yaitu PPP. PPP kalau dilihat angkanya dari 4,3 (22 Desember 2018-2 Januari 2019); kemudian 3,6 kemudian (sekarang) 2,4 persen," beber Direktur Riset Charta Politika Indonesia, Muslimin Kamis kemarin.

Penangkapan Ketua Umum PPP, Romahurmuziy oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus indikasi jual beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag), diduga menjadi salah satu faktor pemicunya. "Kebetulan survei kita dilakukan saat OTT. Penurunan ini sedikit banyak berpengaruh karena ketumnya terkena OTT," ungkapnya lagi.

PAN dan PPP disusul PSI 2,2 persen, Partai Perindo 2,0 persen dan Hanura 1,0 persen. "Partai yang di bawah 5 persen ini kita anggap agak susah untuk lolos di Senayan. PAN, PPP, PSI, Perindo, Hanura, dan PBB. Mereka mampu masuk ke parlemen jika bisa memperebutkan suara undecided voter dan swing voter," timpalnya.

 

Itu menyusul hasil survei Charta Politika yang memiliki margin of error sebesar 2,19 persen dengan responden yang tidak menentukan pilihan sebesar 11,7 persen. "Saya kira partai partai itu punya peluang lolos dengan catatan partai ini mampu mengambil sisa suara," Muslimin menandaskan.

PPP sendiri menepis indikasi Charta Politika yang menyebut penurunan elektabilitas partai terkait, OTT Romahurmuziy.

"Tidak (terkait dengan kasus Romahurmuziy). Kenapa tidak dibandingkan dengan hasil survei Indo Barometer (4,6 persen) dan Polmark (4,2 persen) yang pelaksanaan surveinya sama. Di situ patut kita pertanyakan," kata Wasekjen PPP Ahmad Baidowi kepada wartawan, Kamis kemarin.

Ia pun menegaskan perolehan elektabilitas PPP di bawah 4% tidak terkait kasus yang menimpa Romahurmuziy. "Pada rentang waktu yang sama, kok hasil surveinya berbeda. Artinya, tidak ada pengaruh kasus Pak Rommy," imbuhnya.

Sementara Partai Hanura, tetap optimis lolos ke parlemen, meski diprediksi tak lolos parliamentary threshold berdasarkan survei Charta Politika.

"Harus dong (optimistis). Sejak Hanura ikut pileg dari tahun 2009, 2014, dan 2019 ini, Hanura diprediksi oleh berbagai lembaga survei selalu tidak lolos PT. Tapi alhamdulillah pada tahun 2009 dan 2014 Hanura lolos ke Senayan," kata Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah Zubir kepada wartawan, Kamis kemarin.

Menurut Inas, lembaga survei hanya melakukan survei terhadap bendera partai, bukan kepada caleg. Karena itulah, Inas yakin kemenangan Hanura akan terulang pada Pileg 2019 ini.

"Hanura selalu menempatkan tokoh-tokoh masyarakat setempat sebagai caleg dan merekalah yang pada 2009 dan 2014 berkontribusi untuk suara Partai Hanura. Oleh karena itu, insyaallah akan terulang kembali pada tahun 2019 ini," tandasnya.

Optimisme serupa didendangan PSI. Salah satu parpol yang diprediksi tak lolos ke parlemen berdasarkan hasil survei Charta Politika tetap yakin lolos di parlemen.

Peluang dari margin of error dijadikan acuan. "Charta juga katakan 2 parpol berpeluang lolos parlemen, salah satunya PSI. Jadi bisa saja dengan menghitung margin of error, kami akan masuk ke DPR dengan angka 4 persen. Kami tetap optimis karena berbagai lembaga survei tunjukkan survei kami terus membaik," kata Ketua DPP PSI Tsamara Amany, Kamis kemarin.

Menurut Tsamara, banyak parpol yang diprediksi tak lolos parliamentary threshold namun akhirnya lolos. Ia menegaskan PSI akan terus bekerja keras dengan menggencarkan kampanye door to door.

"Di sisa waktu ini, kami akan terus kerja keras menyapa masyarakat dan door to door campaign. Efektif karena membangun bonding dengan pemilih. Kami akan terus kerja keras sampai 17 April," pungkasnya.(dtc/mrc)


Komentar