POSO KEMBALI TEGANG


Poso, MS

Stabilitas keamanan di wilayah Poso, Sulawesi Tengah, belum sepenuhnya stabil. Eksistensi kelompok militan yang diduga terafiliasi dengan gerakan teroris internasional terus menghantui masyarakat. Upaya memburu oknum-oknum terlibat gencar dilakukan aparat gabungan TNI-POLRI. Teranyar, aksi baku tembak antara tim Satgas Tinombala dan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) dilaporkan kembali terjadi Minggu (3/3) sore. Satu anggota MIT dikabarkan tewas.

Informasi yang dirangkum, baku tembak terjadi setelah Satgas Tinombala menerima laporan masyarakat bahwa ada 5 anggota MIT yang masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) sedang beristirahat di sebuah pondok.  Upaya penggerebekan berujung aksi kejar mengejar antara aparat dan anggota kelompok MIT hingga ke Desa Padopi.

Kabar tersebut dibenarkan Asisten bidang Operasi (Asops) Polri, Irjen Rudi Sufahriadi. "Betul telah terjadi kontak senjata antara Satgas Tinombala, yang terdiri dari tim gabungan TNI-Polri, dengan kurang lebih 5 orang DPO kelompok MIT di Perkebunan Padipi, PPS, Poso. Pagi tadi Satgas menerima laporan dari masyarakat bahwa ada 5 orang DPO MIT beristirahat di sebuah pondok. Satgas melakukan pengejaran, kemudian mendapat info lagi para DPO ke arah Desa Padopi," kata Rudi, Minggu (3/2).

Dia menyatakan baku tembak antara tim Satgas Tinombala dengan buronan MIT itu terjadi sore. Jenazah anggota MIT yang tewas kini telah dievakuasi untuk keperluan identifikasi. "Satgas Tinombala berhasil melumpuhkan satu orang DPO MIT. Saat ini jenazah pelaku dievakuasi dari gunung untuk nantinya diidentifikasi oleh DVI Polda Sulteng," ucapnya.

 

UPAYA PERSUASIF GAGAL

 

MIT diketahui merupakan salah satu kelompok militan yang bergerilya di wilayah pegunungan Poso.  Kelompok ini dicap sebagai ancaman terhadap negara. Mereka juga telah menyatakan kesetiaan terhadap jaringan teroris ISIS.

Pimpinan MIT sebelumnya, Santoso, tewas dalam baku tembak bersama aparat pada 18 Juli 2016 silam. Kini MIT dikendalikan Ali Kalora, oknum yang saat ini gencar diburu TNI-POLRI.

Rudi menyebut bahwa baku tembak yang terjadi Minggu kemarin merupakan tindak lanjut dari ultimatum Satgas Tinombala yang dipimpin oleh Kapolda Sulawesi Tengah, Brigjen Lukman Wahyu Hariyanto. Menurut dia, tim Satgas Tinombala sebelumnya telah meminta para anggota MIT untuk menyerahkan diri.

“Permintaan itu (menyerahkan diri) tidak diindahkan sehingga dilakukan pengejaran yang berujung kontak senjata,” ujarnya.

Rudi mengakui, sejak Desember hingga Januari, aparat telah mengedepankan tindakan persuasif dengan meminta para DPO menyerahkan diri. Setelah ultimatum tidak diindahkan, Satgas Tinombala melakukan pengejaran dengan fokus pada 4 titik.

“Pengejaran dilakukan secara sistematis dan masif. Kini satgas juga melanjutkan kegiatan pengejaran terhadap para DPO lainnya," katanya lagi.

Hal ini ikut dibenarkan Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo. Kata dia, Satgas Tinombala tetap mengimbau kelompok Ali Kalora segera menyerahkan diri. Mereka dibujuk lewat keluarga masing-masing.

"Upaya persuasif juga terus dilakukan pada keluarga dan selalu mengimbau pada pihak keluarga jika ada komunikasi dengan para kelompok Mujahidin Indonesia Timur untuk segera menyerahkan diri," tandasnya.

 

BERGERILYA DI JALUR POSO-PARIGI MOUTONG

 

Satgas Tinombala terus memburu kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora. Kelompok ini disinyalir terus bergerak di jalur pegunungan dengan berpindah-pindah.

 

"Dari hasil pengejaran Satgas Tinombala sudah semakin mendeteksi keberadaan kelompok Ali Kalora, dia berada di jalur Poso-Parigi Moutong," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, belum lama ini.

Dedi mengatakan anggota yang tersisa dalam kelompok itu bergerak secara terpisah. Posko yang ditemukan diduga jadi tempat terakhir mereka berkumpul.

"Pola geraknya tetap terpisah, jadi beberapa bagian ada yang 4 ada yang 5 orang," ujarnya.

Di posko yang ditemukan pada awal Februari lalu, kata Dedi, ditemukan sejumlah benda termasuk senjata tajam. Beberapa pakaian yang ditinggal Ali Kalora Cs juga disita.

"Barangnya cukup banyak mulai dari baju, peralatan kesehatan, senjata tajam, alat komunikasi, alat-alat penerangan, alat masak, perbekalan logistik, semua sudah dilakukan penyitaan," ucapnya.

Selain itu, Satgas Tinombala tetap mengimbau kelompok Ali Kalora segera menyerahkan diri. Mereka dibujuk lewat keluarga masing-masing.

"Upaya persuasif juga terus dilakukan pada keluarga dan selalu mengimbau pada pihak keluarga jika ada komunikasi dengan para kelompok Mujahidin Indonesia Timur untuk segera menyerahkan diri," pungkasnya.

 

ULTIMATUM POLRI

Sebelumnya, POLRI telah menegaskan perburuan terhadap kelompok radikal Ali Kalora terus dilakukan oleh Satgas Tinombala, gabungan TNI-POLRI. Ali cs juga telah dihimbau untuk menyerahkan diri dengan tenggat 29 Januari 2019. Namun imbauan itu tidak diindahkan. Polri menegaskan langkah selanjutnya adalah menyerbu Ali dan kelompoknya. Bahkan pihak kepolisian menyatakan tak ragu mengambil tindakan tegas jika Ali Kalora cs mengancam keselamatan personel Satgas.

 

"Ketika mengancam petugas dan masyarakat, tidak ada cara lain, hard approach, bahkan tindakan mematikan," kata Kadiv Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal di Mabes Polri, belum lama ini.

Iqbal menjelaskan tindakan mematikan itu bersifat situasional manakala petugas terdesak. Namun Satgas Tinombala tetap mengedepankan proses hukum yang berlaku.

"Kami kejar terus. Hard approach sangat ditentukan di lapangan. Itu sangat tergantung ancaman seketika. Tapi Ali Kalora pelaku kriminal, kami kedepankan tangkap dan proses hukum," ujar Iqbal.

 

Kelompok Ali Kalora sebelumnya muncul di Desa Salubanga, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, akhir Desember 2018. Mereka menembaki dua polisi, yaitu Bripka Andrew Maha Putra dan Bripda Baso, yang tengah mengevakuasi tubuh seorang penambang yang jadi korban pembunuhan. Bripka Andrew dan Bripda Baso selamat dari penembakan tersebut.

Kasus pembunuhan terhadap penambang itu diketahui warga pada akhir Desember 2018. Warga menemukan kepala manusia terpenggal dan diletakkan di jembatan desa. Pelaku pembunuhan, berdasarkan keterangan saksi kunci, diyakini adalah Ali Kalora cs.

Kelompok Ali Kalora, berdasarkan hasil penyelidikan satgas, terdiri atas 14 anggota, termasuk Ali. Di antara 14 orang tersebut, 7 merupakan rekrutan baru, sedangkan 7 lainnya adalah ‘produk’ Abu Wardah alias Santoso. (dtc)


Komentar